Apa Itu Necessity Entrepreneur? Ini Dia Penjelasan Berikut Contohnya

Share this Post

necessity entrepreneur
Table of Contents
shopee pilih lokal

Ada banyak alasan di balik seseorang memulai sebuah bisnis. Jika kamu mendirikan usaha karena terpaksa oleh kondisi, bisa jadi kamu adalah seorang necessity entrepreneur.

Definisi paling sederhana entrepreneur adalah orang yang mengidentifikasi kebutuhan dan memulai bisnis untuk mengisi kekosongan itu. 

Namun, ada pula pendapat bahwa pengusaha “sejati” harus menghasilkan produk atau layanan baru yang inovatif. Kemudian menjalankan bisnis untuk menjual dan mendapatkan keuntungan dari inovasi tersebut.

Di bawah definisi yang luas tersebut, ada orang-orang yang menjadi entrepreneur karena kebutuhan. 

Mereka mau tak mau memulai bisnis mereka sendiri karena kehilangan pekerjaan, untuk menambah penghasilan, atau mendapatkan fleksibilitas untuk memenuhi tuntutan lain dalam hidup mereka.

Jadi, seperti apa itu necessity entrepreneur? Simak penjelasannya di bawah ini, ya.

Baca Juga: Miliki 10 Sifat Entrepreneur Ini Jika Ingin Sukses Berbisnis

Pengertian Necessity Entrepreneur

necessity entrepreneur
(Foto pengangguran biasanya menjadi necessity entrepreneur. Sumber: Freepik.com)

Berdasarkan hasil riset NBER, necessity entrepreneur adalah seorang individu yang awalnya menganggur sebelum memulai bisnis. 

Jadi, dapat dikatakan individu tersebut memulai bisnisnya atas dasar kebutuhan mencari nafkah karena tidak terserap pada lapangan kerja.

Namun pengertian ini tidak dapat dipisahkan dengan opportunity entrepreneur. Adapun pengertian opportunity entrepreneur adalah individu yang tidak menganggur sebelum memulai bisnis. 

Tidak menganggur di sini, dalam artian sebelumnya individu tersebut sebelumnya merupakan pekerja yang diberi upah, terdaftar di sekolah atau perguruan tinggi, atau tidak aktif mencari pekerjaan.

Entrepreneurship secara keseluruhan dinilai NBER sebagai sesuatu yang kontra-siklus. Namun begitu adanya perbedaan distingtif antara “necessity” dan “opportunity”, asosiasi entrepreneurship dengan siklus bisnis menjadi lebih jelas.

Opportunity entrepreneur umumnya bersifat pro-siklus, sedangkan necessity entrepreneur sangat berlawanan dengan siklus. Selain itu, opportunity entrepreneur juga terkait erat dengan bisnis yang lebih berorientasi pada pertumbuhan.

Meski terdapat perbedaan antara keduanya, kita tidak bisa benar-benar membuat definisi yang pasti mengenai apa itu necessary entrepreneur dan opportunity entrepreneur.

Tidak semua para pengangguran yang memulai bisnis sendiri seketika dikatakan sebagai necessity entrepreneur. Hal ini karena ada golongan pengangguran yang sebenarnya memiliki peluang baik di lapangan pekerjaan.

Sebaliknya, tidak semua bisnis yang diciptakan dari golongan pekerja yang menerima upah akan menjadi wirausaha yang tergolong “opportunity”. 

Hal ini karena tidak sedikit pula golongan pekerja yang menerima upah rendah, sehingga butuh penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Adapun definisi entrepreneurship atau kepemilikan bisnis yang lebih luas, ditentukan oleh faktor penawaran dan permintaan. 

Pergeseran ke luar, dengan kata lain permintaan pasar yang tinggi akan barang dan jasa, biasanya dapat memunculkan para opportunity entrepreneur.

Di sisi lain, pergeseran ke dalam, rendahnya tawaran atau lowongan pekerjaan, membuat banyak tenaga kerja usia produktif tidak terserap dan menjadi necessity entrepreneur.

Bagaimana pun, fluktuasi ekonomi cenderung memengaruhi semua faktor ini dan tidak hanya berdampak pada satu sisi saja. Jadi, sulit untuk membedakan secara tegas mengenai motivasi yang mendasari seseorang memulai bisnis.

Baca Juga: 7 Cara Personal Branding Sebagai Entrepreneur, Tingkatkan Kepercayaan Mitra Bisnis

Jenis-Jenis Entrepreneur

necessity entrepreneur
(Foto serorang entrepreneur. Sumber: Freepik.com)

Entrepreneur atau wirausaha tidak hanya terkait pada opportunity dan necessity entrepreneur saja.

Kamu perlu tahu sejumlah jenis wirausaha lainnya. Hal ini karena motivasi seseorang menjadi seorang wirausahawan tidak terbatas pada dua opsi saja.

Ada banyak alasan atau kondisi tertentu yang membuat seseorang untuk memulai bisnis. Untuk lebih mudah memahaminya, Bryan Pace menyederhanakannya menjadi empat jenis entrepreneur.

1. Wanna Be Entrepreneur

Jenis entrepreneur yang satu ini adalah individu yang memiliki ide bisnis atau sering kali beberapa ide bisnis yang mereka yakini akan sukses di pasar. 

Sebagian besar dari ide-ide ini mungkin akan berhasil, tetapi Wanna be entrepreneurs kurang memiliki kepercayaan diri, dorongan, pengetahuan, atau motivasi untuk mewujudkannya. 

