Beda Markup dan Markdown Pricing, untuk Tetapkan Harga Jual

Share this Post

markup pricing
Table of Contents
shopee pilih lokal

Salah satu metode yang digunakan untuk menetapkan harga jual produk adalah markup dan markdown pricing.

Menentukan harga produk merupakan salah satu hal penting dalam berbisnis.

Ada banyak sekali faktor yang perlu dijadikan pertimbangan sebelum kamu menentukan harga jual. Jadi, tak boleh dilakukan secara sembarangan, ya.

Harga jual yang tepat akan membuat keuntungan bisnis kamu meningkat sekaligus juga membuat pelanggan merasa puas.

Baca Juga: 8 Strategi Penetapan Harga Jual Produk untuk Bisnismu

Perbedaan Markup dan Markdown Pricing

perbedaan markup dan markdown pricing
Foto: Label Diskon (Pexels.com)

Strategi yang paling banyak digunakan dalam menentukan harga jual, yakni dengan markup dan markdown pricing. Apa itu markup dan markdown pricing? Berikut penjelasan lengkapnya yang perlu kamu ketahui.

Perbedaan markup dan markdown pricing dapat kamu ketahui dengan mudah melalui pengertiannya.

Markup pricing atau yang juga disebut dengan cost-plus pricing, adalah strategi penetapan harga di mana penjual dapat dengan menentukan harga berdasarkan margin keuntungan yang diinginkan.

Sesuai dengan namanya, strategi penetapan harga jual tersebut dilakukan melalui penambahan harga pada biaya. Jadi, penjual bisa meraih keuntungan maksimal.

Sedangkan markdown pricing merupakan strategi penurunan harga yang dilakukan agar pelanggan lebih tertarik untuk melakukan pembelian produk atau layanan.

Biasanya, markdown pricing diterapkan ketika suatu produk atau layanan tidak dapat terjual dengan harga yang ada saat ini.

Salah satu penerapan markdown pricing adalah ketika perusahaan memutuskan untuk mengadakan promosi besar-besaran, seperti event cuci gudang atau diskon produk dalam jumlah besar.

Melansir laman Sumup, markdown pricing membuat produk memiliki keuntungan yang lebih rendah. Namun, jumlah penjualan bisa lebih tinggi sehingga akan ada lebih banyak produk yang terjual.

Pada akhirnya, strategi markdown pricing juga dapat membantumu untuk meraih keuntungan maksimal.

Baca Juga: 9 Cara Banjir Orderan untuk Maksimalkan Keuntungan Bisnis Online

Strategi Penetapan Harga dengan Markup Pricing

markup pricing
Foto: Kalkulator (Pexels.com)

Setelah mengetahui apa saja perbedaan markup dan markdown pricing, yuk pelajari lebih lanjut mengenai markup pricing.

Melansir Indeed, markup pricing mengacu pada perbedaan harga antara harga jual barang atau jasa dan biayanya.

Ini pada dasarnya adalah harga yang ditambahkan ke total biaya barang atau jasa yang menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

Untuk menggunakannya sebagai strategi penetapan harga, kamu dapat menghitung markup produk dengan mengurangkan biaya per unit dari harga jual dan membagi angka yang dihasilkan dengan biaya per unit.

Kemudian, kalikan hasil akhir dengan 100 untuk mendapatkan persentase markup.

Dikutip dari laman Small Business, presentase markup juga dapat mencakup beberapa faktor yang mencerminkan kondisi pasar atau ekonomi saat ini, bergantung pada perusahaannya.

Jika permintaan lambat, maka presentase markup mungkin akan lebih rendah sehingga cenderung sulit untuk memikat pelanggan.

Namun, apabila permintaan produk tinggi dan kondisi ekonomi baik, presentase markup mungkin lebih tinggi karena perusahaan merasa dapat menuntut harga yang lebih tinggi untuk produknya.

Baca Juga: Analisis Harga Pesaing untuk Menarik Lebih Banyak Pelanggan

Kelebihan Metode Markup Pricing

kelebihan markup pricing
Foto: Label Harga (Pexels.com)

Ada berbagai kelebihan yang ditawarkan metode penetapan harga markup jika digunakan secara tepat, di antaranya:

1. Meningkatkan Keuntungan Usaha

Salah satu kelebihan dari penggunaan metode markup untuk menentukan harga jual produk, yaitu dapat membantu perusahaan kamu dalam meningkatkan keuntungan.

Dengan mempertimbangkan penetapan harga markup, kamu bisa menetapkan harga strategis untuk barang dan jasa yang dapat menghasilkan keuntungan bagi bisnismu.

Apabila keuntungan yang dihasilkan dari harga markup tersebut cukup, maka kamu dapat mengimbangi setiap pengeluaran yang dikeluarkan selama produksi.

Itu artinya, pengelolaan uang usaha kamu tumbuh secara positif karena terhindar dari hutang.

2. Cocok Digunakan untuk Menetapkan Harga Massal

Strategi penetapan harga markup dinilai lebih cocok digunakan untuk menetapkan harga jual produk secara massal.

Hal ini sangat bermanfaat, terutama bagi pengecer memiliki ratusan produk dengan harga tertentu. Dengan markup, mereka akan lebih mudah dalam menetapkan harga.

Tentu saja, cara tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan harus menentukan harga jual produk satu persatu.

Belum lagi, akan ada banyak produk baru yang datang setiap saat, yang membuat prosesnya semakin rumit.

Dengan markup, kamu cukup menetapkan margin keuntungan sebagai persentase, kalikan dengan biaya setiap produk, dan penetapan harga jual pun selesai.

