Cara Menghitung Rumus Payback Period untuk Studi Kelayakan Bisnis

Share this Post

Table of Contents
shopee pilih lokal

Ketika berbisnis, kamu tentu mengharapkan pengembalian modal yang cepat. Cobalah gunakan rumus payback period untuk memprediksi prospek bisnis.

Ketika memulai bisnis, tentu ada sejumlah modal yang kamu investasikan. Modal ini bisa bersumber dari uangmu sendiri, patungan, maupun dari investor. Yang jelas, kamu tentu ingin bisnismu cepat balik modal bahkan mendapat laba.

Namun, kamu juga tentu memahami bahwa setiap bisnis yang baru dimulai memang harus siap merugi terlebih dahulu.

Artinya, kamu tidak akan langsung untung. Butuh waktu hingga bisnismu berkembang, menghasilkan penjualan, dan mendatangkan profit.

Seringkali, para pebisnis pemula tidak sabaran dalam membangun bisnisnya. Mereka ingin mendapat keuntungan secara cepat. Alhasil, ketika di awal bisnisnya belum sesuai harapan, banyak yang menghentikan bisnisnya.

Padahal jika melihat kisah sukses brand-brand ternama, semuanya dimulai dari bisnis kecil. Kegagalan selalu hadir, tetapi konsistensi tentu membuahkan hasil.

Untuk dapat memprediksi kapan waktu yang dibutuhkan bagi bisnis untuk menghasilkan keuntungan, kamu bisa gunakan rumus sebagai cara menghitung payback period.

Apa itu payback period dan bagaimana cara menghitungnya?

Baca Juga: Apa Itu PKP atau Pengusaha Kena Pajak? Pemula Wajib Tahu

Pengertian Rumus Payback Period

rumus payback period
Foto: Menghitung Menggunakan Kalkulator (Freepik.com)

Sebelum belajar menghitung rumus payback period, tahukah kamu definisinya? Menurut Deskera, payback period mengacu pada waktu yang diperlukan untuk mendapatkan kembali biaya investasi. 

Secara lebih spesifik, payback period adalah waktu yang dibutuhkan sebuah proyek atau bisnis untuk balik modal.

Balik modal adalah kondisi dimana biaya produksi atau modal usaha yang dikeluarkan sudah sama dengan laba yang didapatkan.

Semakin singkat periode pengembalian modal, maka semakin besar kemungkinan pelunasan utang.

Selain itu, definisi lain menurut Corporate Finance Institute mengacu pada berapa lama waktu yang dibutuhkan bisnis untuk menutup investasi. 

Jenis analisis ini memungkinkan perusahaan untuk membandingkan peluang investasi alternatif dan memutuskan proyek dengan pengembalian investasi paling cepat.

Sebab, arus keuangan bisnis harus terus berjalan. Semakin cepat modal kembali, maka semakin cepat laju perkembangan bisnis.

Sebagai contoh, ketika kamu memulai bisnis salad buah tentu ada modal awal yang harus kamu keluarkan. Sebagai pebisnis, kamu ingin cepat balik modal dan mendapat keuntungan.

Waktu yang dibutuhkan untuk balik modal inilah yang dikatakan sebagai payback period. Semakin cepat kamu balik modal, semakin besar kesempatanmu untuk mengembangkan bisnis.

Baca Juga: 5 Cara Mendapatkan Crowdfunding untuk Bisnismu

Menghitung Rumus Payback period

rumus payback period
Foto: Menghitung Rumus Payback Period (Freepik.com)

Rumus payback period bisa dihitung dengan cara membagi nilai investasi dengan aliran kas bersih yang masuk tiap tahun atau laba setelah kena pajak.

Sebagai contoh, sebuah bisnis mengeluarkan modal awal atau investasi sebesar Rp25.000.000,- keuntungan yang didapatkan sebesar Rp10.000.000,- per tahun. Berapa payback period bisnis tersebut?

Kamu dapat menghitungnya dengan membagi nilai investasi dengan keuntungan bersih. Jadi, Rp25.000.000,-/ Rp10.000.000,- maka hasilnya adalah 2,5. Artinya, bisnis tersebut membutuhkan waktu selama 2,5 tahun untuk balik modal.

Apabila nilai investasi dan kas masuk setiap tahun berbeda, maka kamu perlu menghitungnya secara terpisah.

