Tanggung Jawab Founder dan Cofounder dalam Perusahaan, Apa Saja?

Share this Post

founder
Table of Contents

Sebuah organisasi atau perusahaan terdiri dari banyak sumber daya manusia yang bertanggungjawab untuk operasionalnya. Salah satu yang memiliki peran penting ialah seorang founder.

Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia, founder ialah pendiri. Itu artinya, founder merupakan pendiri bisnis. Dialah sosok yang merintis usaha dari awal sebelum tim lain terbentuk dan semakin berkembang.

Kiprah seorang pendiri berawal dari penemuan mereka terhadap ide bisnis. Tentu saja, tanggungjawab pendiri sangatlah besar bagi sebuah bisnis. Sebab di awal mula pendirian bisnis, mereka harus bisa mengelola semuanya.

Seorang pendiri bisnis bisa saja hanya terdiri dari satu individu, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga terdiri dari beberapa orang dengan satu tujuan bersama.

Lebih lanjut, berikut penjelasan seputar pendiri bisnis yang perlu kamu pahami. Baca artikelnya sampai habis, ya.

Baca Juga: Daftar CEO Muda Indonesia yang Penuh Inspirasi

Perbedaan Founder dan CEO

Tanggung Jawab Founder dan Cofounder dalam Perusahaan, Apa Saja?
Foto Presentasi Bisnis (Unsplash.com)

Seorang pendiri tak jarang disamakan dengan posisi CEO (Chief Executive Officer). Padahal, kedua posisi ini memiliki peran yang berbeda di perusahaan.

Lalu, apa perbedaan founder dan CEO? Jika dilihat dari pengertiannya, CEO adalah eksekutif dengan peringkat tertinggi dalam bisnis. Biasanya, mereka bekerja dengan pendiri untuk menjalankan strategi dan visi bisnis.

Dikutip dari laman RingCentral, seorang CEO bisa juga merupakan founder yang mendirikan bisnis. Namun, meskipun setiap bisnis memiliki pendiri, tidak setiap pendiri juga harus menjadi CEO.

Walau keduanya memiliki peran yang penting dalam sebuah organisasi bisnis, akan tetapi pendiri dan CEO bukanlah hal yang sama.

Salah satu perbedaan founder dan CEO bisa kamu lihat dari peran atau tanggung jawabnya di perusahaan.

Biasanya, CEO ditunjuk oleh dewan komisaris atau sekelompok orang untuk mengawasi kinerja perusahaan.

Nah, peran CEO atau sering juga disebut sebagai direktur perusahaan ialah pemimpin yang mengimplementasikan strategi perusahaan.

Sementara itu, pendiri merupakan orang yang pertama kali memiliki ide untuk mendirikan perusahaan. Seorang pendiri bisnis bisa memiliki peran ganda sebagai CEO atau menunjuk sosok profesional untuk membantunya dalam mengelola organisasi/perusahaan.

Baca Juga: 9 Pengusaha Muda Indonesia Inspiratif, Apa Saja Bisnisnya?

Tanggung Jawab Seorang Founder

tanggung jawab founder
Foto Siluet Pebisnis (Sumber: Pexels.com)

Lantas, apa saja tanggung jawab seorang pendiri bisnis? tentu saja ada banyak. Berikut daftar peran seorang pendiri perusahaan yang perlu kamu ketahui:

1. Mengembangkan Rencana Bisnis

Salah satu peran pendiri bisnis di organisasi ialah bertugas untuk mengembangkan rencana usaha.

Rencana usaha memiliki peran yang penting untuk menentukan kesuksesan sebuah bisnis. Oleh karenanya, seorang pendiri perlu menyusun perencanaan bisnis yang matang.

Beberapa hal penting yang perlu ada di dalam perencanaan usaha ialah deskripsi model bisnis, analisis pasar, rencana operasional, strategi pemasaran, dan rencana keuangan yang terperinci.

2. Menentukan Visi dan Misi Perusahaan

Tanggung jawab seorang pendiri lainnya ialah menentukan visi dan misi perusahaan.

Visi dan misi dalam organisasi berperan penting agar karyawan dan anggota tim yang ada di dalam perusahaan selaras dengan tujuan utama yang telah ditetapkan.

Bagi kamu yang belum tahu, visi merupakan deskripsi yang menjelaskan tujuan perusahaan. Biasanya, visi menggambarkan apa saja yang ingin diraih perusahaan.

