Cara Mudah Hitung Burn Rate, Keuangan Lebih Lancar!

Share this Post

cara membuat laporan laba rugi
Table of Contents
shopee pilih lokal

Burn rate adalah indikator yang sangat penting dalam mengelola keuangan bisnis.

Ini mengacu pada tingkat penggunaan dana atau modal yang dihabiskan dalam suatu periode tertentu. Namun, seringkali pemilik usaha kecil tidak memahami betul konsep ini. 

Burn rate tidak secara langsung tersedia dalam perangkat lunak akuntansi standar. Namun, melalui analisis laporan keuangan, terutama laporan laba rugi atau cash flow, Anda dapat menghitungnya dengan relatif mudah. 

Ini memberikan gambaran yang jelas tentang seberapa cepat atau lambat bisnis Anda dengan menggunakan dana yang tersedia.

Mengetahui berapa banyak uang yang digunakan untuk berbisnis setiap bulannya adalah kunci untuk merencanakan keberlanjutan keuangan. 

Burn rate yang tinggi bisa menjadi tanda bahaya, karena bisa mengindikasikan bahwa bisnis Anda menggunakan lebih banyak dana daripada yang dihasilkan, yang pada akhirnya bisa mengarah pada kebangkrutan.

Dengan pemahaman yang baik tentang burn rate, Anda dapat mengambil keputusan finansial yang lebih cerdas dan dapat merencanakan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan.

Jadi, yuk simak lebih lanjut!

Baca Juga: Petty Cash Atau Kas Kecil, Simak Penjelasan Lengkapnya

Apa Itu Burn Rate?

burn rate
Foto: Ilustrasi Kerugian (freepik.com)

Menurut Investopedia, tingkat pembakaran (burn rate) merupakan salah satu parameter kritis dalam memahami kesehatan keuangan suatu perusahaan.

Terutama bagi perusahaan-perusahaan yang masih dalam tahap pengembangan, seperti startup atau perusahaan baru yang belum mencapai titik untung. 

Secara sederhana, burn rate adalah ukuran seberapa cepat perusahaan menghabiskan dana yang dimilikinya dalam suatu periode waktu tertentu.

Dalam konteks perusahaan startup, burn rate adalah indikator yang menunjukkan seberapa besar dana yang dibutuhkan perusahaan setiap bulannya untuk menutupi biaya operasional dan pengembangan produk atau layanan.

Sebelum perusahaan tersebut mulai menghasilkan pendapatan yang melebihi biaya-biaya tersebut. 

Ini adalah fase kritis di mana perusahaan mencari cara untuk bertahan hidup hingga dapat menghasilkan arus kas positif dari operasi bisnisnya.

Pentingnya burn rate sangat terlihat dalam industri seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, di mana perusahaan-perusahaan sering kali memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai titik balik keuntungan. 

Burn rate menjadi patokan untuk mengevaluasi keberlanjutan keuangan perusahaan.

Jika burn rate terlalu tinggi, ini bisa menandakan bahwa perusahaan menggunakan dana lebih cepat daripada mampu menghasilkan pendapatan yang cukup yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan operasionalnya.

Biasanya, burn rate dinyatakan dalam jumlah uang tunai yang digunakan per bulan.

Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan memiliki burn rate sebesar Rp15 miliar per bulan, artinya perusahaan tersebut mengeluarkan dana sebesar Rp15 miliar setiap bulannya untuk menjalankan operasionalnya.

Mengelola burn rate dengan efisien adalah kunci dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Terutama pada tahap awal yang rentan seperti pada perusahaan-perusahaan rintisan. 

Dengan memahami dan mengelola burn rate dengan baik, perusahaan dapat mempertahankan arus kas yang sehat dan meningkatkan peluang untuk mencapai keberhasilan jangka panjang.

Baca Juga: 8+ Contoh Surat Penagihan Utang Dan Cara Membuatnya

Seberapa Penting Burn Rate bagi Perusahaan?

Cara Mudah Hitung Burn Rate, Keuangan Lebih Lancar!
Foto: Orang Diskusi (freepik.com)

Burn rate adalah indikator krusial yang tidak hanya penting bagi bisnis yang baru berkembang dan membutuhkan investasi awal, tetapi juga bagi bisnis yang sudah mapan. 

Dalam konteks investasi awal, investor cenderung mempertimbangkan burn rate yang rendah karena ini menggambarkan efisiensi dalam pengelolaan dana yang mereka tanamkan. 

Ketika burn rate rendah, hal ini memberikan sinyal positif bahwa investasi yang mereka berikan akan menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih baik. 