Rumus payback period untuk kasus tersebut adalah sebagai berikut:

Cara Menghitung Rumus Payback Period untuk Studi Kelayakan Bisnis

Keterangan:

  • n: tahun terakhir dimana kas yang masuk belum dapat menutup investasi awal
  • a: jumlah investasi awal
  • b: jumlah investasi pada tahun ke n
  • c: jumlah kumulatif kas pada tahun ke n + 1

Baca Juga: Ini 9 Contoh Laporan Keuangan dan Penjualan yang Perlu Kamu Tahu!

Kekurangan Rumus Payback Period

rumus payback period
Foto: Menghitung Menggunakan Kalkulator (Freepik.com)
shopee pilih lokal
shopee gratis ongkir

Cara menghitung payback period memang cukup mudah untuk digunakan dalam memprediksi profit perusahaan. Sayangnya, rumus ini memang masih memiliki kekurangan.

Arus kas bisnis yang diperoleh bertahun-tahun bisa jadi berbeda.

Sebagai contoh, sebuah bisnis memiliki dua proyek berbeda. Keduanya menghasilkan pendapatan yang sama. Namun, proyek A menghasilkan banyak pendapatan di tahun-tahun awal. Sementara proyek B menghasilkan banyak pendapatan di tahun-tahun akhir.

Dalam hal ini, rumus payback period tidak dapat memberikan indikasi tentang proyek mana yang lebih baik.

Meskipun memiliki kekurangan, rumus payback period dapat digunakan dengan akurat bagi bisnis dengan nilai investasi yang kecil.

Kelebihan Payback Period

rumus payback period
Foto: Menghitung Rumus Pakai Kalkulator (Freepik.com)
shopee pilih lokal

Rumus payback period tentu memiliki kegunaan dan kelebihan bagi bisnis. Berikut kelebihan payback period, yaitu:

1. Mudah Digunakan

Rumus payback period mudah digunakan oleh bisnis. Rumus sederhana ini pada dasarnya hanya membagi investasi awal dengan kas masuk.

Kamu bisa menghitung payback period sendiri dengan mudah dan cepat.

2. Menyaring Proyek Terbaik

Payback period bisa digunakan untuk menyaring dan menyeleksi proyek mana yang lebih baik. Lebih baik di sini berarti mampu memberikan profit yang lebih cepat dan lebih besar.

3. Membantu Evaluasi Proyek

Payback period dapat membantu melakukan evaluasi proyek tertentu. Artinya, selama berjalannya proyek kamu bisa menilai kesesuaiannya dengan KPI yang sudah kamu tetapkan.

Apakah proyek tersebut memberikan kinerja baik atau tidak.

4. Mengurangi Risiko Kerugian

Semakin cepat kamu mengetahui kinerja buruk sebuah proyek, semakin cepat kamu dapat mengambil keputusan.

Kamu bisa mengubah proyek yang buruk atau bahkan menghentikannya. Payback period dapat memprediksi bagaimana kualitas pengembalian modal suatu proyek.

Baca Juga: Contoh Bilyet Giro dan Bedanya dengan Bukti Transaksi Lain

Indikator Payback Period

Cara Menghitung Rumus Payback Period untuk Studi Kelayakan Bisnis
Foto Indikator Payback Period (Pexels.com)
shopee gratis ongkir

Payback period berfungsi sebagai indikator dalam membuat keputusan investasi. Berikut beberapa aturan praktis yang dapat diikuti:

Layak/Diterima:

Jika periode pengembalian investasi lebih cepat dari batas waktu yang telah ditentukan, maka investasi dianggap layak atau diterima.

Artinya, semakin singkat payback period, semakin menguntungkan investasinya.

Tidak Layak/Ditolak:

Sebaliknya, jika periode pengembalian investasi lebih lama atau melebihi batas waktu yang ditetapkan, maka investasi dianggap tidak layak atau ditolak.

Ini menunjukkan bahwa investasi tersebut mungkin kurang menguntungkan atau memerlukan waktu yang terlalu lama untuk mengembalikan modal.

Pemilihan Alternatif:

Jika ada beberapa alternatif proyek investasi, biasanya dipilih yang memiliki payback period lebih cepat.

Dengan memilih proyek yang mengembalikan modal lebih cepat, perusahaan dapat mengamankan investasinya lebih awal dan meminimalkan risiko.