Tipe individu seperti ini hanya bisa berharap, bermimpi, dan sering berpikir tentang memulai bisnis mereka sendiri suatu hari nanti. Namun mereka menunggu “momen tepat” yang tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi. 

Wanna be entrepreneur cukup puas dan merasa aman dalam pekerjaan mereka saat ini. Mereka tidak ingin atau takut meninggalkan comfort zone yang menyertai pekerjaan itu.

Apa yang tidak disadari oleh wanna be entrepreneur, yaitu pekerjaan mereka yang memberikan rasa aman dan nyaman justru menahan mereka untuk berkembang untuk memulai bisnis sendiri.

Lebih baik mencoba kemudian gagal, ketimbang tidak mencoba sama sekali. Dari kegagalan, kamu bisa belajar lebih banyak hal.

2. Opportunity Entrepreneur

Jenis entrepreneur yang satu ini memiliki satu atau banyak ide bisnis. Namun tidak seperti wanna be entrepreneur, mereka berani membawa ide tersebut, menemukan peluang di pasar, lalu mengimplementasikannya.

Opportunity entrepreneur tidak menunggu “momen yang tepat”, karena tahu tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk memulai bisnis.

Meski demikian, seorang opportunity entrepreneur tidak mengejawantahkan ide-idenya dengan sembarangan.

Jika kamu ingin menjadi opportunity entrepreneur, kamu perlu menyediakan waktu untuk riset, belajar, menetapkan tujuan, menemukan mentor, membuat strategi, sehingga ide kamu bisa lepas landas menjadi sebuah bisnis.

3. Necessity Entrepreneur

Jenis selanjutnya, yaitu necessity entrepreneur. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, jenis entrepreneur ini adalah individu yang mau tak mau menjadi wirausahawan karena kebutuhan mendesak.

Para wirausahawan ini adalah mereka yang putus asa karena pendapatan tidak memadai, kehilangan pekerjaan, atau lapangan kerja yang buruk. 

Mereka akhirnya memutuskan untuk berusaha sendiri karena didorong oleh kebutuhan sehari-hari yang mendesak. 

Ciri khas necessity entrepreneur, yaitu mereka sering memulai bisnis yang terkait dengan dari bidang keahlian atau bisnis mereka saat ini. Bisa juga sesuatu yang berhubungan dengan hobi yang mereka nikmati dan cintai.

Namun sebagian besar necessity entrepreneur biasanya tidak memikirkan bisnis mereka dalam jangka panjang. Mereka berharap, suatu hari mendapat pekerjaan dan masuk dalam comfort zone.

Keinginan ini akan membuat para necessity entrepreneur sulit berkomitmen penuh dan menemukan kesuksesan dalam bisnis yang sedang mereka jalankan saat ini.

Namun jika para necessity entrepreneur bisa fokus dan menemukan kesuksesan dalam bisnisnya, mereka bisa saja memilih mempertahankan bisnis.

4. Serial Entrepreneur

Jenis entrepreneur yang satu ini adalah mereka yang dapat dikatakan kecanduan pada bisnis. Opportunity entrepreneur yang bersungguh-sungguh dengan bisnisnya, bisa berubah menjadi serial entrepreneur.

Kepuasan yang dari hasil bisnis yang sukses, mendorong dan memotivasi segala keputusan serta tindakan mereka. 

Para serial entrepreneur sudah mahir menetapkan tujuan yang jelas, membuat visi, perencanaan, dan bekerja keras untuk melaksanakan rencana tersebut serta mencapai tujuan mereka. 

Serial entrepreneur selalu mencari ide dan peluang yang ada di sekitar mereka. Meski mengalami kegagalan pada satu bisnis, mereka belajar kemudian bangkit lagi untuk melanjutkan atau bahkan membuat bisnis baru.

Baca Juga: 7 Tips Membentuk Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini

Contoh Necessity Entrepreneur

necessity entrepreneur
(Foto gig economy. Sumber: Freepik.com)

Setelah membaca penjelasan mengenai apa itu necessity entrepreneur, kamu pasti bertanya-tanya bisnis seperti apa yang dijalankan oleh wirausahawan ini.

Salah satu contoh necessity entrepreneur yang dalam beberapa tahun ini mulai banyak muncul, yaitu adanya pengusaha gig economy.

Gig economy ini sering kali berupa kontrak jangka pendek atau pekerjaan lepas. Yang melakukan kegiatan ini bisa freelancer penuh atau pekerja kantoran yang mencari pendapatan tambahan.

Pada dasarnya, gig economy menawarkan jasa atau menjual keterampilan kepada bisnis yang membutuhkan tenaga kerja jangka pendek. 

Munculnya freelance writer, virtual assistan, digital marketer, illustrator, hingga pengemudi ride hailing, semua ini adalah hasil dari gig economy.

Gig economy dianggap sebagai bentuk kewirausahaan yang baru muncul. Namun, ini menimbulkan perdebatan apakah ini sebuah kewirausahaan baru atau sekadar pekerjaan sampingan yang dilakukan orang untuk menambah penghasilan.

Baca Juga: 9 Syarat untuk Menjadi Wirausaha yang Berhasil

Itulah penjelasan singkat mengenai necessity entrepreneur dan beragam jenis entrepreneur lainnya sebagai pembanding. Jadi, kamu termasuk jenis entrepreneur yang mana?

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X