Sejarah Pasar Senen, Pusat Grosir Terbesar di Jakarta

Share this Post

Table of Contents
shopee pilih lokal

Pasar Senen merupakan salah satu pusat grosir dan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Berikut informasi lengkapnya!

Berbicara tentang pusat grosir, barang-barang murah, koleksi buku tua, dan thrift shop tentu sangat identik dengan Pasar Senen. Semua kegiatan berbelanja tersebut bisa kamu temui di pasar ini.

Sebagai pusat grosir tertua dan terbesar di Jakarta, Pasar Senen sudah sangat melegenda dan dikenal seantero Jakarta.

Banyak orang yang datang untuk membeli berbagai barang kebutuhan dengan harga miring.

Bahkan di sini, kamu juga bisa menemukan banyak penjual barang second hand yang menjadikannya surga bagi para pemburu thrift shop.

Selain itu, kamu bisa menemukan beberapa penjual buku bekas yang sudah tidak dicetak lagi.

Ingin tahu informasi lengkap seputar sejarah hingga bisnis di Pasar Senen? Simak artikelnya sampai akhir, ya!

Baca Juga: Black Market atau Pasar Gelap, Ini Contoh Transaksinya

Lokasi dan Jam Operasional Pasar Senen

pasar senen
Foto: Pasar Senen Jaya (mapio.net)

Pasar Senen beralamat di Jl Pasar Senen No.14, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat. Akses dari dan menuju Pasar Senen bisa dilalui dengan mudah oleh semua jenis kendaraan.

Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, motor, atau sepeda. Selain itu, tersedia sarana transportasi umum yang bisa kamu gunakan, seperti TransJakarta, KRL, angkot, dan sebagainya.

Jika kamu datang dari luar Jakarta atau ingin menuju Pasar Senen menggunakan KRL, kamu bisa turun di Stasiun Pasar Senen.

Jika kamu datang dari arah Bogor atau Depok, kamu bisa transit di Stasiun Tanah Abang dan berpindah peron menuju kereta arah Bekasi.

Setelah itu, kamu bisa melanjutkan dengan transit di Jatinegara menuju Stasiun Pasar Senen.

Jika kamu datang dari arah Kota Tua atau Tangerang, kamu bisa mengikuti rute yang sama seperti dijelaskan sebelumnya.

Namun, jika kamu datang dari arah Bekasi, kamu tak perlu berpindah kereta. Sebab, sudah tersedia kereta yang melintas menuju Stasiun Pasar Senen.

Pusat grosir tertua di Jakarta ini buka setiap hari dengan jam operasional berikut:

  • Los Basah (sayur. buah, daging, ikan, dll): buka jam 06.00-17:00
  • Kios (kelontong, baju, jam, kacamata, dll): buka jam 09:00-17:00

Sebagai catatan, jam operasional tersebut dapat berubah sewaktu-waktu. Agar terus up-to-date, kamu bisa mengikuti akun Instagram @pasarsenenjaya.

Baca Juga: Ketahui 15 Perbedaan Pasar Bisnis dan Pasar Konsumen Berikut Ini

Ada Apa Saja di Pasar Senen?

Sejarah Pasar Senen, Pusat Grosir Terbesar di Jakarta
Foto: Barang Preloved Pasar Senen (jalanjalankenai.com)

Sebagai pusat grosir, pusat perbelanjaan, dan ekonomi, Pasar Senen menjadi lokasi wisata belanja yang sangat populer.

Pasar Senen memiliki beberapa lantai yang menjual beraneka macam barang. Mulai dari bahan makanan, elektronik, pakaian, toko kelontong, aksesoris, perlengkapan sekolah, perlengkapan kantor, furniture, hingga barang-barang branded.

Kamu bisa menjelajahi berbagai blok dan lantai yang ada di Pasar Senen jika ingin mencoba aktivitas wisata belanja dan thrift shop yang menyenangkan.

Di dalam kawasan pasar tersebut juga terdapat penjual buku-buku bekas yang sudah tidak dicetak lagi. Jika beruntung, kamu bisa menemukan buku lama dari penulis terkenal dengan harga yang lebih murah.

Lebih lengkap, berikut aktivitas seru yang bisa kamu lakukan ketika mengunjungi kawasan Pasar Senen.

Baca Juga: 4 Cara Menentukan Niche atau Segmentasi Pasar Bisnismu

1. Berburu Barang Preloved

Barang preloved diartikan sebagai barang bekas berkualitas yang biasanya dijual dengan harga miring.

Selain itu, beberapa barang impor branded cuci gudang juga biasanya tersedia dengan harga yang lebih murah.

