Prospek Bisnis Properti Saat Resesi, Masih Menjanjikan?

Share this Post

prospek bisnis properti
Table of Contents
shopee pilih lokal

Kondisi ekonomi global tahun 2023 diprediksi semakin terpuruk, apakah prospek bisnis properti masih menjanjikan?

Dalam kondisi ekonomi yang makin tidak stabil, banyak negara di dunia yang kini memasuki jurang resesi. Indonesia sendiri sudah mengalami peningkatan inflasi dalam beberapa waktu terakhir.

Akibatnya, sejumlah kebijakan diambil oleh Bank Indonesia, salah satunya menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga berdampak langsung terhadap kenaikan bunga cicilan rumah dan properti.

Alhasil, banyak pihak yang memprediksi prospek bisnis properti pada tahun 2023 mendatang. Pasalnya, properti merupakan aset jangka panjang yang tidak akan mengalami penyusutan nilai.

Lantas, bagaimana prospek bisnis properti di tengah ancaman resesi?

Baca Juga: Yuk, Intip Konsep Salon Rumahan Cantik untuk Ide Bisnis

Kilas Balik Prospek Bisnis Properti Sepanjang Tahun 2022

prospek bisnis properti
(Foto jual beli rumah. Sumber: Freepik.com)

Sepanjang tahun 2022, minat kepemilikan properti mengalami fluktuasi. Melansir dari berbagai sumber, secara umum sepanjang semester I/2022, bisnis properti menunjukkan performa yang baik.

Dalam sebuah pernyataan, portal jual beli properti 99 group mendapati adanya tren hunian di subsektor apartemen.

Akan tetapi, tren pasar apartemen belum seramai minat masyarakat terhadap rumah tapak. Adapun lokasi populer yang dijadikan sasaran pembelian properti ini adalah di wilayah Jakarta Selatan, Tangerang, dan Bandung.

Optimisme bisnis properti sebenarnya terus meningkat pasca pandemi. Berdasarkan riset yang dilakukan Knight Frank Indonesia, sebanyak 90 persen pelaku industri properti optimistis sektor properti tanah air akan pulih pada tahun 2022.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) dari Bank Indonesia yang dilakukan terhadap sampel developer di 18 kota, mencatatkan Indeks Harga Properti Properti Residensial (IHPR) Triwulan 1-2022 tumbuh 1,87 persen secara tahunan.

Selain properti residensial, sektor properti komersial, seperti rumah toko (ruko) dan kantor juga mengalami pertumbuhan positif sepanjang triwulan I-2022.

Berdasarkan survei dan laporan BI, baik properti residensial maupun komersial dapat dikatakan memiliki prospek yang cerah. Hal ini karena sektor tersebut menunjukkan tren pertumbuhan positif tiap kuartal.

Baca Juga: Bisnis Bisa Tetap Untung saat Resesi, Catat Tipsnya!

Dampak Suku Bunga Tinggi Terhadap Sektor Properti

Prospek Bisnis Properti Saat Resesi, Masih Menjanjikan?
Foto kunci rumah. Sumber: Freepik.com)

Tren kenaikan suku bunga BI disebut-sebut akan mempengaruhi minat masyarakat untuk mengambil cicilan, termasuk dalam sektor properti.

Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, prospek bisnis properti sektor menengah-bawah kemungkinan masih tahan banting.

“Sektor properti sekarang mulai bangkit lagi. Memang tidak muda saat suku bunga mulai naik, mungkin yang kelompok menengah bawah akan bisa lebih kuat dari sisi pertumbuhannya,” kata Sri Mulyani dalam Kompas100 CEO Forum 2022 (2/12).

Akan tetapi, kenaikan suku bunga akan membuat bisnis properti tidak mudah. Suku bunga menjadi faktor ketiga terbesar yang menghambat penjualan properti selain kenaikan harga bahan bangunan dan masalah birokrasi.

Banyak bank sentral di dunia, termasuk Bank Indonesia yang sudah menaikkan suku bunga demi melawan inflasi. Ketika suku bunga baik, kredit properti juga berpotensi ikut mengalami kenaikan.

Baca Juga: 7 Strategi Efisiensi UMKM Saat Resesi Tanpa PHK Karyawan

Prospek Bisnis Properti Tahun 2023

Prospek Bisnis Properti Saat Resesi, Masih Menjanjikan?
Foto area perumahan. Sumber: Freepik.com)

Memasuki akhir tahun 2022, situasi ekonomi global semakin memburuk. Beberapa ahli menyebutkan bahwa tahun 2023 mendatang akan dipenuhi tantangan ekonomi.

Hal tersebut turut berdampak terhadap berbagai pelaku usaha di berbagai sektor, terutama yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Sektor properti menjadi salah satu bisnis yang terdampak langsung krisis ekonomi global.

Pasalnya, ketika bank sentral menaikkan suku bunga, maka bunga cicilan rumah juga berpotensi naik. Alhasil, banyak orang yang berpikir ulang ketika ingin mengambil cicilan properti.

Ditambah lagi, banyak orang yang kini lebih mengefisienkan penggunaan uangnya demi menjaga kondisi finansial yang baik. Pasalnya, gelombang PHK dan naiknya harga-harga juga menjadi ancaman utama.

Meski di tengah ketidakstabilan ekonomi, beberapa pengusaha properti tetap optimis bahwa bisnisnya akan tetap menarik meski di bawah ancaman resesi.

Dalam sebuah pernyataan, Marketing Director PT Agung Podomoro Land Tbk Agung Wirajaya menyampaikan keyakinannya bahwa industri properti akan tumbuh positif tahun depan.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang baik dan diprediksi akan terus tumbuh positif pada tahun 2023.

Ditambah lagi, kebutuhan properti khususnya hunian atau rumah masih cukup besar di Indonesia, baik rumah pertama maupun sebagai aset investasi.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan, backlog atau kekurangan tempat tinggal di Indonesia saat ini masih tinggi, mencapai 12,75 juta unit.

Ditambah lagi, pengusaha properti juga menyadari bahwa sektor properti merupakan investasi yang paling aman meski di tengah ancaman krisis ekonomi maupun gejolak sosial.

Di samping itu, guna menghadapi ancaman resesi, pengusaha properti juga perlu bersiap.

Dalam sebuah pernyataan, Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady mengatakan bahwa antisipasi imbas resesi global terhadap sektor properti harus dicermati secara jeli.

Terkait sektor properti, Ia mengatakan prospek bisnis properti akan tetap memiliki peluang pertumbuhan. Sebab dari segi investasi, properti masih jadi aset yang baik ditengah kondisi ekonomi saat ini.

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro juga menilai Indonesia memiliki berbagai keunggulan untuk bertahan menghadapi ancaman resesi.

Kehadiran kelas menengah yang secara demografi berusia didominasi usia muda turut memperkuat perekonomian nasional melalui konsumsi domestik.

Indonesia memiliki cadangan daya beli domestik cukup besar, ditambah lagi pembangunan infrastruktur yang makin membuat perekonomian semakin terintegrasi.

Baca Juga: 7 Cara Menghasilkan Uang Tambahan Saat Resesi

Itulah penjelasan tentan prospek bisnis properti di tengah ancaman resesi.

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X