Dampak Konflik Taiwan VS China Bagi Perdagangan Global

Share this Post

Konflik Taiwan
Table of Contents

Konflik Taiwan dan China kembali memanas dan sangat mengkhawatirkan, sebab mengancam perdagangan global. Apa saja dampaknya?

Konfilik Taiwan VS China sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Kedua negara ini memiliki kepentingannya masing-masing dan saling bertentangan. Taiwan yang mulanya bagian dari China, memisahkan diri dan dan menjadi pembuka konflik kedua negara ini.

Meskipun konflik tersebut hanya terjadi antara dua negara, namun siapa sangka dampaknya berpotensi mengganggu perdagangan global. Pasalnya, baik Taiwan maupun China, keduanya mengambil peranan penting dalam perdagangan internasional.

Ada banyak sekali produk buatan China yang beredar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu pun Taiwan yang menjadi pemasok chip semikonduktor yang digunakan pada kendaraan listrik dan ponsel.

Baca Juga: Harga Sawit Hari Ini Turun, Diprediksi Naik dalam Satu Pekan

Jika konflik semakin berkepanjangan dan mengganggu industri di kedua negara, tentu akan berpengaruh besar bagi dunia internasional, termasuk Indonesia. Bahkan, beberapa ahli memprediksi konflik kedua negara bisa lebih mengerikan daripada Rusia dan Ukraina.

Ingin tahu awal mula konflik Taiwan VS China dan dampaknya bagi perdagangan global? Simak sampai akhir ya!

Akar Permasalahan Konflik Taiwan VS China

konflik taiwan
(Foto bendera China. Sumber: Unsplash.com)

Awal mula konflik Taiwan VS China sudah terjadi sejak lama. Dilansir dari PBS News Hour, negara Taiwan secara resmi bernama Republic of China (ROC), merupakan sebuah negara yang dipisahkan oleh Selat Taiwan.

Taiwan secara resmi memisahkan diri dari China (Republik Rakyat China) pada tahun 1949. RRC memandang Taiwan sebagai pemberontak dan ingin menyatukan Taiwan dengan daratan RRC.

Taiwan memiliki sistem pemerintahan sendiri sebagai sebuah negara yang dipilih secara demokratis. Para pemimpin Taiwan memiliki pandangan politik yang berbeda dengan RRC.

Ketegangan antara kedua negara ini semakin meningkat sejak pemilihan Presiden Taiwan, Tsai Ing Wen pada 2016. Tsai menolak pandangan politik pendahulunya, Ma Ying-jeou.

Sementara itu, RRC telah melakukan langkah yang agresif dengan mengirim jet tempur ke dekat Taiwan. Beberapa ahli khawatir konflik Taiwan China dapat menarik Amerika Serikat ke dalam perang tersebut.

Pemerintah Beijing menegaskan bahwa hanya ada “satu China” dan Taiwan merupakan bagian darinya. RRC memandang RRC adalah satu-satunya pemerintahan yang sah, dan mengupayakan penyatuan kembali dengan Taiwan.

Pemerintah RRC mengklaim bahwa Taiwan terikat dengan kesepakatan Konsensus 1992. Dalam konsensus tersebut ditegaskan bahwa kedua pihak (RRC dan Taiwan) akan bekerja sama untuk mengupayakan penyatuan kembali daratan China.

Dalam konsensus tersebut dijelaskan bahwa Taiwan dan RRC merupakan satu negara yang memiliki dua sistem pemerintahan. Namun, Presiden Tsai menolak formula tersebut.

Baca Juga: 15 Alasan PHK Perusahaan yang Perlu Kamu Ketahui

Taiwan Bukan Negara Anggota PBB

Dampak Konflik Taiwan VS China Bagi Perdagangan Global
(Foto negara PBB. Sumber: Unsplash.com)

Secara resmi Taiwan bukan anggota PBB dan mendapat penolakan keras dari RRC. Namun, Amerika Serikat justru mendukung partisipasi Taiwan di dunia internasional. Secara resmi, Taiwan menjadi negara anggota di lebih dari 40 organisasi internasional.

