Sejarah OPEC, Tujuan, dan Negara Anggotanya

Share this Post

harga minyak dunia
Table of Contents
shopee pilih lokal

OPEC merupakan organisasi multilateral beranggotakan negara-negara pengeskpor minyak dunia. Berikut sejarahnya!

Di dunia, beberapa negara dikenal karena kekayaan alam dan komiditas ekspor internasionalnya. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil sawit, nikel, dan karet terbesar di dunia.

Sementara itu, ada negara-negara yang dikenal karena komoditas ekspor lain, minyak bumi misalnya. Negara-negara tersebut kemudian membentuk sebuah organisasi internasional sebagai “geng” penghasil minyak bumi.

OPEC adalah Organization of the Petroleum Exporting Countries atau organisasi negara-negara penghasil minyak dunia. OPEC dibentuk untuk mengatur distribusi minyak dunia.

Pasalnya, minyak bumi merupakan salah satu komoditas paling berharga. Harga minyak dunia bahkan dapat mempengaruhi harga-harga produk lainnya.

Sebab, minyak bumi merupakan bahan baku utama dalam pembuatan bensin, solar, LPG, campuran aspal, minyak tanah, parafin, avgas, avtur, hingga produk kecantikan.

Itulah sebabnya negara-negara penghasil minyak bumi kini menjadi negara maju dan mampu mengendalikan perekonomian global. Lantas, bagaimana sejarah OPEC dan perannya dalam distribusi minyak dunia?

Baca Juga: 5 Daerah Penghasil Minyak Bumi Terbesar di Indonesia

Tujuan Dibentuknya OPEC

opec
(Foto pertemuan negara OPEC. Sumber: Opec.org)

Melansir dari situs resmi OPEC, misi OPEC adalah untuk mengoordinasikan dan menyatukan kebijakan minyak negara-negara anggotanya dan memastikan stabilisasi pasar minyak dunia.

Hal tersebut dilakukan untuk mengamankan pasokan minyak bumi yang efisien, ekonomis dan teratur kepada konsumen, memberikan pendapatan tetap bagi produsen, dan pengembalian modal yang adil bagi mereka yang berinvestasi dalam industri perminyakan.

Minyak bumi dan gas alam merupakan sumber utama energi dunia, yaitu mencapai 65,5%, selanjutnya batubara 23,5%, tenaga air 6%, serta sumber energi lainnya seperti panas bumi, kayu bakar, cahaya matahari, dan energi nuklir.

Oleh karena ini, pasar minyak bumi dunia harus diatur dengan satu kebijakan dan harga yang sama untuk menjaga keseimbangannya.

Dalam hal ini, OPEC memiliki otoritas untuk mengatur perdagangan minyak dunia. OPEC mengendalikan hampir 80% pasokan cadangan minyak dunia.

Konsorsium ini dapat menetapkan tingkat produksi untuk memenuhi permintaan global dan dapat mempengaruhi harga minyak dan gas bumi dengan meningkatkan atau mengurangi produksi.

Baca Juga: Bisnis Minyak Jelantah dengan Peluang yang Menggiurkan

Sejarah OPEC Dari Masa ke Masa

Sejarah OPEC, Tujuan, dan Negara Anggotanya
(Foto Konferensi Baghdad. Sumber: Opec.org)

Dirangkum dari situs resminya, OPEC adalah organisasi antar-pemerintah yang dibentuk dalam Konferensi Baghdad pada 10-14 September 1960 oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. 

Disusul dengan bergabungnya negara anggota lain, yaitu:

  • Qatar (1961): mengakhiri keanggotaannya pada Januari 2019 
  • Indonesia (1962): menonaktifkan status keanggotaannya pada Januari 2009, mengaktifkannya kembali pada Januari 2016, kemudian memutuskan untuk menonaktifkannya lagi pada November 2016 
  • Libya (1962)
  • Uni Emirat Arab (1967) 
  • Aljazair (1969)
  • Nigeria (1971)
  • Ekuador (1973): menonaktifkan status keanggotaannya pada Desember 1992, mengaktifkannya kembali pada Oktober 2007, kemudian memutuskan untuk menarik keanggotaannya efektif per 1 Januari 2020
  • Angola (2007)
  • Gabon (1975) – mengakhiri keanggotaannya pada Januari 1995 tetapi bergabung kembali pada Juli 2016
  • Guinea Khatulistiwa (2017) 
  • Kongo (2018). 

Setiap negara dengan ekspor bersih minyak mentah yang substansial, yang secara fundamental memiliki kepentingan yang sama dengan Negara-negara Anggota OPEC, dapat bergabung dengan OPEC.

Namun, harus diterima oleh minimal tiga perempat negara anggota dan disetujui oleh semua negara pendiri.

OPEC memiliki kantor pusat di Jenewa, Swiss, dalam lima tahun pertama pembentukannya. Kemudian dipindahkan ke Wina, Austria, pada 1 September 1965.

1. Tahun 1960-an

Pembentukan OPEC oleh lima negara berkembang penghasil minyak di Baghdad pada September 1960 terjadi pada saat transisi ekonomi dan politik internasional.