Payback period adalah alat yang sederhana namun efektif untuk mengevaluasi investasi dengan fokus pada waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal awal.

Baca Juga: 10 Cara Menjadi Miliarder, dari Investasi Hingga Freelancer!

Perbedaan Payback Period dan Break Even Point

Cara Menghitung Rumus Payback Period untuk Studi Kelayakan Bisnis
Foto: Catatan Keuangan dan Kalkulator (Pexels.com)

Payback Period

Definisi: Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal.

Fokus: Terletak pada aliran kas dan waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi.

Pertimbangan: Payback period mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal. Jika menggunakan discounted payback period, faktor waktu dan nilai waktu uang diakomodasi.

Break Even Point

Definisi: Poin di mana total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga tidak ada keuntungan atau kerugian.

Fokus: Terletak pada volume penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas.

Pertimbangan: Break-even point tidak mempertimbangkan faktor waktu. Ini hanya menentukan titik di mana pendapatan mencakup semua biaya. Jika penjualan melebihi titik ini, perusahaan akan menghasilkan keuntungan.

Perbandingan:

Kedua metode ini memberikan pandangan yang berbeda terhadap aspek keuangan suatu investasi.

Payback period menyoroti waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi, sementara break-even point lebih fokus pada volume penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas.

Keduanya penting dalam evaluasi keberhasilan finansial suatu proyek atau usaha.

Baca Juga: Peran Manajer Investasi Beserta Tugas dan Kewajibannya

Penerapan Payback Period dalam Pengambilan Keputusan Investasi

Cara Menghitung Rumus Payback Period untuk Studi Kelayakan Bisnis
Foto: Pria Menganalisa Pergerakan Saham (Pexels.com)

Payback Period adalah elemen penting dalam pengambilan keputusan investasi, namun, perlu dipahami bahwa ini hanya satu dari banyak metode analisis investasi yang tersedia.

Biasanya, digunakan bersama dengan metode analisis lainnya untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang potensi investasi.

Berikut langkah-langkah pengambilan keputusan investasi dengan menggunakan Payback Period:

  1. Identifikasi Proyek atau Aset:

Tentukan proyek atau aset yang akan dinilai untuk investasi. Pilih dengan cermat proyek yang sesuai dengan tujuan investasi kamu.

  1. Hitung Investasi Awal:

Tentukan nilai investasi awal yang diperlukan, termasuk semua biaya terkait dengan investasi. Ini mencakup investasi modal, biaya operasional, dan biaya lainnya.

  1. Hitung Aliran Kas Bersih Tahunan:

Kalkulasikan jumlah uang yang diperkirakan akan diterima setiap tahun dari investasi. Ini melibatkan semua penerimaan dan pengeluaran terkait dengan proyek atau aset selama periode tertentu.

  1. Hitung Payback Period:

Manfaatkan rumus payback period untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal investasi. Jika terjadi variasi dalam aliran kas setiap tahun, gunakan rumus yang telah disesuaikan.

  1. Analisis Hasil:

Evaluasi hasil payback period yang telah dihitung. Pertimbangkan apakah periode tersebut sesuai dengan tujuan investasi kamu. Evaluasi juga risiko investasi yang dapat diterima dengan payback period yang telah dihitung.

  1. Bandingkan dengan Metode Lain:

Selain payback period, pertimbangkan untuk menggunakan metode analisis investasi lainnya, seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), atau Profitability Index (PI).

Perbandingan antara hasil metode ini dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif.

  1. Ambil Keputusan:

Berdasarkan hasil analisis payback period dan metode lainnya, ambil keputusan apakah akan melanjutkan investasi atau tidak. Selain itu, pikirkan juga hal-hal lain seperti niat investasi, tingkat risiko, dan rencana keseluruhan untuk bisnis.

Catatan: Penting untuk melakukan analisis yang komprehensif dan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan investasi.

Payback period hanyalah salah satu elemen dari proses pengambilan keputusan yang lebih besar.

Baca Juga: Mengenal SBN (Surat Berharga Negara) dan Cara Investasinya

Nah, itulah beberapa penjelasan tentang kelebihan, kekurangan, dan rumus payback period. Yuk, coba prediksi pengembalian modal bisnismu!

Sumber:

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X