Apa Itu Fixed Cost? Ini 6 Contoh dan Cara Menghitungnya

Share this Post

Table of Contents
shopee pilih lokal

Setiap perusahaan umumnya memiliki dua jenis pengeluaran operasional, yakni fixed cost dan variable cost.

Variable cost merupakan biaya yang sangat dipengaruhi oleh produksi atau penjualan. Nilainya berubah-ubah sepanjang waktu mengikuti kebutuhan perusahaan dan pasar.

Adapun fixed cost merupakan biaya tetap yang nilainya konstan dari waktu ke waktu. Nilainya bisa naik atau turun, tetapi tidak sefluktuatif variable cost

Perubahan nilai biaya tetap biasanya memakan waktu tahunan. Dalam artikel ini, pembahasan akan fokus pada fixed cost.

Kamu bisa mempelajari seluk beluk fixed cost, mulai dari pengertian, contohnya, hingga cara menghitungnya. Simak penjelasannya sampai akhir, ya!

Baca Juga: Daftar Kota Dengan Biaya Hidup Termahal di Indonesia, Ada Kotamu?

Apa Itu Fixed Cost

budget, fixed cost
Foto: Buku Untuk Budgeting (freepik.com)

Mengutip dari Investopedia, istilah fixed cost atau biaya tetap, mengacu pada biaya yang tidak berubah dengan kenaikan atau penurunan jumlah barang atau jasa yang diproduksi atau dijual.

Biaya tetap adalah biaya yang harus dibayar oleh perusahaan, terlepas dari aktivitas bisnis apa pun.

Artinya, biaya tetap umumnya bersifat tidak langsung, karena tidak terkait dengan produksi barang atau jasa apa pun yang diberikan oleh perusahaan.

Pasangan fixed cost adalah variable cost atau biaya variabel, yang gabungan keduanya menghasilkan biaya total. Perusahaan pada umumnya memiliki kedua jenis biaya operasional ini.

Biaya terkait operasional bisnis dapat dikategorikan menjadi biaya tidak langsung, langsung, dan modal pada laporan laba rugi.

Selain itu, biaya dapat dicatat sebagai kewajiban jangka pendek atau jangka panjang di neraca.

Fixed cost dan variable cost membentuk struktur biaya total yang dikeluarkan perusahaan. Biaya keduanya dianalisis melalui berbagai jenis instrumen analisis struktur biaya.

Pada umumnya, biaya merupakan faktor kunci yang memengaruhi total profitabilitas. Adapun fixed cost adalah biaya yang tidak berubah sepanjang waktu.

Biaya tetap biasanya ditetapkan berdasarkan perjanjian kontrak atau jadwal operasional. Ini adalah biaya dasar yang terlibat dalam pengoperasian bisnis secara komprehensif.

Setelah ditetapkan, fixed cost tidak berubah perjanjian kontrak atau jadwal produksi tidak mengalami perubahan.

Adapun pada laporan laba rugi, biaya tetap ini dialokasikan di bagian biaya tidak langsung yang mengarah ke laba operasi.

Penyusutan merupakan salah satu biaya tetap yang umumnya dicatat sebagai biaya tidak langsung. Perusahaan pun membuat jadwal biaya penyusutan terhadap investasi aset yang nilainya menurun dari waktu ke waktu.

Contohnya, sebuah perusahaan membeli spare-part mesin untuk mengganti bagian yang harus diganti menggunakan perhitungan penyusutan. Biaya tetap lainnya berupa gaji untuk karyawan.

Setiap biaya tetap yang tercantum pada laporan laba rugi, dicatat di neraca dan laporan arus kas. Biaya ini pada neraca dapat berupa kewajiban jangka pendek atau jangka panjang.

Kemudian, setiap uang yang dibayarkan untuk biaya tetap, ditampilkan pada laporan arus kas.

Secara umum, kesempatan untuk menurunkan fixed cost dapat menguntungkan dari segi profit perusahaan, yakni dengan mengurangi biaya dan meningkatkan laba.

Baca Juga: Cara Menghitung Average Cost dan Manfaatnya bagi Bisnis

Contoh Fixed Cost

Apa Itu Fixed Cost? Ini 6 Contoh dan Cara Menghitungnya
Foto: Ilustrasi Koin Uang (iphoto stock)

Berdasarkan penjelasan di atas, kamu pasti sudah mendapat gambaran mengenai apa itu fixed cost. Biaya tetap ini bisa berupa biaya penyusutan dan gaji untuk karyawan.

Namun, biaya tetap tidak hanya berputar pada dua hal itu saja. Ada banyak ragam pengeluaran perusahaan lainnya yang dapat digolongkan sebagai biaya tetap.

Berikut berbagai contoh fixed cost yang dikeluarkan oleh bisnis atau perusahaan pada umumnya:

1. Gaji Karyawan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gaji karyawan termasuk sebagai biaya tetap perusahaan.

Gaji adalah jumlah kompensasi yang sudah diatur sebelumnya. Biaya ini kamu bayarkan kepada karyawan, tidak peduli seberapa produktif mereka.

2. Premi Asuransi

Untuk menjaga aset perusahaan, apalagi jika bisnismu memiliki alat produksi, tentu perlu asuransi.