Pasar minyak dunia saat itu didominasi oleh perusahaan multinasional Seven Sisters. OPEC mengembangkan visi, menetapkan tujuannya, dan mendirikan sekretariat pertama di Jenewa.

OPEC menerapkan “Declaratory Statement of Petroleum Policy in Member Countries pada tahun 1968, yang menekankan bahwa semua negara berhak untuk menjalankan kedaulatan atas sumber daya alam mereka.

2. Tahun 1970-an

OPEC mulai terkenal secara internasional selama dekade ini, sebab negara-negara anggotanya mulai mengambil kendali atas industri minyak domestik dan mulai memainkan peran yang lebih besar di pasar minyak dunia. 

OPEC memperluas mandatnya dengan mengadakan KTT pertama yang dihadiri Kepala Negara dan Pemerintahan di Aljir pada tahun 1975.

KTT itu membahas penderitaan negara-negara miskin dan menyerukan era baru dalam kerja sama hubungan internasional, demi kepentingan pembangunan dan stabilitas ekonomi dunia. 

Hal ini menyebabkan pembentukan OPEC Fund untuk pembangunan internasional pada tahun 1976. 

Baca Juga: Mohammed bin Salman: Biografi, Kekayaan, dan Bisnisnya

3. Tahun 1980-an

Pada dekade ini, permintaan energi dunia dan permintaan minyak mengalami penurunan pada awal 1980-an.

Pangsa pasar OPEC mengalami penurunan drastis akibatnya ketidakstabilan ekonomi di banyak negara anggota. 

Pada bakhir dekade ini, pasar minyak dunia mulai pulih. Hal ini didukung oleh OPEC yang melakukan penyesuaian produksi minyak yang dibagi di antara negara-negara anggota.

4. Tahun 1990-an

OPEC mengambil tindakan yang tepat untuk mengurangi dampak pasar dari konflik Timur Tengah pada tahun 1990-1991.

Kemerosotan ekonomi Asia Tenggara dan musim dingin di belahan bumi utara yang pada tahun 1998-1999 membuat pasar minyak kembali ke kondisi pertengahan 1980. 

Namun, pemulihan pasar minyak dunia dapat berlangsung dengan lebih cepat. Adanya dialog bersama negara produsen dan konsumen minyak senada dengan kemajuan berkelanjutan dalam hubungan OPEC dan negara non-OPEC. 

Setelah Earth Summit tahun 1992, OPEC mencari keadilan, keseimbangan, dan realisme dalam perlakuan pasokan minyak. Ada satu negara keluar dari OPEC, sementara yang lain menangguhkan status keanggotaannya.

5. Tahun 2000-an

OPEC melanjutkan upayanya untuk membantu memperkuat dan menstabilkan pasar minyak global pada tahun-tahun awal dekade ini.

Namun, kombinasi kekuatan pasar, spekulasi, dan faktor-faktor lain mengubah situasi pada tahun 2004 yang mendorong volatilitas di pasar minyak mentah dunia.

Ketidakstabilan pasar terus meningkat pada awal 2008 dan sempat memicu resesi global. OPEC mendukung sektor minyak sebagai bagian dari upaya global untuk mengatasi krisis ekonomi.

KTT kedua dan ketiga OPEC di Caracas dan Riyadh pada tahun 2000 dan 2007 menetapkan pasar energi yang stabil, pembangunan berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan sebagai tiga tujuan utama.

Baca Juga: 13 Perusahaan Tambang Terbesar di Indonesia, Siapa Juaranya?

6. Tahun 2010-an

Ancaman ekonomi global merupakan risiko utama bagi pasar minyak pada awal dekade ini, karena ketidakpastian makroekonomi global dan meningkatnya risiko sistem keuangan internasional. 

Meningkatnya konflik di banyak negara mempengaruhi penawaran dan permintaan minyak sepanjang paruh pertama dekade ini, meskipun pasar tetap relatif stablil. 

Pasar minyak mulai stabil antara tahun 2011 sampai pertengahan 2014, sebelum akhirnya kelebihan pasokan menyebabkannya pasar minyak melemah. 

Pola perdagangan kemudian terus bergeser, dengan permintaan minyak global yang meningkat, khususnya di kawasan Asia. 

Fokus dunia pada masalah lingkungan mulai meningkat, menghasilkan Paris Agreement pada tahun 2015 yang telah ditandatangani oleh Negara-negara Anggota OPEC. 

OPEC terus menghadiri pertemuan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of the Parties (COP) untuk berdialog dan bertukar pandangan.

Kondisi pasar menyebabkan munculnya deklarasi kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bulan Desember 2016, dengan anggota OPEC dan 10 negara penghasil minyak non-OPEC.

OPEC mengadakan tiga Seminar Internasional pada tahun 2012, 2015 dan 2018, yang mengundang sejumlah perwakilan dari negara-negara produsen dan konsumen minyak.

OPEC terus berusaha menciptakan stabilitas pasar dan berusaha untuk lbih meningkatkan dialog dan kerja samanya dengan produsen, konsumen, organisasi internasional, lembaga dan pemangku kepentingan industri lainnya.