Ada banyak pilihan barang yang bisa kamu temukan, mulai dari jaket, kemeja, kaos, sepatu, topi, tas, bahkan gorden bisa kamu temui di Pasar Senen. Lokasinya berada di Pasar Jaya Senen lantai 3.

2. Sightseeing

Sightseeing merupakan istilah keren bagi mereka yang gemar jalan-jalan sambil melihat-lihat suasana kota.

Aktivitas seru ini biasanya dilakukan kurang dari 6 jam dan mendatangi tempat-tempat yang menarik. Sightseeing lebih familiar dengan sebutan “cuci mata” kalau kata orang Indonesia.

Nah, di Pasar Senen, kamu bisa menemukan objek-objek menarik untuk cuci mata.

Mulai dari melihat aktivitas jual-beli, melihat banyak toko dan barang dagangan, menjelajahi berbagai blok dan lantai, dan berfoto-foto di dalam kawasan pasar.

3. Wisata Kuliner

Acara belanja rasanya kurang lengkap jika tidak ditutup dengan makan-makan. Setelah lelah berkeliling pasar, kamu bisa mampir dan membeli makanan yang banyak tersebar di dalam kawasan Pasar Senen.

Mulai dari jajanan tradisional, kue pasar, sampai makanan berat bisa kamu temui di sini. Menariknya, kuliner Pasar Senen terkenal dengan masakan Minang dan nasi Kapaunya.

Di sini, ada banyak rumah makan yang menjual nasi kapau khas orang Minang. Menariknya, sudah banyak food vlogger yang mengulas kuliner khas Minang di Pasar Senen ini.

Selain masakan Minang, kamu juga bisa mencicipi kuliner lain, salah satunya adalah Coto Makassar Senen Syamsul Daeng yang pernah dicicipi Jusuf Kalla.

Baca Juga: Jenis-Jenis Visual Marketing Tepat untuk Pasarkan Bisnismu

4. Surganya Pecinta Buku

Tak jauh dari Pasar Senen, terdapat deretan toko buku yang bisa kamu datangi. Ada banyak judul buku yang bisa kamu beli, mulai dari buku cetakan baru hingga buku bekas.

Dibandingkan toko buku yang ada di mal, harga buku di Senen tentu lebih murah. Bahkan, kamu bisa menemukan buku-buku lama dari penulis terkenal!

5. Wisata Sejarah

Selain wisata belanja, kamu juga bisa mempelajari kekayaan sejarah yang ada di sekitar Pasar Senen.

Dengan berjalan kaki, kamu bisa mengunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berlokasi di Jl Kramat Raya 106, Jakarta Pusat atau sekitar 1 km dari stasiun KRL.

Menurut sejarahnya, museum ini dulunya pernah dijadikan tempat tinggal para pemuda yang berasal dari berbagai daerah di nusantara.

Beberapa di antaranya adalah Soegondo Djojopoespito, AK Gani, Johannes Leimena, Katjasungkana, dan Mohammad Roem.

Di sini, kamu bisa melihat berbagai koleksi naskah asli Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya.

Tersimpan juga biola milik WR Soepratman yang digunakan untuk mengiringi lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya.

Selain itu, jika kamu datang ke Pasar Senen menggunakan KRL, kamu akan turun di Stasiun Pasar Senen.

Merangkum dari situs KAI, Stasiun Pasar Senen diresmikan oleh perusahaan kereta api swasta Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) bersamaan pembukaan jalur lintas Batavia (Jakarta) – Bekasi tanggal 31 Maret 1887.

Stasiun Pasar Senen juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Baca Juga: 10 Tips Menjalankan Bisnis Chicken Katsu Untuk Pemula

Sejarah Pasar Senen

Sejarah Pasar Senen, Pusat Grosir Terbesar di Jakarta
Foto: Sejarah Pasar Senen (genPI.co)

Membahas soal Pasar Senen, rasanya kurang lengkap jika tidak mengupas cerita di balik pusat grosir tertua di Jakarta ini.

Dirangkum dari Jurnal Historia Madania bertajuk “Pasar Senen: Reorganisasi Pasar Tahun 1966–1993” mengungkap sejarah unik Pasar Senen.

Wilayah Senen dahulu dikenal karena hasil perkebunannya. Seiring dengan berkembangnya perekonomian masyarakat saat itu, muncul pula ide untuk mendirikan pasar.

Pemilik tanah Senen, Justinus Vinck kemudian mengajukan permohonan pendirian pasar kepada Pemerintah Belanda.

Permohonan itu disetujui oleh Gubernur Jenderal Abraham Patras melalui sebuah surat keputusan.

Dalam surat berbahasa Belanda itu disebutkan bahwa pasar hanya diperbolehkan untuk buka pada hari Senin.

Sementara itu, hari Sabtu diperuntukkan bagi pasar yang akan dibangun di wilayah Tanah Abang dan Kampung Lima.