Sementara misi adalah deskripsi rencana yang ingin dilakukan perusahaan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan sebelumnya. Umumnya, misi mendeskripsikan fungsi dan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan sehari-harinya.

3. Membentuk Direksi Organisasi

Tanggung jawab pendiri selanjutnya yang dikutip dari laman HubSpot yaitu membentuk direksi untuk membantu pengelolaan bisnis sehingga bisa mencapai tujuan.

Seorang pendiri harus bisa membentuk badan atau dewan pengatur agar operasional bisnis dapat berjalan sesuai dengan rencana.

Setelah penempatan badan atau dewan, seorang pendiri bisnis harus mengawasi hubungan mereka dengan perusahaan.

Mereka harus mengimplementasikan rencana bisnis dengan baik agar tujuan yang telah ditetapkan bisa tercapai sesuai harapan.

4. Merekrut Karyawan dan Tim Eksekutif

Peran pendiri perusahaan berikutnya yaitu merekrut karyawan dan tim eksekutif untuk keperluan mengelola bisnis.

Hal ini karena seorang pendiri bertanggungjawab untuk membentuk tim yang bisa mewujudkan visi perusahaan dengan misi yang telah ditetapkan.

Karyawan yang direkrut meliputi tim eksekutif yang dapat mengawasi aspek-aspek penting bisnis, serta staf pendukung dan karyawan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan produk dan memberikan penawaran akhir kepada pelanggan.

5. Menyediakan Pendanaan Awal

Seorang pendiri juga bertanggungjawab atas pendanaan awal agar perusahaan bisa memulai bisnis dan mewujudkan tujuannya.

Dalam hal ini, bisa berasal dari uang atau aset pribadi sang pendiri untuk mendanai biaya bisnis awal sampai perusahaan mulai memperoleh pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya operasional.

Bisa juga dari mengajukan pinjaman atau pembiayaan, mengajukan hibah, atau mencari modal ventura.

Baca Juga: 11 Karakteristik Pengusaha yang Harus Kamu Miliki

Skill yang Dibutuhkan oleh Founder

skill seorang founder
Foto Pimpinan Rapat (Pexels.com)

Selain mengetahui apa saja tanggung jawabnya, kamu juga perlu memahami apa saja skill yang sebaiknya dimiliki oleh pendiri. Berikut skill yang dibutuhkan oleh seorang pendiri dalam menjalankan bisnisnya:

1. Kreativitas yang Tinggi

Seorang pendiri sebaiknya memiliki kreativitas yang tinggi untuk menemukan beragam ide baru dan solusi ketika menghadapi masalah dalam berbisnis.

Sebagai pendiri, kamu harus bisa memikirkan cara baru untuk mengembangkan bisnis dan menarik pelanggan baru.

Selain itu, kreativitas juga dapat membantu kamu untuk menemukan solusi atas tantangan yang muncul saat menjalankan bisnis.

2. Keterampilan dalam Berkomunikasi

Sebagai pendiri bisnis, penting bagi kamu untuk memiliki keterampilan dalam berkomunikasi.

Kamu harus dapat berkomunikasi dengan tim, investor, dan pelanggan.

Seorang pendiri juga harus mampu mengomunikasikan visi untuk perusahaan dan bagaimana perencanaan untuk mencapainya.

3. Kemampuan Mengelola Organisasi

Melansir laman Climb, keterampilan dalam mengelola organisasi dapat membantu kamumengatur waktu, menetapkan tujuan, dan memprioritaskan tugas.

Kemampuan ini juga dapat membantu kamu untuk mendelegasikan tugas kepada anggota tim yang lain di perusahaan.

4. Kepemimpinan yang Baik

Skill lain yang wajib dimiliki oleh seorang pendiri ialah kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik.

Pendiri harus memiliki kemampuan untuk memimpin tim dan menginspirasi mereka untuk bekerja keras agar tujuan bisnis bisa dicapai.

Kepemimpinan yang efektif biasanya ditunjukkan dengan sikap tegas dan kemampuan dalam membuat keputusan yang cepat saat dibutuhkan.

Pendiri juga memiliki kemampuan untuk mendelegasikan tugas dan tanggung jawab kepada anggota tim mereka sehingga tujuan bisnis cepat terwujud.

Baca Juga: Miliki 10 Sifat Entrepreneur Ini Jika Ingin Sukses Berbisnis

Status Kepemilikan Perusahaan

Tanggung Jawab Founder dan Cofounder dalam Perusahaan, Apa Saja?