7. Tahun 2020-an

Awal dekade baru disambut dengan merebaknya pandemi COVID-19 yang berdampak pada hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari. 

Pandemi memiliki dampak yang merugikan pada ekonomi dunia dan sektor energi, menekan negara-negara untuk mengambil langkah-langkah tegas yang diperlukan untuk memperlambat penyebaran virus dan melawan dampaknya.

Pasar minyak dunia mengalami penurunan, hal ini mendorong OPEC dan mitranya untuk mengintensifkan upaya kolaboratif untuk memulihkan stabilitas pasar.

Upaya ini melibatkan banyak negara dan organisasi, termasuk Menteri Energi G20, Argentina, Brasil, Kanada, Kolombia, Norwegia, Organisasi Produsen Minyak Afrika, Badan Energi Internasional, Forum Energi Internasional, dan banyak produsen swasta.

Baca Juga: Pengertian Komoditas dan Daftarnya yang Jadi Primadona Eskpor RI

Mengapa Harga Minyak Dunia Tidak Stabil?

Sejarah OPEC, Tujuan, dan Negara Anggotanya
(Foto pom bensin. Sumber: Freepik.com)

Salah satu fakta umum dari pasar minyak dunia adalah harganya yang terus berubah. Seperti halnya komoditas barang lain, harga minyak dunia juga dapat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran.

Ketika penawaran melebihi permintaan, maka harga akan turun. Sebaliknya, ketika permintaan melebihi persediaan yang ada, maka harganya akan naik.

Penurunan dramatis harga minyak pada tahun 2014 dikaitkan dengan permintaan minyak yang lebih rendah di Eropa dan Cina, ditambah dengan pasokan minyak yang stabil dari OPEC.  Kelebihan pasokan minyak menyebabkan harga minyak turun tajam.

Bencana alam merupakan faktor lain yang dapat menyebabkan harga minyak berfluktuasi. 

Misalnya, ketika Badai Katrina melanda AS bagian selatan pada tahun 2005, mempengaruhi hampir 20% pasokan minyak AS, hal itu menyebabkan harga minyak naik.

Jika terjadi bencana alam seperti gempa bumi yang dapat mempengaruhi pergerakan tanah, maka sangat mungkin lokasi pengeboran minyak terdampak kerusakan sehingga tidak dapat beroperasi.

Gejolak politik dan keamanan dunia juga kerap kali mempengaruhi harga minyak, terutama negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga: 10 Daerah Penghasil Karet Terbesar di Indonesia

Potensi Minyak Bumi Indonesia

Sejarah OPEC, Tujuan, dan Negara Anggotanya
(Foto tambang minyak. Sumber: Freepik.com)

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia akan tersedia hingga 9,5 tahun mendatang, sementara umur cadangan gas bumi Indonesia mencapai 19,9 tahun.

“Ini dengan asumsi tidak ada penemuan baru dan tingkat produksi saat ini sebanyak 700 ribu barel oil per day (bopd) dan gas 6 billion standard cubic feet per day (bscfd),” kata Arifin dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Selasa (19/1/2021).

Perhitungan cadangan minyak tersebut berdasarkan data tahun 2020 dengan asumsi tidak ada penemuan cadangan migas baru.

Indonesia memiliki cadangan minyak bumi nasional sebesar 4,17 miliar barel dengan cadangan terbukti (proven) sebanyak 2,44 miliar barel. Sementara data cadangan yang belum terbukti sebesar 2,44 miliar barel.

Sementara itu, menurut Katadata, cadangan minyak bumi Indonesia terus menipis dalam 10 tahun terakhir.

Indonesia memiliki 7,73 miliar barel minyak pada tahun 2011. Pada tahun 2021, cadangan minyak Indonesia hanya tersisa 3,95 barel saja.

Melansir dari laman ugm.ac.id, menurut Dosen Teknik Geologi FT UGM, Salahudin Husein, Ph.D, sumber-sumber minyak baru hingga saat ini masih terus dilakukan. Namun demikian, upaya tersebut belum mampu menutup kebutuhan minyak dalam negeri. 

Pasalnya, Indonesia telah menjadi net-importir minyak bumi selama 20 tahun terakhir. Kondisi tersebut disebabkan karena tingginya konsumsi minyak nasional yang tidak disertai dengan peningkatan produksi minyak nasional.

Ungkap Salahudin, Secara umum eksplorasi migas di Indonesia dikelompokkan menjadi kawasan Indonesia Barat (Kalimantan, Jawa, Sumatera) dan kawasan Indonesia Timur (Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara). 

Di kawasan Indonesia Barat, eksplorasi minyak sudah banyak dilakukan namun hasilnya belum bisa menemukan cadangan raksasa kembali. Sedangkan di kawasan Indonesia Timur, potensi eksplorasi minyak masih sangat besar.

Itulah penjelasan tentang sejarah OPEC, negara anggota, hingga potensi minyak bumi yang ada di Indonesia.

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X