Bisnis baru yang dapat mengendalikan penggunaan dana dengan baik dan memiliki burn rate yang minim seringkali lebih menarik bagi investor.

Karena mereka cenderung memiliki potensi untuk menghasilkan laba yang signifikan atas investasi yang dilakukan.

Namun, burn rate tidak hanya berlaku untuk bisnis yang baru. Bahkan untuk bisnis yang sudah mapan, burn rate yang rendah memiliki peran yang sangat penting. 

Ketika bisnis memiliki burn rate yang rendah, mereka lebih siap menghadapi situasi di mana pemasukan mungkin terbatas atau tidak seimbang dengan pengeluaran. Ini memberikan kestabilan finansial yang kuat dan menjadi indikasi kesehatan keuangan keseluruhan perusahaan.

Burn rate yang rendah juga berperan sebagai penanda kekuatan posisi kas.

Terkadang, meskipun sebuah perusahaan mencatat laba yang besar dalam laporan keuangannya, kekurangan kas bisa mengakibatkan kegagalan operasional. 

Dengan memiliki burn rate yang rendah, perusahaan dapat memastikan bahwa mereka memiliki cukup likuiditas untuk mengatasi kebutuhan finansial sehari-hari.

Seperti pembayaran gaji, biaya operasional, atau investasi dalam pengembangan bisnis.

Dalam rangkaian dinamika bisnis, burn rate yang rendah mencerminkan keberlanjutan dan kesiapan perusahaan dalam menghadapi perubahan kondisi pasar yang mungkin tidak selalu stabil. 

Mempertahankan burn rate yang rendah menjadi salah satu strategi yang krusial dalam menjaga kesehatan keuangan serta memastikan kelangsungan bisnis di masa depan.

Baca Juga: Begini Cara Menghitung PPN 11%, Pelaku Bisnis Wajib Tahu 

Rumus dan Cara Menghitung Burn Rate

cara menghitung burn rate
Foto: Orang Menghitung (freepik.com)

Dalam mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan, perhitungan burn rate menjadi salah satu aspek penting.

Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menghitung burn rate, dengan tingkat kompleksitas yang bervariasi. 

Namun, semua metode ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang seberapa cepat dana cadangan perusahaan terkuras.

Menurut Nerd Wallet, salah satu pendekatan sederhana dalam menghitung burn rate adalah dengan menggunakan formula:

(Uang Tunai Awal – Uang Tunai Akhir) / Jumlah Bulan = Burn Rate Bulanan

Di mana “Uang Tunai Awal” adalah jumlah uang tunai yang tersedia pada awal periode tertentu. “Uang Tunai Akhir” adalah jumlah uang tunai yang tersisa pada akhir periode yang sama.

Sementara “Jumlah Bulan” adalah jumlah bulan dalam periode tersebut.

Untuk menghitungnya, Anda perlu mengikuti serangkaian langkah yang rinci.

Pertama-tama, Anda memerlukan neraca keuangan untuk periode tertentu yang ingin dievaluasi, dan tentu saja sebuah kalkulator untuk melakukan perhitungan.

Langkah pertama adalah menentukan periode yang akan dievaluasi.

Dalam konteks burn rate, fokus pada periode yang paling mutakhir sangat penting karena hal ini memungkinkan Anda mendapatkan gambaran yang lebih aktual tentang seberapa cepat dana perusahaan terpakai.

Selanjutnya, cari saldo kas pada awal dan akhir periode yang dipilih dengan memeriksa neraca keuangan perusahaan Anda. 

Pastikan untuk menggunakan informasi yang terdokumentasi dengan baik dari neraca. Karena laporan bank mungkin tidak mencakup beberapa transaksi seperti cek yang belum diuangkan atau deposito yang belum diproses.

Setelah itu, kurangkan saldo kas akhir dari saldo kas awal. Langkah ini memberikan gambaran langsung tentang seberapa besar pengeluaran perusahaan dalam periode tersebut.

Langkah terakhir adalah membagi selisih tersebut dengan jumlah bulan dalam periode yang dievaluasi. 

Ini membantu menghitung rata-rata pengeluaran kas per bulan selama periode tersebut, yang merupakan indikasi dari tingkat pembakaran perusahaan.

Saat menghitung burn rate, disarankan untuk mempertimbangkan data keuangan dari beberapa bulan sebelumnya. 

Hal ini memungkinkan Anda untuk memiliki pemahaman yang lebih holistik tentang tren pengeluaran perusahaan serta membantu memastikan bahwa perhitungan tidak terlalu dipengaruhi oleh bulan-bulan dengan variabilitas ekstrim dalam penjualan atau pengeluaran.

