Unearned Revenue: Pengertian, Contoh, dan Cara Mencatatnya

Share this Post

Table of Contents

Unearned revenue disebut juga sebagai pendapatan yang diterima di muka. Bagaimana cara mencatatnya dalam akuntansi?

Memahami proses akuntansi dalam bisnis merupakan hal paling fundamental. Pasalnya, proses akuntansi yang baik dan rapi dapat mempengaruhi kemudahan bisnis dalam mengatur keuangan.

Dalam hal akuntansi, ada berbagai metode dan unsur-unsur yang perlu kamu ketahui. Satu di antaranya adalah unearned revenue yang akan dicatat dalam keuangan bisnis.

Seperti kamu ketahui, dalam pencatatan akuntansi, setiap akun memiliki cara penulisan dan penempatan yang berbeda. Pun dalam akun unearned revenue yang perlu dicatat dengan benar.

Dalam artikel ini, akan dibahas pengertian, contoh, dan cara mencatat unearned revenue dengan benar. Simak sampai akhir, ya!

Baca Juga: Margin of Safety Adalah Prinsip yang Digunakan dalam Investasi dan Akuntansi

Pengertian Unearned Revenue

unearned revenue
Foto: Pebisnis Online (freepik.com)

Menurut Investopedia, unearned revenue adalah uang yang diterima oleh individu atau perusahaan atas layanan atau produk yang belum tersedia untuk pelanggan. 

Definisi lain yaitu uang yang diterima dari pelanggan untuk pekerjaan yang belum dilakukan. Pada dasarnya, ini merupakan pembayaran di muka untuk barang atau jasa yang akan dikirimkan di kemudian hari.

Sebagai hasil dari pembayaran di muka ini, penjual memiliki kewajiban yang sama dengan pendapatan yang diperoleh sampai barang atau layanan diberikan kepada pelanggan. 

Istilah ini digunakan dalam akuntansi akrual, dimana pendapatan baru diakui hanya ketika pembayaran telah diterima oleh perusahaan, namun produk atau layanan belum dikirimkan kepada pelanggan.

Pengertian ini sama seperti konsep uang muka atau DP. Ketika hendak membeli atau menyewa suatu produk, umumnya kamu diminta untuk membayar uang muka terlebih dahulu.

Ketika membayar uang muka, kamu tidak akan langsung mendapatkan produk yang kamu inginkan.

Namun, dari sisi penjual, mereka telah menerima uang muka yang diakui sebagai pendapatan meski produk yang bersangkutan belum diberikan.

Sebagai catatan, pendapatan diterima di muka atau unearned revenue berbeda dengan pendapatan yang tidak dicatat atau unrecorded revenue.

Pendapatan diterima dimuka akan dicatat pada neraca sebagai kewajiban yang harus diselesaikan.

Sedangkan pendapatan yang tidak dicatat akan ditunda dalam proses akuntansi dan belum dimasukkan ke dalam catatan keuangan perusahaan.

Sebagai contoh, terdapat kesepakatan bahwa pelanggan baru akan melakukan pembayaran setelah pekerjaan selesai dilakukan.

Dalam hal ini, maka kasusnya termasuk dalam kategori unrecorded revenue.

Baca Juga: 6 Peran Akuntansi Dalam Kegiatan Usaha, Apa Saja?

Contoh Unearned Revenue

Unearned Revenue: Pengertian, Contoh, dan Cara Mencatatnya
Foto: Kontrak Bisnis (freepik.com)

Ada berbagai situasi dimana konsep pendapatan diterima di muka terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut contoh kasusnya.

1. Langganan Akun Premium

Kamu tentu sudah familiar dengan fitur berlangganan akun premium di berbagai platform, contohnya Spotify, Netflix, dan sebagainya.

Dengan membayar akun premium, kamu sudah berada dalam situasi unearned revenue. Sebagai contoh, jika kamu membeli paket akun premium untuk 6 bulan atau satu tahun, kamu akan membayar lunas untuk periode tersebut.

Namun, penyedia platform akan memberikan akses akun premium yang diperbarui otomatis setiap bulan, tidak diberikan sekaligus selama satu tahun.

Artinya, platform tersebut menerima pendapatan di muka atas akun premium yang mereka tawarkan.

2. Langganan Koran

Jika kamu pernah berlangganan koran atau majalah, tentu sudah tidak asing dengan cara kerjanya.

Ketika berlangganan koran, kamu akan membayar biaya langganan untuk periode tertentu, misalnya 3 bulan.