Namun, hanya ada 14 negara yang mempertahankan hubungan diplomatik dengan Tawian, termasuk Amerika Serikat. Pada 1979, Amerika menjalin hubungan diplomatik dengan RRC.

Pada saat yang sama, Amerika membatalkan perjanjian kerja sama pertahanan dengan Taiwan, namun AS terus menjual peralatan tempurnya ke militer Taiwan. RRC terus mendesak AS untuk menghentikan hubungan diplomatiknya dengan Taiwan.

AS bertujuan menjaga perdamaian dan stabilitas kedua negara. Namun, Presiden Joe Biden beberapa kali menyatakan bahwa AS akan membela Taiwan jika China menyerang. Hal ini semakin memperburuk konflik Taiwan dan China.

Beberapa ahli menyebutkan semakin buruknya hubungan kedua negara dan menyebabkan konfrontasi AS-China. Bahkan menurut laporan tahun 2021, militer China bersiap menyatukan Taiwan dengan cara kekerasan.

China telah mencoba berbagai taktik untuk mengintimidasi Taiwan. Tujuannya adalah membuat penduduk Taiwan merasa tidak nyaman dan alhasil ingin menyatu dengan RRC.

RRC juga cukup sering mengirim jet tempur, pesawat pengintai, dan kapal perang ke sekitar Taiwan. Ribuan serangan siber dari China juga terus meningkat. Meski begitu, sebagian besar penduduk Taiwan tetap lebih suka memerdekakan diri atas RRC.

Baca Juga: Cara Daftar Subsidi Tepat MyPertamina Lewat Web dan Aplikasi

Dampak Konflik Taiwan VS China Bagi Perdagangan Global

Dampak Konflik Taiwan VS China Bagi Perdagangan Global
(Foto chip ponsel. Sumber: Unsplash.com)

Semakin memanasnya konflik Taiwan dan China memunculkan berbagai kekhawatiran bagi dunia internasional.

Taiwan adalah produsen chip semikonduktor terbesar di dunia, industrinya berkembang pesat meskipun ada ketegangan lintas selat. 

Chip ini ditemukan di sebagian besar perangkat elektronik, termasuk smartphone, komputer, kendaraan, dan bahkan sistem senjata yang mengandalkan kecerdasan buatan. 

Perusahaan di Taiwan berkontribusi atas lebih dari 60% pendapatan yang dihasilkan oleh produsen chip semikonduktor dunia pada tahun 2020.

Beberapa ahli berpendapat bahwa ketergantungan Amerika Serikat pada perusahaan chip Taiwan meningkatkan motivasinya untuk mempertahankan Taiwan dari serangan RRC.

RRC juga menggunakan chip Taiwan untuk industri dalam negeri, salah satunya adalah perusahaan elektronik Huawei. Namun, AS mendorong Taiwan untuk menghentikan penjualan chip ke perusahaan asal RRC karena dianggap melakukan spionase.

Jika konflik kedua negara semakin memanas, maka berpotensi mengganggu rantai pasokan internasional, gangguang tatanan ekonomi, dan berpotensi memiliki dampak yang lebih parah dari konflik Rusia-Ukraina.

Jika produksi chip semikonduktor di Taiwan mengalami gangguan, maka berpotensi menghambat pertumbuhan investasi di Indonesia sebagai salah satu mitra dagangnya.

Penurunan produksi di Taiwan berpotensi mengurangi ekspor Indonesia ke negara tersebut, dan berpotensi mengurangi produktivitas industri elektronik di Indonesia.

Sejauh ini, RRC sudah menghentika impor beberapa komoditas Taiwan seperi jeruk, kerang, dan gula. RRC juga menghentikan ekspor pasir alam ke Taiwan yang berpotensi mengganggu industri chip Taiwan.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Online Shop Internasional yang Populer

Nah, itulah penjelasan tentang akar konflik Taiwan VS China dan potensi dampaknya bagi perekonomian global.