Penerapan Ergonomi dalam Lingkungan Kerja untuk Tingkatkan Produktivitas Pekerja

Share this Post

ergonomi
Table of Contents

Dalam membangun lingkungan kerja yang efisien, ada banyak hal yang perlu kamu perhatikan. Salah satunya prinsip ergonomi, apa itu?

Ergonomi adalah suatu aturan atau norma dalam sistem kerja. Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani “ergon” yang artinya kerja dan “nomos” bermakna hukum alam.

Jadi, dapat dikatakan bahwa ergonomi merupakan ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental, sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik.

Pada dunia kerja, ergonomy memiliki peran yang sangat penting. Sebab, berhubungan dengan kenyamanan para pekerja sehingga lebih produktif.

Bagi kamu yang memiliki perusahaan, wajib memahami prinsip-prinsip ergonomy ini guna mendukung kinerja para karyawan sehingga hasil kerjanya lebih optimal.

Baca Juga: 12 Cara Menuju Sukses dalam Bekerja, Sudah Menerapkannya?

Pengertian Ergonomi

pengertian ergonomi
(Foto meja dan kursi kantor. Sumber: Unsplash.com)

Dikutip dari Buku Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi, ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerja.

Beberapa usaha yang dimaksud yaitu menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya, dan kelembaban yang bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.

Pada penerapannya, fokus ergonomy melibatkan tiga komponen utama yaitu manusia, mesin, dan lingkungan yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi tersebut menghasilkan suatu sistem kerja yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya yang dikenal dengan istilah worksystem.

Dalam dunia kerja, ergonomy merupakan aspek yang penting untuk diperhatikan. Semua pekerjaan bahkan membutuhkan ergonomy.

Hal ini karena ergonomy adalah disiplin yang berorientasi pada sistem, yang sekarang berlaku untuk semua aspek kegiatan manusia.

Ergonomy yang diterapkan di dunia kerja dapat membuat pekerja merasa nyaman dalam melakukan pekerjaan, sehingga produktivitas pun meningkat.

Baca Juga: 9 Indikator Kepuasan Kerja dan Cara Meningkatkannya

Tujuan Ergonomi

tujuan ergonomi
(Foto pekerja di kantor. Sumber: Pexels.com)

Dalam penerapannya di dunia kerja, ergonomy memiliki berbagai tujuan bagi manusia.

Dengan tujuan utamanya ialah untuk mempelajari batasan-batasan pada tubuh manusia dalam berinteraksi di lingkungan kerjanya baik secara jasmani maupun psikologis.

Selain itu, ergonomy bertujuan untuk mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat dan menghasilkan suatu produk yang nyaman.

Lebih lanjut, berikut tujuan diterapkannya ergonomy yang dikutip dari Jurnal Universitas Atma Jaya Yogyakarta:

  • Meningkatkan kesejahteraan fisik maupun mental melalui upaya pencegahan dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi, dan kepuasan kerja.
  • Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna sehingga meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah produktif.
  • Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek teknis, ekonomis, dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja sekaligus kualitas hidup yang tinggi.

Ruang Lingkup Ergonomi

ruang lingkup ergonomi
(Foto ruang kerja. Sumber: Pexels.com)

Untuk memudahkan pemahamannya secara menyeluruh, ergonomy dibagi ke dalam beberapa bagian. Ruang lingkup ergonomy tersebut meliputi:

1. Ergonomi Fisik

Jenis ergonomy fisik ini membahas mengenai antropometri, lingkungan fisik di tempat kerja, dan biomekanik.

Topik-topik yang relevan dalam ergonomy fisik antara lain posisi tubuh ketika duduk dan berdiri, posisi tubuh pada saat mengangkat, dan menjinjing beban.

Bagi kamu yang belum tahu, antropometri adalah bidang yang mengkaji dimensi fisik tubuh manusia. Dengan tujuan untuk merancang suatu produk, peralatan, dan tempat kerja.

Secara umum, antropometri ini dibagi ke dalam dua jenis yaitu:

  • Antropometri Statis

Antropometri statis berhubungan dengan pengukuran ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan statis (diam) yang distandarkan.

Dimensi yang diukur pada antropometri statis diambil secara linier (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh saat diam.

  • Antropometri Dinamis

Berbeda dengan antropometri statis, antropometri dinamis lebih berhubungan dengan pengukuran ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan dinamis.