Surat yang diterbitkan tanggal 30 Agustus 1735 itu menjadi awal mula berdirinya Pasar Tanah Abang dan Pasar Weltevreden (Pasar Senen).

Pasar Senen didirikan di sebelah selatan Jalan Gunung Sahari. Pada saat itu, jalan tersebut lebih dikenal dengan nama Groote Zuiderweg.

Namun, orang-orang Belanda lebih mengenal Pasar Senen dengan nama Vincke Passer atau Pasar Vinck yang mengacu pada nama sang pemilik tanah.

Dalam perkembangannya, wajah Pasar Senen serta daerah di sekitarnya terus berubah. Selama lebih dari 274 tahun, kawasan pasar ini menyimpan banyak cerita dan sejarah.

Pada era pra kemerdekaan(1930-an), daerah sekitar Pasar Senen merupakan daerah berkumpulnya para intelektual muda serta pejuang bawah tanah dari Stovia.

Beberapa pemimpin pergerakan seperti Chairul Saleh, Adam Malik, Soekarno dan Mohammad Hatta, sering menggelar pertemuan di daerah ini.

Pada masa penjajahan Jepang sampai tahun 1950-an, kawasan sekitar Pasar Senen sering dijadikan lokasi berkumpulnya para seniman dari era pujangga baru.

Mereka adalah Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, dan HB Yasin yang muncul dari Senen.

Memasuki 1970-1990an, nama Pasar Senen makin terkenal dan tumbuh sebagai pusat ekonomi dan hiburan di Jakarta.

Bahkan ketika penayangan film bioskop mulai hadir di Jakarta, Senen tak mau ketinggalan. Dua gedung Bioskop “Rex” dan “Grand” dibangun untuk memenuhi harapan penduduk akan hiburan.

Sebagai pusat perekonomian dan hiburan, Gubernur Ali Sadikin mencanangkan pembangunan “Proyek Senen” yang meliputi pembangunan sarana gedung parkir melingkar.

Sayangnya, pasca peristiwa kerusuhan massal pada tahun 1998, popularitas Pasar Senen mulai redup.

Berbagai penjarahan dan pelecehan terhadap sejumlah wanita keturunan Tionghoa banyak terjadi di kawasan ini dan mengakibatkan banyaknya pedagang warga keturunan Tionghoa yang angkat kaki.

Kini, daerah Pasar Senen mulai dibiarkan lepas sama sekali. Kemegahan dan kemewahannya perlahan memudar.

Kios-kios akbar kini digantikan oleh para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya hingga tepi perlintasan. Daerah pasar bersejarah itu pun mulai jadi kumuh dan tidak terawat.

Baca Juga: Untung Besar Jualan Sekoteng di Musim Hujan, Ini Tipsnya!

Pusat Grosir Lain di Jakarta

Sejarah Pasar Senen, Pusat Grosir Terbesar di Jakarta
Foto: Pasar Tanah Abang (lines.id)

Selain Pasar Senen, berikut beberapa lokasi pusat grosir lain di Jakarta yang bisa kamu datangi.

1. Mencari Baju Murah di Pasar Tanah Abang

Pasar Tanah Abang adalah sebuah kawasan populer yang berada di kawasan Jakarta Pusat dan berdiri bersamaan dengan Pasar Senen.

Pasar Tanah Abang diklaim sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara, pasar ini memang sudah berdiri sejak lama di tanah Jakarta, yaitu sejak 1735.

Ada berbagai jenis produk garmen dan tekstil di kawasan Blok A yang menjadi primadona karena harganya yang murah.

Selain produk mentah seperti tekstil, kamu juga bisa menemukan aneka busana dan pakaian lainnya dengan harga miring.

Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern yang memasang harga barang tetap atau nett, di pasar grosir Tanah Abang, kamu bisa melakukan tawar-menawar.

2. Kekayaan Sejarah Pasar Baru

Pasar Baru sebenarnya sudah tidak baru lagi, karena sudah berdiri sejak 1820. Pasar ini pernah menjadi pusat perbelanjaan elit bagi para ekspatriat di masa lalu.

Pasar Baru tetap mempertahankan gaya bangunannya yang orisinil, sehingga terlihat klasik dan kental akan nilai sejarah.

kamu bisa menemukan banyak penjual sepatu, pakaian, elektronik, hingga toko makanan.

Di dalam Pasar Baru, kamu bisa menemukan berbagai barang kebutuhan menarik lainnya, mulai dari perlengkapan salon, pakaian, departement store, kuliner kekinian, hingga pusat perbelanjaan lain seperti ITC Cempaka Mas.

Lokasi Pasar Baru juga berdekatan dengan stasiun KRL Juanda, Halte TransJakarta Pasar Baru, Masjid Istiqlal, dan Pos Bloc.