Namun, kamu tidak akan menerima majalah dan koran sekaligus selama 3 bulan, mengingat media cetak tersebut hanya diperbarui setiap hari atau setiap minggu.

Dalam hal ini, pihak penerbit menerima pendapatan atas langganan koran selama 3 bulan ke depan, meskipun mereka belum mencetak koran dalam kurun waktu tersebut.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Aplikasi Penjualan untuk Dukung Operasional Bisnis

3. Tiket Pesawat

Tiket pesawat merupakan contoh lain dari pendapatan diterima di muka.

Ketika hendak berpergian dengan pesawat terbang, kamu akan memesan tiket sejak jauh-jauh hari atau setidaknya beberapa jam sebelum keberangkatan.

Dalam hal ini, maskapai akan menerima pendapatan atas penjualan tiket meskipun jadwal penerbangan belum dilaksanakan.

4. Pembelian Pre-order

Tanpa kamu sadari, sistem pembelian pre-order (PO) termasuk dalam jenis pendapatan diterima di muka.

Sebab, kamu akan membayar penuh atas suatu barang yang belum tersedia untuk kamu dapatkan.

Sebagai contoh, ketika kamu membeli sebuah hampers dengan sistem PO, kamu tidak akan langsung mendapatkan hampers tersebut. Butuh waktu bagi penjual untuk menyiapkan pesananmu.

Baca Juga: Pengertian Kliring: Jenis, Manfaat, dan Mekanismenya

Cara Mencatat Unearned Revenue

Unearned Revenue: Pengertian, Contoh, dan Cara Mencatatnya
Foto: Pencatatan Akuntansi (freepik.com)

Penting bagi kamu untuk memahami cara mencatat pendapatan diterima di muka dalam akuntansi. Berikut metode pencatatannya:

1. Tentukan Klasifikasi Pendapatan Diterima di Muka

Jika produk akan diterima oleh pembeli dalam 12 bulan setelah dilakukan transaksi, maka harus dicatat sebagai kewajiban lancar.

Jika produk baru diterima pembeli setelah 12 bulan dari waktu transaksi, maka harus dicatat sebagai kewajiban jangka panjang.

2. Catat Uang Sebagai Kas dan Pendapatan yang Diterima di Muka

Pendapatan yang diterima di muka akan dicatat sebagai kredit. Sedangkan jumlah pendapatannya akan dicatat sebagai kas pada sisi debit.

Misalnya, kamu menerima Rp5.000.000 atas proyek renovasi rumah. Pendapatan diterima di muka akan dicatat di sisi kredit.

Kemudian, kamu juga akan mencatatnya sebagai kas di sisi debit dengan nominal yang sama.

Pencatatan ini bertujuan untuk mengelompokkan jumlah yang harus kamu kerjakan atau selesaikan, dan mencatat uang yang kamu peroleh atas transaksi tersebut.

Baca Juga: Apa Itu Neraca Perdagangan? Ini Jenis dan Faktor yang Memengaruhinya

3. Perkirakan Jumlah yang Dibutuhkan Untuk Menyelesaikan Pekerjaan

Setelah mencatat dalam sisi kredit dan debit, kamu perlu memperkirakan porsi pendapatan yang akan kamu terima selama menyelesaikan pekerjaan tertentu.

Sebagai contoh, proyek renovasi rumah memakan waktu 5 hari kerja dengan nilai total Rp5.000.000. Maka, setiap hari jumlah uang akan berkurang atau terpakai sebesar Rp1.000.000.

4. Kurangi Unearned Revenue Selama Pekerjaan Dilakukan

Kembali pada contoh sebelumnya, setelah kamu memperkirakan jumlah uang yang terpakai. Kamu perlu mengurangi pendapatan diterima di muka (kredit) selama pekerjaan berjalan.

Misalnya, pada hari pertama, kurangi nilai unearned revenue sebesar Rp1.000.000. Pada hari kedua, nilainya akan berkurang lagi sehingga total pengurangan menjadi Rp2.000.000.

Lakukan terus sampai sisi kredit menjadi nol dan pekerjaan selesai.

Baca Juga: Cara Membuat Buku Besar, Penting dalam Penyusunan Laporan Keuangan

5. Catat Sebagai Pendapatan

Setelah catatan unearned revenue (kredit) dikurangi sampai nol, artinya kamu sudah menyelesaikan semua kewajiban.

Selanjutnya, kamu bisa memindahkan catatan kas (debit) sebagai pendapatan di dalam neraca saldo.

Itulah penjelasan tentang unearned revenue dan cara mencatatnya dalam akuntansi.