Mengenal Industri Garment, Ini Bedanya dengan Tekstil

Share this Post

Table of Contents

Sandang merupakan kebutuhan pokok setiap manusia. Nah, salah satu industri yang berperan untuk menghasilkan produk pakaian ialah garment.

Garment adalah industri yang bergerak untuk membuat kain menjadi pakaian jadi. Tujuannya ialah untuk melindungi tubuh manusia atau sebagai fungsi dekorasi/alasan kecantikan.

Beberapa hasil produksi garmen yang pasti pernah kamu temui di pasaran yaitu kaos, celana, kemeja, jaket, rok, dan lain sebagainya.

Yuk, cari tahu lebih lanjut mengenai industri garment. Mulai dari perbedaannya dengan tekstil hingga proses produksinya!

Baca Juga: 9 Jenis Usaha Pakaian yang Bisa Jadi Ide Bisnis

Perbedaan Garment dengan Tekstil

beda garments dengan tekstil
Foto: Industri Tekstil (pexels.com)

Seringkali, garment dan tekstil dianggap sebagai satu istilah dengan makna yang sama. Padahal, keduanya berbeda, lho.

Garment adalah produsen yang memproduksi pakaian jadi dalam skala besar.

Di dalamnya, ada banyak sekali mesin jahit dan orang yang terlibat dalam proses pembuatannya sehingga bisa menghasilkan hingga ribuan potong pakaian.

Sebuah pabrik garmen biasanya beroperasi dengan berbagai teknologi canggih dan praktis. Jadi, proses produksi jauh lebih efisien untuk menunjang kecepatan kerja dan kualitas produk dalam mencapai target.

Sementara tekstil adalah proses mengubah serat menjadi benang, yang kemudian menjadi bahan atau kain yang siap dijahit.

Dalam hal ini, proses tekstil meliputi pemintalan, penenunan, perajutan, finishing atau pencelupan, dan pencetakan.

Secara sederhananya, perbedaan garmen dengan tekstil yaitu garmen lebih berfokus pada pembuatan pakaian jadi.

Sedangkan tekstil mencakup keseluruhan proses pembuatan pakaian mulai dari serat hingga pakaian jadi.

Baca Juga: 8 Cara Berbisnis Pakaian di Rumah, Berikut Persiapannya

Proses Produksi Industri Garment

tahap produksi garment
Foto: Operator Mesin Jahit di Pabrik Garment (pexels.com)

Lantas, seperti apa proses produksi industri garment? Tentunya, proses pembuatan pakaian jadi bisa mencakup banyak sekali tahap.

Berikut ini proses produksi dalam industri garment yang perlu kamu ketahui.

1. Receiving Fabrics

Proses pertama dalam produksi industri garmen adalah receiving fabrics. Dalam hal ini, pabrik garmen menerima kain dari produsen tekstil yang berbentuk gulungan dengan bagian tengahnya terdapat tabung karton.

Biasanya, proses pengiriman kain dari produsen tekstil dilakukan menggunakan container dan dibongkar dengan forklift.

Pabrik garmen juga umumnya memiliki gudang atau area khusus untuk menyimpan kain yang baru datang dan kain yang siap masuk proses produksi.

2. Fabric Relaxing

Langkah selanjutnya ialah fabric relaxing. “Relaksasi” mengacu pada proses yang memungkinkan material untuk rileks dan berkontraksi sebelum diproduksi.

Langkah ini diperlukan karena bahan baku kain tersebut terus-menerus berada di bawah tegangan selama berbagai tahapan proses pembuatan tekstil, mulai dari tahap menenun, mewarnai, dan proses finishing lainnya.

Melalui proses ini, kain akan mengalami proses penyusutan sehingga penyusutan lebih lanjut selama penggunaan oleh pelanggan dapat diminimalisir.

Produsen garmen dapat melakukan proses relaksasi kain baik secara manual maupun mekanis menggunakan bantuan mesin otomatis.

Apabila dalam proses fabric relaxing ini ditemukan cacat produksi seperti ketidakkonsistenan warna atau cacat pada bahan, pabrik garmen akan mengirimkan kain kembali ke produsen tekstil.

3. Spreading, Form Layout, dan Cutting

Tahap produksi berikutnya dalam pabrik garmen yaitu spreading, form layout, dan juga cutting.

Melansir laman Textile School, kain akan dipotong menjadi lapisan yang seragam dan kemudian disebarkan secara manual atau menggunakan sistem yang dikendalikan komputer.

