Perbedaan Make to Order dan Make to Stock dalam Bisnis

Share this Post

Table of Contents
shopee pilih lokal

Make to Order dan Make to Stock berkaitan dengan proses pengadaan barang. Apa saja perbedaan keduanya?

Ketika memulai bisnis, salah satu keputusan penting yang harus diambil adalah menentukan strategi produksi yang akan digunakan.

Dua strategi produksi yang umum digunakan adalah Make to Order dan Make to Stock. Dalam model Make to Order, produk diproduksi setelah menerima pesanan dari pelanggan.

Sedangkan dalam model Make to Stock, produk diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan dari pelanggan.

Kedua strategi produksi ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga perusahaan harus memilih strategi yang paling sesuai untuk bisnis mereka.

Dalam artikel ini, akan dibahas perbedaan antara Make to Order dan Make to Stock serta kelebihan, dan kekurangan dari masing-masing strategi.

Baca Juga: Cara Cek Kode Produksi, Penting untuk Ketahui Keamanan Barang

Pengertian Make to Order dan Make to Stock

make to order
Foto: Proses Pengadaan Barang (freepik.com)

Berikut perbedaan definisi kedua istilah tersebut.

Make to Order

Investopedia mendefinisikan bahwa Make to Order adalah proses produksi dimana produk dibuat setelah adanya permintaan atau pesanan dari pelanggan.

Make to Order adalah model bisnis yang sangat bergantung pada permintaan pelanggan.

Dalam model ini, perusahaan tidak memproduksi barang sebelum adanya permintaan atau pesanan dari pelanggan.

Setelah pesanan diterima, produk akan diproduksi sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan pelanggan.

Dalam model Make to Order, perusahaan dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan dapat memperoleh produk yang diinginkan.

Contoh produk Make to Order adalah barang-barang custom seperti hadiah wisuda, bucket bunga, hampers, dan sebagainya.

Make to Stock

Dilansir dari Investopedia, Make to Stock adalah proses produksi dimana produk diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan dari pelanggan.

Produk kemudian disimpan dalam stok atau persediaan dan dijual ketika permintaan dari pelanggan muncul.

Dengan demikian, perusahaan tidak harus menunggu sampai menerima pesanan dari pelanggan. Sebab, produk sudah diproduksi dan tersedia untuk dijual kapan saja.

Contoh produk Make to Stock adalah pakaian, produk FMCG, makanan instan, dan sebagainya.

Baca Juga: Jenis Consumer Goods dan 8 Perusahaan yang Memproduksinya

Karakteristik Make to Order dan Make to Stock

Perbedaan Make to Order dan Make to Stock dalam Bisnis
Foto: Proses Produksi Barang (freepik.com)

Secara karakteristik, berikut perbedaan antara Make to Order dan Make to Stock.

Make to Order

Berikut penjelasan karakteristik Make to Order:

  • Produksi Berbasis Pesanan: Produk diproduksi berdasarkan pesanan pelanggan, sehingga produk tidak diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan.
  • Fleksibilitas Produksi: Dalam model Make to Order, perusahaan dapat menyesuaikan proses produksi dengan spesifikasi dan kebutuhan pelanggan. Proses produksi juga dapat diubah atau ditingkatkan sesuai dengan permintaan pelanggan.
  • Waktu Produksi yang Lebih Lama: Karena produk dibuat setelah adanya permintaan atau pesanan, waktu produksi cenderung lebih lama dibandingkan dengan model Make to Stock. Hal ini disebabkan karena perusahaan harus mempersiapkan bahan baku dan proses produksi setelah pesanan diterima.
  • Biaya Produksi yang Lebih Tinggi: Karena produk dibuat khusus untuk setiap pesanan, biaya produksi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan model Make to Stock. Hal ini disebabkan karena perusahaan harus mempersiapkan bahan baku dan proses produksi setiap kali ada pesanan.
  • Fokus pada Pelanggan: Model Make to Order menempatkan pelanggan sebagai prioritas utama dalam proses produksi. Dengan menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan, perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari kepuasan pelanggan.

Baca Juga: Simak Fungsi Perencanaan Produksi agar Bisnismu Efisien!

Make to Stock

Berikut penjelasan karakteristik Make to Stock:

  • Produksi Berdasarkan Perkiraan: Produk diproduksi berdasarkan perkiraan permintaan pasar, sehingga produk diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memproduksi dalam jumlah besar dan mempersiapkan persediaan untuk memenuhi permintaan pasar.
  • Efisiensi Produksi: Dalam model Make to Stock, proses produksi dapat diatur secara efisien karena perusahaan dapat mempersiapkan proses produksi dan bahan baku sebelum permintaan muncul. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memproduksi dalam jumlah besar dan dengan biaya produksi yang lebih rendah.
  • Waktu Produksi yang Lebih Cepat: Karena produk diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan, waktu produksi cenderung lebih cepat dibandingkan dengan model Make to Order. Hal ini disebabkan karena perusahaan dapat mempersiapkan proses produksi dan persediaan sebelum permintaan muncul.
  • Risiko Persediaan Kosong yang Rendah: Dalam model Make to Stock, perusahaan memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menghindari risiko kehabisan persediaan dan kehilangan pelanggan.
  • Fokus pada Efisiensi Produksi: Model Make to Stock menempatkan efisiensi produksi sebagai prioritas utama dalam proses produksi. Dengan memproduksi dalam jumlah besar, perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari biaya produksi yang lebih rendah dan meningkatkan efisiensi produksi.