Foto Menulis Di Buku (Pexels.com)

Peran seorang pendiri (founder) dalam suatu perusahaan memiliki dimensi yang tidak tergantikan, bahkan ketika pendiri tersebut menjual kepemilikan sahamnya di masa mendatang.

Meskipun status kepemilikan saham atau keuntungan dapat berpindah-pindah dari satu individu ke individu lainnya, peran pendiri tetap menjadi landasan utama dari keberlanjutan dan identitas inti perusahaan.

Walaupun pemilik (owner) dan Chief Executive Officer (CEO) memiliki peran yang dapat berubah sesuai dengan kepemilikan saham atau pembagian keuntungan, peran pendiri tidak pernah tergantikan.

Seorang pendiri memegang peranan khusus dalam membentuk visi, nilai-nilai, dan budaya perusahaan, dan warisan ini tetap terjaga meskipun kepemilikan saham atau jabatan manajemen bisa berganti-ganti dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, sementara pemilik dan CEO dapat berubah dalam perjalanan waktu, status dan warisan seorang pendiri tetap melekat pada identitas perusahaan, menciptakan fondasi yang langgeng sepanjang perjalanan perusahaan.

1. Tugas

Perbedaan peran antara founder, owner, dan CEO menjadi jelas dalam dinamika bisnis. Sebagai pihak yang mendirikan perusahaan, tugas seorang founder melibatkan persiapan segala aspek yang berkaitan dengan legalitas perusahaan, menciptakan landasan yang kokoh untuk kelangsungan bisnis.

Sementara itu, owner dan CEO, yang umumnya bergabung setelah semua persiapan dilakukan, memiliki fokus yang berbeda. Owner terlibat lebih dalam dalam operasional bisnis, memastikan keberlangsungan dan kesehatan perusahaan sehari-hari.

Meskipun founder yang tidak merangkap owner tidak terlalu berperan dalam hal operasional, mereka tetap memainkan peran strategis dalam memberikan arah dan visi jangka panjang.

CEO, sebagai pemimpin eksekutif, bertanggung jawab untuk membuat keputusan bisnis yang tepat, mengelola risiko, dan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Kemampuan CEO untuk membimbing perusahaan melalui perubahan dan menghadapi tantangan menjadi sangat krusial.

Meskipun demikian, CEO juga sering kali membutuhkan dukungan dari direktur dan tim eksekutif untuk menjadi perpanjangan tangan dalam memimpin perusahaan.

Dalam keseluruhan struktur kepemimpinan, setiap individu memiliki peran unik yang memberikan kontribusi pada kesuksesan perusahaan secara keseluruhan.

2. Menyusun Sistem Administrasi Badan Hukum

SABH, atau Sistem Administrasi Badan Hukum, merujuk pada suatu sistem yang bertujuan untuk menjamin legalitas operasional suatu bisnis. Dalam konteks ini, pendiri (founder) memegang peran sentral dalam menyusun dan mengimplementasikan SABH.

Pendiri, sebagai pihak yang memiliki ide dan visi untuk mendirikan bisnis, bertanggung jawab untuk merancang kerangka kerja administratif yang memastikan bisnis beroperasi sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Dalam penyusunan SABH, pendiri akan terlibat dalam berbagai aspek, termasuk namun tidak terbatas pada pendaftaran perusahaan, pemenuhan persyaratan hukum, dan pembuatan dokumen-dokumen legal yang mendukung keberlanjutan operasional bisnis.

SABH mencakup berbagai hal, seperti dokumen pendirian perusahaan, izin usaha, perjanjian kerja, dan ketentuan hukum lainnya yang berlaku di ranah bisnis.

Dengan menyusun SABH yang komprehensif, pendiri tidak hanya menciptakan dasar hukum yang kuat untuk operasional bisnis, tetapi juga memastikan bahwa bisnis berjalan sesuai dengan standar dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga terkait.

Sebagai hasilnya, SABH menjadi landasan yang krusial untuk memastikan kelangsungan dan integritas hukum dari suatu bisnis.

3. Manajemen Keuangan

Untuk bisnis yang baru dirintis, manajemen keuangan memegang peranan kunci dalam pengembangan dan kelangsungan bisnis tersebut.

Apabila pendiri (founder) belum menunjuk seseorang untuk mengisi posisi keuangan dalam organisasi, maka pendiri sendiri yang akan bertanggung jawab terhadap tugas dan tanggung jawab manajemen keuangan.

