7 Strategi Efisiensi UMKM Saat Resesi Tanpa PHK Karyawan

Share this Post

efisiensi umkm
Table of Contents

Dalam menghadapi resesi dan masa krisis, perlu adanya strategi efisiensi UMKM yang berkelanjutan tanpa melakukan PHK.

Saat ini, ada banyak bisnis yang mengambil langkah PHK terhadap karyawannya. Keputusan PHK biasanya menjadi pilihan terakhir ketika bisnis gagal menerapkan cara-cara lain untuk menyelamatkan usahanya.

Langkah PHK memang dapat mengurangi biaya operasional secara signifikan. Namun, hal tersebut juga berdampak langsung pada kapasitas produksi dan kinerja bisnis.

Pasalnya, tenaga kerja yang terkena PHK akan meninggalkan pekerjaan yang seharusnya dapat menopang kegiatan bisnis. Alhasil, langkah PHK tidak sepenuhnya tepat.

Bagi pelaku UMKM, menghadapi resesi merupakan tantangan terbesar. Meski penjualan menurun dan biaya operasional naik, ada beberapa cara efisiensi UMKM tanpa melakukan PHK karyawan.

Ingin tahu strategi efisiensi UMKM tersebut? Simak artikelnya sampai akhir, ya!

Baca Juga: 7 Cara Menghasilkan Uang Tambahan Saat Resesi

Strategi Efisiensi UMKM Saat Krisis

efisiensi umkm
(Foto pelaku UMKM kuliner. Sumber: Freepik.com)

Dalam sebuah pernyataan, VP Academic International Council for Small Business Indonesia, Samsul Hadi mengungkapkan bahwa krisis bisa jadi peluang bagi setiap pelaku usaha.

Bahkan, karyawan juga menjadi aset penting bagi perusahaan dalam situasi genting ini.

“Dalam situasi krisis seperti ini, semua tidak normal, semua dalam kondisi serba darurat, di situlah ketangguhan SDM dari UMKM ini dipertaruhkan. SDM harus memadai. Di sini kita perlu belajar manajemen SDM di saat krisis,” ujar Samsul, dikutip dari Detikcom, Kamis (9/4/2020).

Resesi ekonomi sendiri adalah penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan, meluas, dan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana strategi efisiensi UMKM saat krisis tanpa melakukan PHK?

1. Ketahui Kondisi Keuangan

Bagi pemilik usaha, kamu wajib mengetahui kondisi keuangan bisnismu sebagai langkah awal efisiensi UMKM.

Mengetahui kondisi keuangan artinya kamu memahami betul bagaimana alur keluar masuknya uang dan aliran dana dalam bisnis. Berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk operasional dan berapa banyak dana yang masuk.

Perhatikan juga angka rata-rata dan tren keuangan bisnis. Apakah sejauh ini mengalami penurunan, peningkatan, atau stagnan?

Jika keuangan bisnis cenderung meningkat, kamu bisa fokus pada upaya-upaya yang dapat meningkatkan pemasukan bisnis. Jika keuangan bisnis menurun, kamu bisa melakukan evaluasi pada alokasi dana dan pengeluaran.

Dengan mengetahui kondisi keuangan, kamu dapat mengambil keputusan tepat untuk melakukan efisiensi UMKM dengan mengurangi pengeluaran di beberapa lini usaha.

Baca Juga: 7 Peluang Bisnis yang Tahan Resesi, Tak Butuh Modal Besar!

2. Tekan Biaya Promosi

Biaya promosi termasuk dalam pengeluaran yang cukup besar bagi UMKM. Pasalnya, kebutuhan promosi bisa mencakup pencetakan spanduk, brosur, hingga memasang iklan di media sosial dan bekerja sama dengan influencer.

Menekan biaya promosi merupakan upaya penting dalam rangka efisiensi UMKM. Perlu diingat, kegiatan promosi sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah dan murah.

Kamu bisa menggunakan media sosial untuk melakukan kampanye secara gratis tanpa pengeluaran yang tidak perlu. Selain unsur-unsur promosi, kamu juga dapat mengurangi promosi “bakar uang” yang bisa menimbulkan kerugian.

Sebagai contoh, hentikan dahulu promosi beli 1 gratis 1, diskon besar, gratis ongkir, atau produk promosi lain yang dapat mengurangi pemasukan dan menambah beban bisnis.

3. Fokus Pada Kegiatan Inti

7 Strategi Efisiensi UMKM Saat Resesi Tanpa PHK Karyawan
(Foto toko kue. Sumber: Freepik.com)

Kunci efisiensi UMKM adalah dengan mengevaluasi produk dan layanan usahamu. Kembalilah kepada tujuan awal membangun bisnis, produk dan layanan utama apa yang ingin kamu jual?

