Agregator Musik: Perkembangan Bisnis dan Daftar Perusahaan

Share this Post

Table of Contents

Agregator musik muncul dengan berkembangnya dunia digital. Kamu masih asing dengan istilah satu ini? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Kini, menikmati musik menjadi sangat mudah dan bisa kita lakukan kapan pun di mana pun. Hanya dengan memutar musik di aplikasi streaming musik favorit dan pilih lagu yang ingin kita dengar.

Tanpa harus tahu perkembangan kemajuan teknologi tersebut, kamu bisa tinggal menikmati musik yang disukai dan bisa bebas pilih.

Namun, apakah kamu tahu bahwa setiap musik yang kita dengar di layanan streaming merupakan peran dari agregator musik?

Jika masih asing dengan istilah agregator musik, tentu kamu belum banyak mengetahui hal tersebut.

Baca Juga: 7 Tips Memaksimalkan TikTok Bisnis, Bisa Untung Besar!

Apa Itu Agregator Musik?

agregator musik
Foto: Kaset Musik (pixabay.com)

Agregator musik adalah istilah lain untuk Digital Music Distributor. Dilansir dari Musician Uninon, tugas agregator memberikan jasa mengumpulkan musik yang akan dijadikan konten digital.

Kumpulan musik tersebut akan menjadi sebuah katalog musik dan diberikan kepada layanan music streaming yang tersedia.

Peran agregator musik tentu sangat tinggi, terutama bagi para musisi sehingga musiknya bisa didengar luas.

Melihat pengertian di atas, tentu kamu berpikir bahwa agregator musik sama dengan distributor musik. Namun sebenarnya, dua hal tersebut berbeda.

Distributor musik hanya berperan untuk mendistribusikan musik melalui berbagai medium, seperti kaset, CD, hingga Vinyl Record.

Secara sederhana agregator musik merupakan jembatan bagi musisi yang ingin memasarkan dan menyebarkan karya musiknya kepada penyedia layanan musik secara online (platform musik).

Apakah bisnis ini potensial untuk dijalankan? Tidak ada bisnis yang benar-benar menjanjikan, semuanya bergantung eksekusi dari pelaku bisnis itu sendiri. Baik dalam melihat peluang hingga mengambil risiko.

Sebagai perusahaan distribusi musik secara digital, tentu sangat potensial di tengah pesatnya perkembangan dunia digital saat ini. Potensi bisnis ini juga dapat kamu lihat dari beberapa perusahaan agregator musik itu sendiri.

Baca Juga: 5 Peluang Bisnis K-Pop yang Menjanjikan, Bisa Banjir Cuan!

Daftar Perusahaan Agregator Musik

agregator musik
Foto: Aplikasi Musik (pixabay.com)

Terdapat beberapa perusahaan agregator musik yang ada di Indonesia. Dari beberapa perusahaan di bawah ini, kita bisa belajar bagaimana bisnis ini apakah menjanjikan atau tidak. Yuk, mari langsung simak:

1. Gotong Royong Musik

Gotong Royong Musik merupakan sebuah agregator musik yang berdiri di Indonesia dan telah mendistribusikan musik karya anak bangsa ke platform, seperti iTunes, Deezer, Spotify, dan lainnya.

Gotong Royong Musik berniat untuk membantu para musisi independen agar bisa bertahan dengan karya-karyanya dan dapat mendapatkan akses untuk diversifikasi sebagai musik yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Ingin memberikan kesempatan bagi musisi independen agar mendapatkan hak yang sama dengan musisi mayor label di setiap telinga pendengar Indonesia.

2. Musicblast

Terdapat juga Musicblast merupakan agregator musik digital paling awal yang berdiri di Indonesia.

Musicblast telah memberikan layanan self service di dalam satu aplikasi website. Sehingga band atau musisi dapat merilis karyanya sendiri kurang dari 5 menit.

Musicblast juga akan membantu setiap karya untuk monetisasi bagi setiap lagu yang beredar di platform seperti YouTube, Instagram, Facebook, TikTok dan media sosial lainnya.

Juga turut mendistribusikan musik ke platform seperti iTunes, Spotify, Joox, Deezer, dan lain sebagainya. Sama seperti perusahaan distributor musik digital lainnya, terdapat beberapa musisi yang menggunakan jasa Musicblast.

Salah satu layanan yang diberikan Musicblast, yaitu Musicblast Publishing yang menyediakan jasa mengumpulkan royalti dari artis yang melakukan cover lagu yang menjadi klien Musicblast.

