9 Etika Bisnis Ala Rasulullah yang Patut Diteladani

Share this Post

Table of Contents

Yuk, ketahui cara bisnis ala Rasulullah yang bisa kamu pelajari.

Sebagai umat Islam, meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari sangat dianjurkan, tak terkecuali perihal bisnis.

Dikutip dari Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, sejarah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah menggembala ratusan kambing semenjak kecil.

Kegiatan ini menjadi salah satu media pendidikan bisnis bagi beliau. Saat menginjak dewasa, Rasulullah pun mantap memilih karirnya sebagai pebisnis.

Selama berbisnis, Rasulullah menjadi pengusaha yang sukses. Dengan tetap menerapkan nilai-nilai agama Islam di dalamnya.

Baca Juga: Ide Nama Toko Islami Modern, Bisa untuk Olshop Kamu!

Etika Bisnis Ala Rasulullah

Nah, jika kamu sebagai umat Islam ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis, perlu meneladani etika bisnis ala Rasulullah berikut ini:

1. Bersikap Jujur

bisnis ala rasulullah
Foto: Berbisnis Bersama Partner (pexels.com)

Etika bisnis ala Rasulullah yang utama dan sangat dijunjung tinggi, yakni bersikap jujur.

Dengan kejujuran, pengusaha akan mendapatkan kepercayaan dari pelanggannya.

Nabi Muhammad SAW pun selalu berperilaku jujur saat menjalani bisnisnya. Jadi, kamu perlu mencontoh sikap terpuji ini agar menjadi pengusaha yang sukses.

Sifat penuh kejujuran juga dapat dilihat dari kesesuaian harga yang dibayarkan dengan timbangan.

Dalam berbisnis, kamu dilarang untuk berlaku curang. Dengan menambah atau mengurangi timbangan.

Allah SWT pun berfirman:

“Celakalah untuk orang yang tidak jujur, yakni orang yang jika menerima takaran dari yang lain, mereka meminta dicukupi, dan jika mereka membuat takaran atau penimbangan sesuai bagi yang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin)

Baca Juga: Cara Menghitung Zakat Usaha Bagi Bisnis

2. Tolong Menolong

Etika bisnis ala Rasulullah selanjutnya yang patut diteladani adalah tolong menolong antar umat Islam.

Maksudnya, yakni pelaku usaha sudah seharusnya tidak hanya memikirkan keuntungan semata.

Namun, harus memiliki perilaku yang ta’awun atau tolong menolong dalam hal kebaikan terutama dalam usaha.

Misalnya, dengan mengadakan promosi yang keuntungannya digunakan untuk membantu orang-orang tidak mampu.

Jadi tidak hanya memikirkan duniawi, tetapi juga mengutamakan akhirat.

Tidak hanya mendapatkan keuntungan usaha, perilaku tolong menolong dalam berbisnis juga bisa mendatangkan keberkahan.

Oleh sebab itu, janganlah lelah untuk selalu berbuat baik.

3. Tidak Menumpuk Harta

Etika bisnis ala Rasulullah lainnya yang perlu diteladani, yakni umat Islam dianjurkan untuk tidak menumpuk harta.

Menumpuk harta dalam hal ini adalah menimbun barang-barang yang akan dijual sehingga nanti bisa dibeli pelanggan dengan harga tinggi.

Cara berbisnis seperti ini sangat tidak dianjurkan oleh Rasulullah. Sebab, lebih banyak menciptakan kerugian pada orang lain.

Bisa dibayangkan bahwa ketika terjadi penumpukan barang, pelanggan yang membutuhkannya akan sangat kesulitan untuk mendapatkannya.

Akibatnya, bisa menciptakan perpecahan karena ada perebutan barang di mana-mana.

Keuntungan besar dari menumpuk harta justru menjadikan bisnis kamu menjadi tidak berkah. Jadi, sebaiknya hal ini dihindari.

Baca Juga: Ini 10 Peluang Bisnis Halal yang Bikin Usahamu Berkah!

4. Barang yang Dijual Harus Halal

jual donat
Foto: Donat Kentang (freepik.com)

Jika kamu ingin menjadi pebisnis yang sukses, dianjurkan untuk meneladai etika bisnis ala Rasulullah yang satu ini.

Di mana barang yang dijual harus halal dan suci, jadi bukan barang-barang terlarang yang bisa mendatangkan keburukan.

Adapun barang-barang haram yang tidak boleh diperdagangkan menurut sabda Rasulullah SAW, yaitu:

“Sesungguhnya Allah melarang bentuk usaha miras, bangkai, babi, maupun patung.” (H.R. Jabir)

Selain halal, kegiatan usaha yang dilakukan juga harus terhindar dari riba.

Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, maka lupakan sisa-sisa riba bila kamu beriman. Dan jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah)

5. Bersaing Secara Sehat

Dalam berbisnis, Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk bersaing secara sehat.

Jadi, tidak boleh mengejek atau menjelek-jelekkan usaha yang lain, supaya pelanggan membeli terhadapnya.

Hal ini sudah diterangkan secara jelas dalam hadist, di mana Rasulullah bersabda:

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual memiliki tujuan dalam menjelekkan apa yang dijual yang lainnya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Oleh sebab itu, bersainglah secara sehat dengan bisnis lain yang memang serupa.

Kamu bisa menjadi lebih unggul tanpa berusaha mengejek usaha orang lain.

Misalnya, dengan fokus memperbaiki kualitas produk dan pelayanan terhadap pelanggan. Dengan begitu, bisnis kamu akan laris manis.

Jangan lupa juga bahwa, rezeki yang kamu peroleh ini sudah diatur oleh Allah SWT. Maka, janganlah takut untuk menghadapi persaingan usaha karena apa yang menjadi hak kamu akan kembali padamu.

Baca Juga: Ini 10 Peluang Bisnis Halal yang Bikin Usahamu Berkah!

6. Transaksi Jual Beli Tanpa Paksaan

Etika bisnis lainnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yakni melakukan transaksi jual beli tanpa paksaan.

Jadi, baik penjual maupun pembeli harus sama-sama ridho. Jangan terlalu memaksakan kehendak agar orang-orang membeli usaha kamu.

Hal ini juga telah diterangkan dalam firman Allah SWT:

“Hai orang yang beriman, tidak boleh bagi kamu saling memakan harta sesama melalui jalan yang bathil, kecuali melalui cara usaha yang saling suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’)

Oleh sebab itu, pastikan kamu berbicara dahulu dengan pelanggan sebelum membuat kesepakatan jual-beli.

Lakukanlah negosiasi hingga mencapai kata mufakat, di mana kedua belah pihak telah setuju.

7. Pandai Melihat Peluang

bisnis ala Rasulullah
Foto: Perencanaan Bisnis (iPhoto Stock)

Sikap menjalankan usaha yang perlu diteladani dari Rasulullah SAW selanjutnya adalah Fathanah.

Fathanah artinya pandai melihat peluang. Kemudian, memanfaatkan peluang tersebut untuk kebaikan.

Kamu pun bisa meneladani sifat ini dalam berbisnis. Coba untuk lebih peka terhadap permasalahan di sekitar.

Lalu, pikirkan bagaimana cara memanfaatkan peluang tersebut untuk membuka usaha.

Namun, pastikan peluang tersebut digunakan untuk hal-hal yang baik. Misalnya, bertujuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Baca Juga: 5 Tips Memulai Bisnis Hijab Kekinian, Keuntungannya Sepanjang Masa!

8. Memperlakukan Karyawan dengan Baik

Tidak hanya mengatur tentang cara jual-beli, etika bisnis ala Rasulullah juga mengajarkan umat Islam untuk memperlakukan karyawannya dengan baik.

Nabi Muhammad SAW menganjurkan para pengusaha untuk berlaku adil serta membayarkan upah karyawan dengan layak.

Bahkan, Rasulullah bersabda, “Berikanlah upah pada karyawan, sebelum ia kering keringatnya.”

Maksudnya adalah pemilik bisnis dilarang untuk menunda-nunda pemberian upah kepada karyawan. Besaran upah yang diberikan juga hendaknya sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

9. Menerapkan Nilai Syariah di Segala Aspek

Etika bisnis ala Rasulullah lainnya yang tidak boleh kamu lewatkan, yakni menerapkan nilai-nilai syariah selama menjalankan usaha.

Nabi Muhammad SAW menggunakan nilai-nilai syariah dalam segala aspek ketika beliau berbisnis.

Dalam hal ini, seluruh kegiatan usaha harus dijalankan berdasarkan syariat Islam dengan berpedoman pada Alquran dan hadist.

Ketika kamu menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam dalam berbisnis, maka usaha kamu akan diberi kemudahan oleh Allah SWT.

Bisnis kamu juga akan semakin berkah sebab telah diridhoi oleh Allah SWT selama menjalankannya.

Dengan menerapkan nilai syariah, kamu juga akan merasa lebih tenang karena semua keuntungan yang diperoleh benar-benar halal.

Sementara jika menjalani bisnis di jalan yang dilarang, kamu akan diliputi rasa gelisah dan takut akan dosa.

Baca Juga: Doa agar Jualan Laris yang Bisa Umat Islam Amalkan

Itu dia beberapa etika bisnis ala Rasulullah yang bisa kamu teladani dalam menjalani usaha. Sudahkah kamu meneladani etika bisnis ala Rasulullah yang telah disebutkan di atas?