Dalam konteks ini, pendiri memiliki peran ganda, yaitu sebagai pemimpin bisnis dan sebagai pengelola keuangan.

Tanggung jawab manajemen keuangan mencakup pemantauan arus kas, penyusunan anggaran, pelaporan keuangan, dan pengambilan keputusan keuangan strategis.

Pendiri harus memastikan bahwa sumber daya keuangan dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan bisnis dan mencapai tujuan jangka panjang.

Selain itu, pendiri juga perlu memahami dan mematuhi regulasi keuangan yang berlaku serta menjaga transparansi dalam pelaporan keuangan.

Kemampuan manajemen keuangan yang baik sangat penting untuk menjaga stabilitas keuangan bisnis dan memastikan bahwa keputusan keuangan yang diambil mendukung visi dan strategi bisnis yang telah ditetapkan.

Baca Juga: 10 Pengusaha Sukses di Indonesia dengan Kisah Inspiratif

Cofounder sebagai Pendamping Founder

cofounder
Foto Pebisnis (Freepik.com)

Setelah mengetahui peran dan tanggung jawab pendiri bisnis, kamu juga perlu memahami orang yang biasanya mendampingi mereka selama melakukan tugas. Sosok inilah yang disebut sebagai cofounder.

Mengutip laman Feedough, cofounder adalah orang yang menemani pendiri (orang yang punya ide bisnis) dalam mendirikan usaha dan memiliki tanggung jawab untuk membuat bisnis menjadi sukses di masa depan.

Seorang cofounder tidak hanya dipercayakan untuk membantu pendiri untuk memulai bisnis, tetapi mereka juga harus memantau perkembangannya.

Baca Juga: Daftar CEO Muda Indonesia yang Penuh Inspirasi

Tanggung Jawab Seorang Cofounder

tanggung jawab cofounder
Foto Penjelasan Materi Presentasi (Pexels.com)

Lebih lanjut, berikut tanggung jawab seorang cofounder yang perlu kamu pahami:

1. Menggalang Dana untuk Operasional Bisnis

Tanggung jawab cofounder yang pertama ialah menggalang dana untuk operasional bisnis. Hal ini karena tidak semua cofounder memiliki aset pribadi untuk mendanai pendirian bisnis.

Nah sebagai gantinya, cofounder bisa melakukan penggalangan dana untuk perusahaan. Pengetahuan seputar produk atau layanan yang dimiliki oleh seorang cofounder ini dapat dipromosikan kepada calon investor.

Menurut Indeed, investor lebih menyukai cofounder yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang produk atau layanan perusahaan mereka, antusias, persuasif, dan keterampilan dalam berkomunikasi dengan baik.

2. Menilai Risiko Bisnis

Seorang cofounder juga memiliki tanggung jawab untuk menilai risiko bisnis. Perlu kamu ketahui bahwa perusahaan atau bisnis baru bisa memiliki banyak tantangan selama awal-awal berdiri.

Oleh karenanya, perusahaan baru sering kali dihadapkan pada banyak risiko terkait produk, pasar, keuangan, karyawan, dan eksekusi.

Seorang cofounder harus memahami setiap risiko yang dihadapi dan membantu bisnis maupun tim eksekutifnya untuk mengurangi dampaknya.

Selain itu, cofounder dapat mencari bantuan profesional yang memenuhi syarat atau manajer risiko dengan pengalaman di bidang tertentu untuk meminimalisir dampak bagi perusahaan.

3. Membangun Tim Pemimpin

Tanggung jawab cofounder berikutnya yaitu membangun tim kepemimpinan untuk pengelolaan bisnis.

Dengan pemimpin yang tepat, bisnis bisa mencapai tujuannya dengan lebih mudah sehingga dapat tumbuh dan sukses berkembang.

Cofounder harus bisa mengidentifikasi individu yang memiliki visi sejalan dengan perusahaan. Jadi, mereka bisa berdedikasi tinggi di perusahaan dan membantu bisnis mencapai tujuannya.

Setelah menemukan orang-orang yang tepat, cofounder harus memberikan tugas dan tanggung jawab kepada mereka untuk mewujudkan tujuan bisnis.

Cofounder juga bertanggungjawab untuk membantu tim mereka dalam melakukan resolusi konflik, sehingga setiap anggotanya bisa melakukan kinerja terbaik untuk perusahan.