Hal ini dilakukan agar operator produksi bisa mengidentifikasi cacat kain, mengontrol ketegangan dan tingkat kekenduran kain selama pemotongan, sekaligus memastikan setiap lapisan memiliki kualitas yang sejajar secara akurat.

Selanjutnya, pola atau desain produk akan diletakkan di atas sebaran kain secara manual atau bisa otomatis.

Untuk kemudian, kain dipotong sesuai bentuk kebutuhan pabrik garmen menggunakan peralatan pemotongan manual/otomatis.

4. Laying

Laying merupakan proses produksi garment yang dilakukan dengan cara meletakkan pola kertas di atas kain sebelum pemotongan.

Saat peletakkan, pastikan polanya ditempatkan pada bagian yang benar sehingga tidak ada kesalahan cutting.

Jadi, proses ini membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi karena jika ada kesalahan, bisa berdampak besar selama proses produksi.

Baca Juga: 4 Cara Mendapatkan Baju Murah Tangan Pertama dari Pabrik, Dijamin Laris Manis!

5. Marking

Tahap berikutnya dalam produksi pabrik garment yaitu marking. Proses menandai kain sesuai pola ini dapat dilakukan secara manual maupun otomatis.

Biasanya, proses marking dilakukan menggunakan kertas penanda dengan simbol tertentu. Kemudian, alat penanda akan dipasangkan pada kain dengan menggunakan pin, staples, atau perekat kuat.

Dengan teknik marking, proses pemotongan kain dapat dilakukan lebih tepat, sesuai dengan perencanaan produksi yang telah ditetapkan.

6. Cutting

Setelah melewati beberapa proses di atas, kain kemudian memasuki tahap cutting atau pemotongan yang dapat dilakukan secara manual. Bisa juga dilakukan dengan menggunakan mesin otomatis.

Dari semua proses produksi, ini merupakan tahap yang paling krusial. Hal ini karena setelah kain dipotong, tidak bisa diubah kembali karena tingkat kesalahannya sudah masuk ke dalam tahap cacat serius.

Selain itu, tahap pemotongan kain dapat memengaruhi hasil akhir ketika memasuki proses menjahit. Jadi, proses cutting harus dilakukan dengan perencanaan yang tepat sesuai ketentuan produksi.

7. Embroidery dan Screen Printing

Selanjutnya, ada tahap embroidery dan screen printing. Biasanya, tahap ini dilakukan apabila ada permintaan khusus dari pelanggan.

Proses bordir sendiri dilakukan dengan menggunakan peralatan otomatis, sering kali dengan banyak mesin secara bersamaan yang menyulam pola sama pada beberapa pakaian sekaligus. Bordir ini bisa berupa hiasan atau logo merek pada pakaian.

Sementara itu, sablon adalah proses penerapan grafik berbasis cat ke kain menggunakan mesin press dan pengering tekstil.

Dalam prosesnya, sablon melibatkan penyapuan pisau karet melintasi layar berpori, mentransfer tinta melalui stensil dan ke kain. Potongan kain sablon kemudian dikeringkan untuk mengatur tinta.

Untuk dapat melakukan teknik sablon, pabrik garmen bisa menggunakan mesin otomatis atau dikerjakan secara manual.

Mirip dengan bordir, desain sablon pada biasanya ditentukan oleh pelanggan.

Pelanggan bisa menggunakan teknik sablon untuk memasang logo atau gambar lain pada pakaian sebagai dekorasi tambahan.

Bisa juga digunakan untuk mencetak informasi merek dan ukuran sebagai pengganti label yang ditempelkan pada pakaian.

8. Sewing

Sewing atau penjahitan dilakukan setelah potongan-potongan kain yang telah dipotong dikelompokkan sesuai dengan ukuran, warna dan jumlah yang ditentukan.

Dalam pabrik garmen, operator mesin jahit biasanya menerima seikat potongan kain dan akan menjahit bagian garmen yang sama berulang kali.

Kemudian, mereka akan meneruskan bagian yang sudah selesai itu ke operator mesin jahit berikutnya.

Misalnya operator pertama menjahit kerah ke badan. Sementara operator lainnya akan meneruskan bagian lain hingga produk selesai.

Lalu, di akhir jalur penjahitan, ada operator lain yang akan memastikan bahwa garmen telah dirakit dengan benar dan tidak ada cacat produksi.

Apabila ada kesalahan dalam proses sewing, garmen akan dikerjakan ulang atau diperbaiki di tempat jahit yang ditunjuk.

Pada akhirnya, potongan-potongan kain belum jadi tadi berubah menjadi pakaian jadi yang siap untuk dikenakan pelanggan.