Dengan memperhatikan langkah-langkah ini, Anda dapat memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang seberapa efisien dana perusahaan digunakan dalam periode waktu tertentu. 

Hal ini akan membantu dalam perencanaan keuangan yang lebih akurat serta memastikan keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang.

Dalam contoh ini, mari kita lihat bagaimana perhitungan tingkat pembakaran dilakukan dalam sebuah situasi bisnis.

Misalnya, perusahaan X ingin mengevaluasi tingkat burn rate untuk kuartal pertama tahun ini, terutama pada awal bulan April.

Untuk melakukan perhitungan ini, informasi yang diperlukan adalah saldo kas pada awal dan akhir kuartal yang sedang dievaluasi.

Pada tanggal 1 Januari, saat kuartal dimulai, Perusahaan X memiliki saldo kas sebesar Rp2,4 miliar. Kemudian, pada akhir kuartal, tepatnya pada tanggal 31 Maret, saldo kasnya turun menjadi Rp1,6 miliar.

Langkah pertama adalah mengurangi saldo kas akhir dari saldo kas awal untuk mendapatkan selisihnya:

Rp2,4 miliar (saldo kas awal) – Rp1,6 miliar (saldo kas akhir) = Rp800 juta

Selanjutnya, selisih tersebut dibagi dengan jumlah bulan yang dievaluasi. Dalam contoh ini, periode evaluasi adalah tiga bulan (Januari, Februari, Maret):

Rp800 juta (selisih saldo kas) / 3 (jumlah bulan) = Rp267 juta

Hasil dari perhitungan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pembakaran Perusahaan X selama kuartal pertama tahun ini adalah sebesar Rp267 juta per bulan. 

Angka ini merepresentasikan estimasi rata-rata pengeluaran dana perusahaan setiap bulannya selama kuartal yang dievaluasi.

Pentingnya perhitungan ini tidak hanya bagi investor yang ingin memahami bagaimana perusahaan mengelola dana kasnya.

Melainkan juga bagi manajemen bisnis kecil untuk memahami bagaimana arus kas dipergunakan. 

Informasi ini membantu dalam merencanakan keuangan, mengelola biaya operasional, serta memastikan bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang cukup untuk mendukung aktivitas operasionalnya.

Perhitungan tingkat pembakaran bisa menjadi landasan bagi keputusan strategis. Memungkinkan manajemen untuk mengidentifikasi area di mana pengeluaran berlebihan terjadi atau untuk mempersiapkan diri menghadapi periode dengan arus kas yang lebih rendah. 

Dengan memperhatikan informasi ini, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dalam mengelola keuangan dan pertumbuhan bisnisnya.

Baca Juga: Mari Kenali Bisnis Eco Racing, Bisnis Penghemat BBM Dengan Sistem MLM

Cara Menurunkan Burn Rate

Cara Mudah Hitung Burn Rate, Keuangan Lebih Lancar!
Foto: Dokumen Keuangan (freepik.com)

Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk menurunkan tingkat pembakaran dalam bisnis dan secara proaktif meningkatkan arus kas, yaitu:

1. Meningkatkan Pendapatan Tanpa Menambah Biaya

Menambah pendapatan tanpa menambah biaya dapat dilakukan dengan meningkatkan margin laba kotor. 

Kadang-kadang, pemilik usaha cenderung fokus pada persaingan harga tanpa mempertimbangkan nilai tambah lain yang dapat menjadi daya tarik bagi pelanggan. 

Ini mencakup layanan, kualitas, kenyamanan, atau nilai unik lainnya yang mungkin lebih penting bagi pelanggan. 

Mungkin ada kesempatan untuk menaikkan harga produk atau layanan Anda secara sedikit, seperti kenaikan sebesar 1% hingga 3%, yang pada akhirnya dapat berdampak besar pada margin laba kotor tanpa memberikan beban yang berlebihan pada pelanggan Anda. 

Dengan meningkatkan margin laba kotor, Anda bisa meningkatkan arus kas bisnis Anda sambil mengurangi burn rate.

2. Mengurangi Pengeluaran

Banyak usaha kecil sering kali tidak menyadari adanya pemborosan dalam pengeluaran mereka. Mulailah dengan meninjau setiap item biaya dalam laporan keuangan. 

Ada kemungkinan langganan atau biaya lain yang sebenarnya tidak digunakan, tetapi tetap menjadi pengeluaran bulanan.