Di mana dimensi tubuh manusia yang diukur dilakukan dalam berbagai posisi tubuh ketika bergerak sehingga lebih kompleks dan sulit dilakukan.

Biasanya data antropometri yang diperoleh akan diterapkan secara luas dalam hal perancangan areal kerja, perancangan peralatan kerja, perancangan produk-produk konsumtif, hingga perancangan lingkungan kerja secara fisik.

2. Ergonomi Kognitif

Ruang lingkung ergonomy selanjutnya yaitu ergonomy kognitif yang secara spesifik membahas tentang hubungan display dengan kontrol.

Umumnya, topik yang dibahas dalam jenis ergonomi ini meliputi beban kerja, pengambilan keputusan, dan stres kerja.

Beban kerja harus dianalisis berdasarkan aspek fisik, mental, dan penggunaan waktu agar sesuai dengan kemampuan si pekerja itu sendiri.

Jika beban kerja yang dialokasikan cenderung berlebihan, kualitas kerja dari manusia pun bisa menurun. Misalnya menyebabkan tingginya kesalahan dan merasa kelelahan, yang pada akhirnya memengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja.

Sementara itu, pengambilan keputusan merupakan suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia.

Hasil atau keluarannya dapat meliputi tindakan atau opini terhadap suatu pilihan yang tersedia.

Dalam mengambil keputusan, biasanya pekerja akan melakukan pertimbangan untung ruginya terlebih dahulu. Tentunya, mereka akan mengambil pilihan yang dirasa paling menguntungkan.

Baca Juga: 6 Tips Bekerja dari Rumah untuk Pebisnis Online

3. Ergonomi Organisasi

Selanjutnya, ada yang disebut sebagai ergonomy organisasi.

Dalam ergonomy ini, berkaitan erat dengan optimalisasi sistem teknis sosial, termasuk struktur organisasi, kebijakan, dan proses.

Topik yang relevan meliputi komunikasi, awak manajemen sumber daya, karya desain, kerja tim, koperasi kerja, program kerja baru, dan manajemen mutu.

4. Ergonomi Lingkungan

Ergonomy lingkungan berkaitan dengan pencahayaan, udara ruangan, kebisingan, dan juga getaran. Berikut penjelasan lengkap mengenai ergonomi lingkungan:

  • Pencahayaan

Pencahayaan merupakan aspek yang cukup dibutuhkan dalam proses melaksanakan pekerjaan. Untuk pekerjaan tertentu, memang diperlukan kadar pencahayaan khusus sebagai penerangannya.

Biasanya, pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketepatanlah yang membutuhkan intensitas pencahayaan lebih tinggi.

  • Udara Ruangan

Udara ruangan yang sehat merupakan upaya penting untuk dilakukan agar suhu dan kelembapan, debu, pertukaran udara, bahan pencemar, dan mikroba di ruang kerja memenuhi prasyarat kesehatan pekerja.

Biasanya, upaya yang dilakukan oleh penyedia kerja untuk memenuhi syarat kesehatan meliputi kegiatan pembersihan ruang kerja, pembersihan dinding, dan penyediaan ventilasi yang memadai.

  • Desain Ruang Kerja

Penting juga bagi para penyedia kerja untuk menyiapkan desain ruang kerja yang sesuai dengan standar berlaku, sehingga pekerja bisa lebih produktif.

Desain ruang kerja yang baik sesuai prinsip ergonomy ialah model terbuka dengan penyekat. Penyekat berupa dinding pemisah ini biasanya tidak didesain terlalu tinggi agar setiap pekerja bisa tetap berinteraksi dengan rekan kerja lain.

Dilansir dari Jurnal Universitas Indonesia, ada beberapa hal yang dapat menjadi faktor ruang kerja dapat dikatakan nyaman dan ergonomis, di antaranya:

  • Desain dan seluruh perlengkapan yang ada di dalamnya disesuaikan dengan ukuran tubuh pekerjanya.
  • Seluruh perlengkapan dan penunjang mudah diatur dan disesuaikan dengan pekerjanya.
  • Ruangan dapat mengakomodinir seluruh pekerjanya dan tidak terlalu padat. Berdasarkan aturan, ruangan milik pribadi untuk pekerja harus berukuran 2,4 m x 2,4 m hingga 3,6 m x 3,6 m.
  • Dinding pemisah dalam ruang kerja tidak boleh lebih dari 1,37 m sehingga masih ada kontak antar pekerja.
  • Ada jendela untuk masuk cahaya matahari dari luar.
  • Tidak banyak mesin-mesin yang dapat menganggu pekerjaan.
  • Warna untuk ruang kerja terang dan cerah.
  • Partisi yang digunakan harus terbuat dari bahan permanen, sehingga tidak mudah untuk lepas.
  • Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
  • Apabila suhu lebih dari 28 derajat, perlu digunakan alat penata udara seperti AC atau kipas angin.
  • Jika suhu udar luar kurang dari 180 derajat, perlu menggunakan pemanas ruang.