Baca Juga: 5 Tips Memulai Bisnis Ayam Bakar, Bisa Langsung Cuan!

3. Berburu Barang “Branded” Pasar Pagi Mangga Dua

Pusat perbelanjaan lainya di Jakarta yang menjual barang-barang yang dibanderol dengan harga murah adalah di Pasar Pagi Mangga Dua.

Pasar ini berlokasi di wilayah utara Jakarta dan menyediakan berbagai kebutuhan lengkap, mulai dari tas, sepatu, pakaian, perhiasan, hingga kebutuhan bayi dan anak.

Hal unik di pasar ini adalah adanya produk-produk luar negeri branded seperti Channel atau Dolce Gabbana.

Namun, jangan kaget jika produk tersebut dijual jauh lebih murah, karena pada umumnya produk tersebut hanyalah barang KW atau tiruan.

4. Mencari Oleh-oleh Haji di Tanah Abang

Sebagai sentra perbelanjaan rakyat terbesar seantero Jakarta, ada banyak produk yang dijual di Tanah Abang.

Salah satu yang menarik perhatian adalah sentra oleh-oleh haji yang berada di kawasan Tanah Abang.

Di sini, kamu bisa menemukan dan membeli berbagai barang oleh-oleh khas Arab yang biasa dibawa oleh jemaah haji.

Sentra oleh-oleh haji ini berlokasi di Jalan KH Mas Mansyur dan buka mulai dari pagi hingga sore hari. Uniknya, banyak jemaah haji yang membeli oleh-oleh di sini sepulang dari Tanah Suci, lho.

5. Blok M

Kawasan Blok M dulunya adalah tempat gaul anak muda Jakarta pada era 80 sampai 90-an.

Blok M rancangan Belanda yang ingin membuat kawasan pemukiman dengan konsep taman. Sejak itu, dibuatlah Blok A-S pada 1947.

Akan tetapi, yang masih eksis hingga kini hanya kawasan Blok A dan Blok M yang menjadi pusat hiburan, belanja, dan kegiatan perkantoran.

Ditambah lagi, terdapat akses transportasi yang sangat memadai dari dan menuju Blok M.

Mulai dari terminal bus, halte TransJakarta, stasiun MRT, dan akses jalan yang bagus. Dalam kawasan Blok M juga terdapat bangunan pasar yang sudah ada sejak lama.

Di sini, kamu bisa berwisata belanja sambil menikmati kuliner ala “Little Tokyo”.

Baca Juga: 3 Resep Stik Keju untuk Ide Usaha, Enak dan Bikin Untung!

6. Pasar Mayestik

Pasar Mayestik merupakan kawasan perdagangan yang berlokasi di Jalan Tebah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pasar ini diresmikan sekitar tahun 1981 dan merupakan pusat perbelanjaan modern di Jakarta Selatan.

Pasar Mayestik diisi oleh banyak penjual obat dan kosmetik, pakaian, alat olahraga, sayuran, buah-buahan, daging, ayam, ikan, bahan pembuat kue, penjahit hingga elektronik.

Akan tetapi, Pasar Mayestik memiliki ciri khas tersendiri karena menjual berbagai toko kain serta toko hiasan untuk dijadikan seserahan saat acara lamaran dan pernikahan.

7. Pasar Asemka

Pasar Asemka menyimpan cerita sejarah yang menarik. Pasar yang tak jauh dari kawasan Kota Tua ini merupakan bagian dari kawasan pecinaan di Batavia.

Pada mulanya, komunitas Tionghoa datang dan menempati wilayah Kali Besar. Lambat laun, komunitas masyarakat Tionghoa terus bertambah secara bertahap dan menyebar di dalam kawasan Asemka.

Jika kamu berkunjung ke kawasan Asemka sampai Glodok, kamu akan menemukan banyak bangunan tua bergaya khas kolonial.

Beberapa di antaranya juga terdapat bangunan baru bergaya arsitektur khas Tionghoa.

Seiring berkembangnya zaman, bangunan yang rata-rata dibangun pada zaman penjajahan Belanda itu telah diganti oleh jejeran ruko-ruko modern.

Di sini, kamu bisa mencari souvernir pernikahan murah. Souvenir yang tersedia di antaranya kipas, tempat tisu, mug, gelas, toples, dan lainnya yang bisa kamu dapatkan secara eceran.

Pasar Asemka sendiri berada di kolong jembatan layang Jembatan Lima, Tambora Jakarta Barat, tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota dan di seberang Gedung Museum Bank Mandiri.

Itulah penjelasan lengkap seputar sejarah Pasar Senen dan pusat perdagangan lain di Jakarta yang menarik untuk didatangi.

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X