Walaupun terlihat kecil, biaya-biaya ini dapat menumpuk dan memengaruhi arus kas Anda secara signifikan. 

Selain itu, biaya-biaya seperti periklanan dan pemasaran perlu diperhatikan dengan cermat. 

Sementara investasi ini penting untuk pertumbuhan bisnis, penting juga untuk memastikan bahwa pengeluaran tersebut memberikan hasil yang sepadan. 

Dengan menganalisis setiap biaya dan menghilangkan pengeluaran yang tidak perlu, Anda dapat meningkatkan efisiensi bisnis Anda.

3. Pertimbangkan Refinancing Utang

Pengeluaran kas juga dipengaruhi oleh beban utang yang dimiliki perusahaan. Jika beban pembayaran utang terlalu tinggi, mempertimbangkan untuk merestrukturisasi utang bisa menjadi opsi. 

Merencanakan restrukturisasi ini sebelum masalah arus kas menjadi kritis akan lebih baik daripada menunggu terjadinya krisis keuangan yang berpotensi membahayakan bisnis Anda.

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Nilai Jual Produk Agar Bisnis Bisa Bersaing

4. Menggunakan Sistem Manajemen Keuangan

Pemahaman mengenai burn rate yang rendah dan arus kas yang positif seringkali dianggap sebagai sesuatu yang akan terjadi secara otomatis pada masa depan jika bisnis berhasil. 

Namun, Anda dapat merencanakannya secara proaktif dengan menggunakan sistem manajemen keuangan yang membantu dalam perencanaan tabungan dan arus kas positif. 

Salah satu pendekatan yang bisa diambil adalah dengan menerapkan sistem manajemen keuangan.

Sistem ini memungkinkan Anda untuk memprioritaskan tabungan, mengelola pengeluaran, serta menjaga cadangan dana tetap tersedia namun tidak terlihat hingga Anda membutuhkannya. 

Dengan pendekatan ini, Anda dapat lebih baik dalam merencanakan dan mengelola arus kas perusahaan Anda dengan lebih efektif.

5. Kurangi Produk yang Tidak Laku

Terdapat kecenderungan di beberapa perusahaan untuk menawarkan beragam produk. Bahkan jika sebagian dari produk tersebut tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari konsumen. 

Hal ini sering kali dilakukan dengan harapan menarik minat pelanggan dengan variasi yang lebih banyak. Namun, pada kenyataannya, tidak semua produk yang ditawarkan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan.

Terlepas dari keberagaman yang ingin ditawarkan, ada saatnya ketika beberapa produk kurang laku dan tidak memberikan dampak positif secara signifikan bagi perusahaan. 

Mempertahankan produk yang tidak laku ini bisa menjadi beban karena menghabiskan sumber daya. Baik itu biaya produksi, penyimpanan, atau pemasaran yang tidak memberikan pengembalian yang sepadan.

Menghilangkan produk yang kurang laku dapat menjadi pilihan yang baik bagi perusahaan. Meskipun terkadang keputusan ini terlihat sulit, menghapus produk yang tidak diminati bisa memberikan manfaat jangka panjang. 

Ini tidak hanya memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya ke produk yang lebih potensial secara finansial. Melainkan juga dapat meningkatkan fokus perusahaan pada produk yang lebih menguntungkan.

Terlebih lagi, ini juga dapat membuka peluang untuk pengembangan produk baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. 

Ini bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan portofolio produk yang lebih menguntungkan dan relevan dengan pasar, serta meningkatkan daya saing perusahaan.

Dalam beberapa kasus, menghilangkan produk yang kurang laku bisa memberikan manfaat yang signifikan. Baik itu secara finansial maupun dari segi fokus strategis.

Ini memungkinkan perusahaan untuk lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan pasar serta kebutuhan konsumen.

Itulah pembahasan mengenai burn rate, cara menghitungnya, dan tips-tips yang mungkin berguna.

Menghitung burn rate dalam bisnis tidaklah rumit. Meskipun terkadang sulit untuk menghadapi realitas tingginya pengeluaran dan kekurangan dana, lebih baik jika Anda memahami metrik-metrik ini dan mengatasi masalahnya sebelum menjadi masalah yang lebih besar.

Ada beberapa faktor, kebanyakan di luar kendali Anda, yang dapat mengakibatkan penurunan pendapatan dan arus kas bisnis secara tiba-tiba. 

Dengan mengatasi masalah pengeluaran dan arus kas secara aktif sambil menjaga kelancaran bisnis, Anda akan lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul di masa depan.

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X