4. Mengembangkan Bisnis

Seorang cofounder harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan bisnis sehingga tumbuh lebih baik di masa depan.

Cofounder harus memiliki inisiatif yang tinggi dalam menyusun strategi pengembangan bisnis.

Dengan begitu, bisnis bisa bertahan hingga jangka panjang dan terus mengalami peningkatan ke depannya.

5. Mencari Peluang Pasar

Seorang cofounder harus memiliki kemampuan untuk meneliti pasar dan mengidentifikasi produk yang diinginkan konsumen.

Cofounder juga sebaiknya memahami jika ada pasar yang bagus untuk produk atau layanan yang ingin mereka luncurkan.

Mereka kemudian dapat berbicara dengan anggota tim eksekutif dan mengoordinasikan proses untuk meningkatkan produk atau layanan sehingga sukses di pasar.

Baca Juga: 6M dalam Wirausaha untuk Membangun Sistem Manajemen

6. Membuat Dokumentasi Bisnis

Penting bagi bisnis untuk membuat dan memelihara dokumentasi yang tepat untuk semua aktivitas dan transaksinya.

Dokumentasi sangat penting untuk pendaftaran bisnis, perpajakan, akuntansi keuangan, dan perekrutan.

Oleh karenanya, seorang cofounder perlu bekerja sama dengan pakar pajak, auditor, dan pengacara untuk memastikan bahwa semua dokumen yang diperlukan sudah rapi dan sesuai dengan persyaratan undang-undang.

Semua dokumentasi bisnis harus disimpan dan dijaga, bahkan diperbarui secara berkala agar semua data atau informasi yang dibutuhkan bisa ditemukan serta digunakan secara lebih mudah.

7. Mengelola Keuangan Bisnis

Cofounder harus memahami bagaimana cara pengelolaan keungan bisnis. Baik itu rincian status keuangan hingga perencanaannya.

Seorang cofounder harus terlibat secara aktif dengan founder atau pendiri lainnya untuk melacak pengeluaran dan membelanjakannya dengan bijaksana sampai ada perusahaan memiliki aliran pendapatan yang stabil.

Tidak sedikit perusahaan baru yang gagal karena perencanaan keuangan yang buruk. Oleh karenanya, cofounder harus memastikan perusahaan memiliki praktik perencanaan keuangan yang efektif.

8. Mengembangkan Produk atau Layanan

Seorang cofounder dapat membawa perspektif yang berbeda untuk proses pengembangan produk perusahaan. Oleh karena itu, cofounder perlu terlibat dalam pengembangan produk atau layanan yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan.

Ketika bertugas di perusahaan, cofounder memainkan peran penting dalam setiap tahap pengembangan produk, mulai dari desain dan pengembangan hingga peluncuran dan penjualan.

Cofounder harus bisabersikap tegas dan dapat membantu anggota founder untuk melihat area yang perlu perbaikan. Misalnya jika ada kemungkinan bug, cacat desain, dan kurangnya kualitas di luar ketentuan.

Dengan begitu, tim pengembangan bisa mengerjakan ulang produk mereka dan membangun prototipe yang lebih baik sebelum diluncurkan.

9. Mempekerjakan Karyawan yang Profesional

Membentuk tim yang efektif adalah salah satu tugas terpenting dari seorang cofounder. Mereka perlu menemukan kandidat yang tepat untuk setiap posisi atau pekerjaan di perusahaan.

Seorang cofounder harus dapat mencari kandidat yang tepat berdasarkan kebutuhan dan anggaran yang dimiliki oleh perusahaan.

10. Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Tidak hanya sampai di situ, cofounder juga bertangungjawab untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas karyawan.

Karena terkadang, bisnis menghadapi hambatan dalam pemasaran atau produk mereka mungkin tidak mendapatkan eksposur yang cukup di pasar. Ini merupakan situasi risiko yang normal untuk setiap bisnis baru.

Namun, salah satu karyawan lainnya bisa saja kehilangan motivasi, kehilangan minat, dan mungkin ingin menyerah ketika menghadapi tantangan tersebut.

Dalam hal ini, seorang cofounder harus mengetahui cara untuk membantu timnya bangkit kembali dan melanjutkan pekerjaan hingga tujuan bisnis tetap tercapai.

Baca Juga: 7 Tips Membentuk Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini

Itu dia penjelasan seputar founder dan cofounder dalam perusahaan yang perlu kamu pahami. Semoga informasi di atas bisa bermanfaat, ya.