Baca Juga: Perusahaan Agraris: Jenis, Ciri, dan Contoh Produknya

Kelebihan dan Kekurangan

Perbedaan Make to Order dan Make to Stock dalam Bisnis
Foto: Produk Skin Care (freepik.com)

Make to Order dan Make to Stock juga memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Berikut masing-masing penjelasannya.

Make to Order

Berikut beberapa kelebihan Make to Order:

  1. Customization: Model Make to Order memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan. Hal ini dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dan membuat produk lebih menarik di pasar.
  2. Penghematan Biaya Persediaan: Dalam model Make to Order, perusahaan tidak perlu mempertahankan persediaan produk yang tidak terjual. Hal ini dapat menghemat biaya persediaan dan meningkatkan keuntungan perusahaan.
  3. Pengambilan Keputusan yang Lebih Akurat: Model Make to Order memungkinkan perusahaan untuk memperoleh informasi yang lebih akurat tentang preferensi dan kebutuhan pelanggan. Hal ini dapat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat mengenai produk dan pasar.
  4. Fleksibilitas: Model Make to Order memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan proses produksi dengan spesifikasi dan kebutuhan pelanggan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengikuti tren pasar dan menanggapi perubahan permintaan pelanggan dengan cepat.

Adapun kekurangan metode produksi ini, yaitu:

  1. Waktu Produksi yang Lebih Lama: Karena produk dibuat setelah adanya permintaan atau pesanan, waktu produksi cenderung lebih lama dibandingkan dengan model Make to Stock. Hal ini dapat menyebabkan penundaan dalam pengiriman produk dan dapat menurunkan kepuasan pelanggan.
  2. Biaya Produksi yang Lebih Tinggi: Karena produk dibuat khusus untuk setiap pesanan, biaya produksi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan model Make to Stock. Hal ini dapat menurunkan keuntungan perusahaan.
  3. Risiko Penolakan Pesanan: Model Make to Order memungkinkan pelanggan untuk membatalkan pesanan setelah diproduksi, jika tidak sesuai dengan kebutuhan atau preferensi. Hal ini dapat menyebabkan kerugian perusahaan dan mengganggu persediaan produk.

Baca Juga: 10 Daerah Penghasil Kopi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua!

Make to Stock

Berikut beberapa kelebihan Make to Stock:

  1. Waktu Produksi Relatif Cepat: Dalam model Make to Stock, produk diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mempersiapkan persediaan produk sebelumnya sehingga dapat memenuhi permintaan pasar dengan lebih cepat.
  2. Biaya Produksi yang Rendah: Karena produk diproduksi dalam jumlah besar, biaya produksi cenderung lebih rendah dibandingkan dengan model Make to Order. Hal ini dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.
  3. Risiko Penolakan Pesanan yang Rendah: Dalam model Make to Stock, perusahaan memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar. Hal ini dapat mengurangi risiko penolakan pesanan dan kerugian perusahaan.
  4. Efisiensi Produksi yang Tinggi: Dalam model Make to Stock, proses produksi dapat diatur secara efisien karena perusahaan dapat mempersiapkan proses produksi dan persediaan sebelum permintaan muncul. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya produksi.

Adapun kekurangan Make to Stock, yakni:

  1. Keterbatasan Customization: Dalam model Make to Stock, produk diproduksi sebelum adanya permintaan atau pesanan, sehingga perusahaan tidak dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan. Hal ini dapat membuat produk kurang menarik di pasar.
  2. Biaya Persediaan yang Tinggi: Dalam model Make to Stock, perusahaan harus mempertahankan persediaan produk yang tidak terjual. Hal ini dapat meningkatkan biaya persediaan dan menurunkan keuntungan perusahaan.
  3. Risiko Kehabisan Persediaan: Dalam model Make to Stock, perusahaan harus memperkirakan permintaan pasar sebelumnya dan memproduksi produk dalam jumlah besar. Jika perkiraan permintaan pasar salah atau terjadi perubahan di pasar, perusahaan dapat mengalami risiko kehabisan persediaan.

Demikian penjelasan tentang perbedaan metode produksi Make to Order dan Make to Stock dalam bisnis.

Semoga dapat menambah wawasanmu, ya!

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X