Ini merupakan antisipasi terhadap berbagai risiko bisnis, seperti kebakaran dan berbagai peristiwa atau bencana lainnya.

Jumlah uang yang kamu bayarkan ke perusahaan asuransi merupakan fixed cost sebagai ganti polis asuransi.

3. Layanan Berlangganan

Yang dimaksud dengan layanan berlangganan di sini ialah biaya bulanan yang dikeluarkan untuk telepon, internet, listrik, gas, air, dan sebagainya.

Biaya-biaya ini dikeluarkan untuk menunjang operasional kantor sehari-hari. Semua ini dikategorikan sebagai fixed cost juga.

Baca Juga: Pengertian Subscribe atau Langganan dan Manfaatnya dalam Bisnis

4. Pembayaran Tagihan

Jika bisnismu melakukan pinjaman modal terhadap bank atau institusi finansial lainnya, tentu akan ada angsuran yang akan ditagih secara berkala.

Nilai tagihan yang diberikan pihak pemberi pinjaman biasanya konstan, sehingga pembayaran tagihan tergolong fixed cost

Meski kamu menegosiasikan tingkat suku bunga untuk pinjaman, biaya bunga juga dianggap biaya tetap.

5. Pajak Properti

Tanah dan bagunan yang kamu gunakan untuk operasional bisnismu, tentu akan dikenai pajak bumi dan bangunan. Ini termasuk sebagai fixed cost.

Kamu harus membayar stakeholder setempat jumlah yang tetap berdasarkan taksiran nilai jual objek pajak.

6. Sewa

Jika kamu menyewa tempat untuk menjalankan bisnismu, kamu pun harus membayar biaya sewa secara berkala. 

Nilai sewa cenderung konstan atau bahkan bisa meningkat. Namun biaya yang dikeluarkan untuk sewa tetap dianggap sebagai fixed cost.

Baca Juga: Cara Hitung Cost Makanan dan Manfaatnya bagi Bisnis Kuliner

Cara Menghitung Fixed Cost

cara menghitung PPN
Foto: Menghitung dengan Menggunakan Kalkulator (iphoto stock)

Hal selanjutnya yang kamu perlu ketahui, yaitu cara menghitung fixed cost. Menurut Indeed, terdapat dua metode sederhana untuk menghitung biaya tetap.

Cara pertama, yakni menggunakan rumus sederhana berikut:

Fixed cost = Total biaya produksi – (biaya variabel per unit x jumlah unit yang diproduksi)

Dengan metode ini, pertama-tama jumlahkan semua biaya produksi. Perhatikan biaya mana yang tetap dan mana yang variabel.

Langkah berikutnya, ambil total biaya produksimu dan kurangi dengan biaya variabel setiap unit yang dikalikan dengan total jumlah unit produksi.

Dengan cara tersebut, kamu dapat mengetahui total fixed cost bisnismu.

Adapun cara menghitung fixed cost yang kedua, yaitu dengan menghitung semua biaya tetap lalu menjumlahkannya.

Untuk menghitung biaya tetap menggunakan metode kedua, ikuti langkah-langkah berikut!

1. Cantumkan Semua Biaya

Mulailah dengan membuat daftar setiap biaya bulanan yang dikeluarkan bisnismu. Kamu bisa mulai dengan melihat kuitansi, anggaran, dan riwayat transaksi di rekening bank.

Biaya yang dibayarkan setiap tahun harus dibagi 12 dan diperhitungkan kembali. Buat daftar setiap pengeluaran dan biaya pengeluaran itu per bulan. Idealnya dalam bentuk spreadsheet.

Baca Juga: Begini Cara Menghitung PPN 11%, Pelaku Bisnis Wajib Tahu 

2. Pisahkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Setelah mencatat semua biaya yang dikeluarkan oleh bisnismu, buatlah lagi perincian. Perincian tersebut, yakni memisahkan daftar biaya tetap dan biaya variabel.

Untuk membedakannya agar tidak bingung, biaya tetap merupakan biaya tidak langsung yang tidak berubah berdasarkan produksi atau penjualan. 

Adapun biaya variabel sangat dipengaruhi oleh produksi atau penjualan. Contoh-contoh yang sudah disebutkan sebelumnya juga bisa menjadi acuan biaya mana saja yang termasuk tetap.

3. Jumlahkan Biaya Tetap

Setelah mengurai dan memisahkan daftar biaya tetap dan biaya variabel, langkah selanjutnya adalah menjumlahkannya.

Jumlahkan semua biaya yang tercantum dalam daftar biaya tetap bulanan. Angka yang tertera mewakili total fixed cost bisnismu secara bulanan.

Namun terkadang, ada bulan-bulan tertentu yang jumlah biaya tetapnya tidak sama. Misalnya kamu membeli alat atau spare part mesin baru setiap tiga bulan sekali atau enam bulan sekali.

Untuk mengetahui nilai rata-rata, catat pengeluaran rutin selama setahun, lalu bagi 12. Dengan demikian, kamu dapat mengetahui nilai fixed cost per bulan.

Demikian penjelasan mengenai fixed cost. Semoga informasi ini bermanfaat!

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X