Prinsip Ergonomi

prinsip ergonomi
(Foto area perkantoran. Sumber: Pexels.com)

Sebagai penyedia kerja yang memiliki perusahaan, kamu wajib memahami prinsip-prinsip ergonomi guna meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Aplikasi atau penerapan ergonomi dalam lingkungan kerja dapat dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah.

Pertama, melakukan identifikasi masalah yang sedang dihadapi dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.

Kedua, menentukan prioritas masalah dan masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu. Kemudian dilakukan analisis untuk menentukan alternatif intervensi.

Berdasarkan Jurnal Universitas Muhammadiyah Malang, penerapan ergonomy harus memerhatikan beberapa hal ini:

  • Kondisi fisik, mental dan sosial harus diusahakan sebaik mungkin sehingga didapatkan tenaga kerja yang sehat dan produktif.
  • Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot.
  • Lingkungan kerja harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota tubuh sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien.
  • Pembebanan kerja fisik dimana selama bekerja peredaran darah meningkat 10-20 kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak.
  • Sikap tubuh dalam bekerja. Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapan yang dipergunakan, diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan.

Dampak Tidak Menerapkan Ergonomi

risiko tidak menerapkan ergonomi
(Foto cedera saat bekerja. Sumber: Pixabay.com

Ketika kamu mengabaikan prinsip-prinsip ergonomy dan tidak menerapkannya di lingkungan kerja, ada bahaya dan risiko yang mengintai.

Dampak utama pengabaian ergonomy ialah dapat menyebabkan MSDs (musculoskletal disorders). Ini merupakan cedera yang sering dialami oleh pekerja karena aktivitas kerja.

MSDs dapat meliputi cedera pada otot, urat syaraf, urat daging, tulang, persediaan tulang, dan tulang rawan.

Hal-hal yang dapat memengaruhi terjadinya MSDs yaitu peregangan otot yang berlebihan, melakukan aktivitas berulang, durasi, frekuensi, beban, hingga sikap kerja yang tidak alamiah.

Selain itu, ada pengaruh tekanan, getaran, mikroklimat, dan faktor kombinasi atau gabungan dari usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik, sampai dengan ukuran tubuh.

Nah, untuk mengurangi risiko terjadinya MSDs ini, kamu mungkin perlu melakukan perancangan ulang pekerjaan.

Dengan melakukan rotasi pekerjaan, perbanyakan dan pengayaan kerja, hingga pembentukan kelompok kerja yang efisien.

Selain itu, kamu sebagai pengelola perusahaan dapat melakukan perancangan tempat kerja, seperti memerhatikan kondisi lingkungan yang meliputi pencahayaan, suara, lantai, dan lainnya agar tempat kerja lebih nyaman.

Dibutuhkan juga perancangan peralatan dan perlengkapan yang layak mengurangi penggunaan tenaga yang berlebihan dalam menyelesaikan pekerjan.

Menyediakan pekerja dengan alat bantu ini dapat mengurangi sikap kerja yang salah, sehingga menurunkan ketegangan otot.

Mengadakan pelatihan kerja menjadi strategi efektif lain yang bisa mencegah risiko MSDs sekaligus meningkatkan produktivitas kerja.

Program pelatihan ini perlu dilakukan terhadap lingkungan kerja, karena pekerja akan melakukan pekerjaan sebagai kebiasaan.

Jadi, pekerja harus mengetahui mengenai pekerjaan yang berbahaya dan perlu mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan yang aman.

Baca Juga: Marak Digital Nomad, Tren Kerja Kekinian yang Fleksibel

Itu dia penjelasan seputar ergonomi yang perlu kamu pahami sebagai pebisnis.

Pastikan kamu menerapkan prinsip-prinsip tersebut guna mewujudkan lingkungan kerja terbaik sehingga produktivitas meningkat.