Baik itu lagu yang ditampilkan di YouTube, Facebook, Acara TV, hingga yang dimainkan di Hotel, Cafe, bahkan restoran.

Tentu layanan dari Musicblast tersebut sangat dibutuhkan oleh para musisi agar tetap dapat hidup dengan karya-karyanya.

Stigma menjadi musisi tidak memiliki masa depan yang cerah, dapat ditepis oleh kehadiran agregator musik itu sendiri.

Baca Juga: Konsep Ekonomi Kreatif Dan Jenis-jenisnya, Sudah Tahu?

3. IM: Port

agregator musik
Foto: Aplikasi Agregator Musik (pexels.com)

Agregator musik asal Indonesia yang memiliki reputasi baik adalah IM:Port, visi dan misi dari perusahaan ini, yaitu ingin membantu musisi Indonesia agar dapat mendistribusikan musik dan karyanya ke pasar global.

IM: Port sendiri telah menjadi jembatan bagi musisi sejak lama, perusahaan ini didirikan oleh Indra Lesmana, Anang Hermansyah, Triawan Munaf, dan Abdee Negara. Nama-nama penting dalam industri musik Indonesia.

IM: Port bekerja sama dengan Synergy Distribution dan IODA sehingga memungkikan setiap musisi Indonesia yang non major label dapat menyalurkan musiknya ke platform musik digital.

4. Jualmusik

Perusahaan agregator musik atau Digital Music Distribution selanjutnya adalah Jualmusik. Jualmusik telah menjembatani banyak musisi agar musiknya tersebar ke berbagai platform musik, seperti Spotify, iTunes, YouTube dan lain sebagainya.

Jualmusik juga merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang musik yang menggarap publishing dan lisensi musik digital independen (indie).

Memiliki kantor dan beroperasi di Tangerang, Provinsi Banten, Jualmusik memberikan tarif Rp65.000,- (lifetime) untuk single album yang di dalamnya telah tersedia layanan Copyright Youtube untuk

5. Netrilis

Salah satu perusahaan agregator musik yang tersedia di Indonesia adalah Netrilis. Namun, Netrilis lebih percaya diri menyebut diri mereka sebagai Digital Music Distributor.

Karena bukan hanya menyalurkan lagu dan musik dari para musisi, Netrilis juga ikut mendistribusikan musik dan karya visual lainnya ke beragam music platform.

Bukan hanya itu, Netrilis juga melayani produksi rilisan audio secara fisik, seperti CD dan kaset, serta mendistribusikannya juga. Bahkan, Netrilis juga tengah mengembangkan untuk membuat produk rilisan musik sendiri di kemudian waktu.

6. Tunecore

Terdapat juga agregator musik yang berskala internasional, yaitu Tunecore. Bagi kamu yang merupakan seorang musisi, tentu tidak asing lagi dengan perusahaan Musik Digital Internasional satu ini.

Tunecore juga merupakan Digital Music Distributor yang menginduk pada perusahaan bernama Believe Distribution Service yang memiliki kantor di New York, Amerika Serikat.

Salah satu klien dari Tunecore adalah artis yang memiliki reputasi internasional. Ini juga yang membuatnya sangat dihormati secara internasional.

Baca Juga: Ini 4 Perbedaan TikTok dan TikTok Lite, Mana yang Lebih Kamu Suka?

7. Musikator

Beberapa agregator di atas memiliki nasib baik dan dapat bertahan hingga saat ini. Namun, ada contoh lain yang bisa jadi pertimbangan kamu dalam memandang bisnis satu ini.

Melalui Musikator, yang telah berhenti operasi pada 11 Maret 2016, kita bisa belajar betapa sulitnya mempertahankan bisnis distribusi musik secara digital.

Perbandingan royalti yang didapatkan tiap bulannya tidak dapat menutupi operasional bulanan. Adapun royalti yang didapatkan dari setiap lagu, perlu dibagi dengan pencipta lagu dan musisinya itu sendiri.

Informasi yang seimbang antara gambaran suksesnya bisnis ini hingga contoh selesainya perusahaan distributor musik dapat memberikan kita pertimbangan dan gambaran yang jelas.

Dari Musikator kita bisa belajar bahwa bisnis yang menjanjikan sekalipun tidak bisa menjamin kesuksesan di masa depan. Bertahan adalah nafas bagi para pebisnis, termasuk bertahan agar bisnis tidak bangkrut dan selesai.

Kini, kamu telah mengetahui apa itu agregator musik yang berperan amat penting sebagai jembatan antara musisi dan platform musik. Juga berjasa bagi para penikmat musik, sehingga bisa menikmati musik dengan mudah dan praktis.