Baca Juga: 8 Tips Menulis Deskripsi Produk Baju untuk Memikat Konsumen

9. Checking

Ketika produk selesai diproduksi, pabrik garment tidak akan langsung memasarkannya kepada konsumen. Melainkan, ada beberapa tahap penting lain yang harus dilewati.

Salah satunya proses checking, yang melibatkan pemeriksaan atau kontrol kualitas sesuai standar produksi yang telah ditetapkan.

Selama tahap ini, pemeriksaan produk harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan tingkat ketelitian tinggi. Dengan begitu, produk yang dihasilkan akan memiliki tingkat kualitas tinggi.

Pada akhirnya, pelanggan yang membeli akan merasakan kualitas produk terbaik sehingga mereka puas dan senang saat menerimanya.

10. Spot Cleaning dan Laundry

Selain mengidentifikasi cacat produksi, karyawan pabrik garment yang bertugas melakukan quality assurance juga harus mencari cacat kosmetik, noda, atau kotoran lain pada garmen yang mungkin terjadi selama proses pemotongan dan penjahitan.

Kecacatan pada produk garmen biasanya akan ditandai dengan stiker dan dibawa ke area pembersih noda. Di mana pakaian akan dibersihkan menggunakan uap, air panas, atau penghilang noda kimia.

Sebagian besar pelanggan pabrik garmen yang memproduksi pakaian meminta untuk membersihkan produknya terlebih dahulu sebelum dipasarkan.

Oleh karenanya, beberapa pabrik garmen memiliki laundry atau membuat perjanjian kerja sama dengan laundry di luar untuk melakukan proses ini.

Tentu saja, standar dan kualitas laundry yang digunakan untuk keperluan pabrik garmen sangatlah tinggi. Jadi, mesin laundry yang digunakan memiliki teknologi canggih sehingga hasilnya memuaskan.

11. Fusing dan Pressing

Peleburan dan pengepresan adalah dua proses yang memiliki pengaruh terbesar pada tampilan akhir garmen. Fusing dan pressing merupakan proses penentuan kualitas akhir pada produk garmen.

Setelah pakaian dijahit dan dirakit sepenuhnya, pakaian dipindahkan ke bagian pencucian lalu penyetrikaan di fasilitas pabrik garmen untuk pengepresan akhir.

Cara kerjanya mirip dengan proses menyetrika pakaian yang biasa dilakukan oleh rumah tangga, akan tetapi lebih canggih dan praktis.

Pekerja pabrik garmen akan mengontrol uap dengan pedal kaki dan uap dialirkan melalui selang atas langsung ke setrika.

Di beberapa pabrik garmen, platform setrika bahkan dilengkapi dengan sistem ventilasi yang mengalirkan uap melalui meja setrika dan membuangnya ke luar pabrik.

Uap dan pemanasan yang dilakukan selama proses setrika ini bertujuan untuk mengendurkan kain dan membuatnya cukup lentur untuk dibentuk.

Saat kain telah dikendurkan dengan uap, proses pressing pun akan diterapkan untuk mengatur serat kain menuju posisi barunya.

Setelah penggunaan fusing dan pressing, komponen atau garmen harus dikeringkan dan didinginkan agar kain dapat kembali ke kondisi normalnya.

Ini dilakukan dengan cara vakum sehingga dapat menghilangkan kelebihan air dari kain dan pada saat yang sama bisa mendinginkannya.

Selain vakum, proses pressing juga bisa dilakukan menggunakan pemanasan inframerah selama proses pengeringan.

12. Packaging dan Shipping

Terakhir, hasil produksi garment dilipat, diberi label, diukur, dan dikemas sesuai dengan spesifikasi pelanggan.

Selain itu, pakaian dapat dimasukkan ke dalam kantong plastik pelindung, baik secara manual atau menggunakan sistem otomatis, untuk memastikan bahan tetap bersih. Kemudian, dilakukan pressing untuk keperluan pengiriman.

Hasil produksi garmen lalu ditempatkan ke dalam kotak kardus dan dikirim ke pusat distribusi klien untuk akhirnya dijual di toko retail.

Sebagian besar garmen dikemas dalam kantong plastik, baik di akhir produksi atau saat memasuki toko barang jadi. Proses packaging dan shipping ini dapat dilakukan manual atau pun otomatis.

Baca Juga: 10 Kata-kata Promosi Baju Menarik, Bikin Penjualanmu Naik!

Itulah penjelasan seputar industri garment, beserta proses produksinya. Semoga bisa menambah pengetahuan kamu akan industri bisnis, ya!