3. Sangat Mudah untuk Digunakan

Metode penetapan harga markup dinilai sangat mudah untuk digunakan sehingga membuat operasional suatu usaha berjalan lebih efisien.

Hal ini karena metode penetapan harga markup tidak memerlukan banyak riset pasar tambahan. Kamu hanya perlu mengetahui biaya total produk, termasuk biaya operasional.

Sementara itu, metode penetapan harga lainnya membutuhkan lebih banyak informasi sebagai pertimbangan.

Baca Juga: Ketahui Metode Harga Pasar agar Penjualan Semakin Cuan!

4. Meminimalisir Perang Harga dengan Pesaing

Strategi penetapan harga dengan markup dinilai dapat meminimalisir perang harga dengan pesaing di sebuah industri.

Hal ini berlaku apabila pesaing di industri yang sama menggunakan markup sehingga harga jual produk pada umumnya relatif stabil.

Perusahaan cenderung tidak terlibat dalam perang harga jika mereka mendasarkan harga mereka pada biaya, bukan dengan harga pesaing.

Tentu saja, hal ini merupakan manfaat yang baik karena dapat menjaga persaingan pasar tetap sehat.

5. Cara untuk Menjelaskan Kenaikan Harga

Menggunakan harga markup juga bisa menjadi cara yang efektif untuk membenarkan dan menjelaskan kepada pelanggan apabila ada kenaikan harga.

Markup dapat memudahkan kamu untuk mengkomunikasikan kepada pelanggan mengapa perubahan harga dilakukan.

Misalnya, jika perusahaan perlu menaikkan harga jual produknya karena kenaikan biaya produksi, kenaikan tersebut dapat dibenarkan sehingga pelanggan memaklumi dan tetap membelinya.

Baca Juga: Cara Menghitung Harga Awal Sebelum Diskon yang Tepat

Kekurangan Metode Markup Pricing

kekurangan markup pricing
Foto: Mesin EDC di Kasir (Pexels.com)

Meski memiliki banyak kelebihan, metode penetapan harga markup juga memiliki kekurangan.

Kamu pun perlu memahami setiap kekurangan dan kelebihanya agar tidak asal dalam menggunakan markup pricing.

Sebab, tidak semua produk dan industri cocok untuk menggunakan metode penetapan harga yang satu ini.

1. Harga Jual Bisa Terlalu Tinggi

Penetapan harga dengan metode markup bisa saja membuat harga jual produk yang ditentukan terlalu tinggi bagi pelanggan.

Hal ini pun dibenarkan oleh HubSpot, karena strategi penetapan harga markup tidak mempertimbangkan harga pesaing, maka ada risiko harga jual yang kamu tentukan terlalu tinggi.

Tentu saja, kondisi ini dapat mengakibatkan hilangnya penjualan jika ternyata pelanggan lebih memilih untuk melakukan bisnis dengan pesaing karena harga jual yang lebih rendah.

2. Berisiko Rugi Secara Finansial

Ketika penggunaan metode markup pricing ini menyebabkan hilangnya pelanggan, penjualan bisnis kamu pun akan menurun drastis.

Bayangkan saja jika penjualan ditaksir terlalu tinggi, dan markup rendah digunakan untuk menentukan harga produk, maka akan lebih sedikit item yang terjual, dan biaya untuk memproduksi produk tersebut mungkin tidak tercakup dengan baik.

Kondisi ini bisa menjadi pukulan finansial yang sangat berat bagi perusahaan sehingga menimbulkan kerugian yang cukup menyakitkan.

Selain itu, penetapan harga produk dengan markup yang biasanya hanya bergantung pada volume yang diproyeksikan, sering kali tidak cukup akurat.

Jadi, risiko kerugian usaha kamu akan lebih besar jika penetapan harga yang dilakukan tidak penuh dengan kehati-hatian.

Dengan markup pricing yang hanya mengandalkan biaya produk, kamu juga mungkin dapat membuat presentase yang sama dari suatu produk bahkan meski biaya produksi naik.

Hal ini dapat menghilangkan insentif bagi bisnis untuk beroperasi lebih efisien dan menurunkan biaya untuk menciptakan produk mereka.

Ketika bisnis tidak dapat menyesuaikan strategi mereka dengan kondisi yang berubah, maka akan kecil kemungkinannya juga bagi mereka untuk berhasil di masa depan.

Baca Juga: Peluang Bisnis Jual Buku Online dan Cara Memulainya

3. Tidak Cukup Kompetitif di Pasar

Kekurangan lain dari strategi penetapan harga markup adalah bisa membuat sebuah bisnis tidak cukup kompetitif di pasar.

Mengapa demikian?

Hal ini karena saat menetapkan harga jual, kamu tidak menggunakan berbagai informasi penting sebagai pertimbangannya.

Padahal, melihat biaya lain di luar produksi, serta melakukan riset pasar, dan pesaing, bisa menjadi faktor penting dalam mempertimbangkan harga jual.

Karena terlalu gegabah dalam menetapkan harga jual, maka produk kamu tidak cukup mampu untuk bersaing dengan produk lain di pasar.

4. Menurunkan Margin Produk Lain

Harga markup umumnya digunakan untuk menetapkan harga jual secara massal.

Hal ini bisa saja menyebabkan penurunan margin pada produk lain.

Padahal, pelanggan mungkin bersedia membayar harga lebih untuk produk lain.

Namun, karena kamu telah memberlakukan harga markup, maka peluang untuk memeroleh margin hilang begitu saja.

Baca Juga: Catat, Ini Dia Cara Mencari Harga Penjualan yang Tepat

Itu dia penjelasan mengenai markup dan markdown pricing yang perlu kamu pahami.

Manakah metode penetepan harga jual produk yang akan kamu gunakan?

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X