Pasalnya, selama menjalankan usaha, ada kalanya diperlukan upaya melakukan ekspansi dengan menghadirkan produk-produk pelengkap dan menargetkan pasar yang baru.

Ada baiknya, kamu melakukan evaluasi, apakah produk-produk pelengkap tersebut memberikan kinerja yang baik? Jika tidak, maka kamu memiliki pilihan untuk kembali berfokus pada produk utama yang kamu bangun.

Sebagai contoh, sangat mungkin ada usaha ayam geprek yang menjual produk pelengkap, jus buah misalnya. Jika penjualan jus buah kurang maksimal, maka alangkah baiknya kembali fokus pada bisnis ayam geprek dan menghentikan penjualan jus.

Langkah ini tentu bisa lebih mengefisiensi sumber daya untuk pengeluaran yang kurang efektif.

Baca Juga: 5 Jenis Investasi yang Aman Saat Resesi, Bisa Dicoba Nih!

4. Coret Pengeluaran Non Prioritas

Dalam rangka efisiensi UMKM, kamu perlu memutuskan dengan tepat untuk apa saja dana akan dikeluarkan. Kamu bisa fokus pada kegiatan inti bisnis dan mengurangi pengeluaran non prioritas.

Pengeluaran atau belanja non prioritas mencakup pembelian barang-barang pelengkap bisnis yang fungsinya masih bisa digantikan dengan barang lain yang harganya lebih murah.

Misalnya, pembelian barang-barang furnitur dan interior bisnis sebagai fasilitas dine in atau pembelian mesin produksi baru.

Dalam kondisi krisis, UMKM perlu fokus pada modal kerja yang menghasilkan keuntungan jangka pendek guna kelangsungan bisnisnya.

5. Menghemat Biaya Operasional

7 Strategi Efisiensi UMKM Saat Resesi Tanpa PHK Karyawan
(Foto pelaku UMKM makanan. Sumber: Freepik.com)

Menghemat biaya operasional merupakan hal sepele yang sering diabaikan. Sebagai cara efisiensi bisnis, langkah ini perlu kamu ambil.

Menghemat biaya operasional bisa dilakukan dengan menghemat penggunaan air dan listrik. Misalnya, menghemat pemakaian AC, lampu, dan peralatan lain yang menggunakan energi listrik.

Termasuk juga menghemat biaya WiFi atau internet, biaya air, telepon, atau pengeluaran lain yang menjadi beban opersional bisnis secara langsung.

Menerapkan sistem kerja remote working atau WFO ternyata juga dapat mengurangi biaya operasional yang timbul akibat penggunaan listrik, air, dan internet.

6. Berinvestasi Pada Pelanggan yang Sudah Ada

Strategi efisiensi UMKM berikutnya adalah dengan mempertahankan pelanggan yang sudah ada.

Pasalnya, menemukan pelanggan baru membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Sebab, kamu perlu mengeluarkan biaya untuk iklan, kampanye, hingga mengikuti pameran untuk dapat menarik pelanggan baru.

Terlebih lagi, selama resesi orang-orang berusaha untuk menghemat pengeluarannya. Artinya, kemungkinan mendapatkan pelanggan baru akan lebih kecil.

Akan lebih baik jika kamu fokus mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Ada berbagai upaya yang bisa kamu lakukan, seperti rutin melakukan follow up, selalu membalas setiap tanggapan pelanggan, dan ikut serta dalam aktivitas pengikutmu di media sosial.

Baca Juga: Tenang, Ini 7 Persiapan Menghadapi Resesi Bagi Karyawan!

7. Mengurangi Fasilitas dan Gaji Pegawai

Langkah efisiensi UMKM ini merupakan kebijakan terakhir yang dapat diambil jika semua cara sebelumnya belum berhasil dilakukan.

Sebelum memutuskan untuk mengurangi fasilitas dan gaji pegawai, ada baiknya kamu melakukan diskusi secara terbuka kepada semua pegawaimu. Hal ini bertujuan untuk menciptakan transparansi dan ruang untuk menyampaikan pendapat.

Pengurangan fasilitas pegawai bisa dalam bentuk meniadakan bonus kinerja, meniadakan fasilitas makan siang di kantor, atau menghapus pemberian insentif dan uang saku.

Sementara itu, pengurangan gaji bisa dilakukan dengan persentase tertentu, sesuai kebutuhan bisnis dan hasil diskusi dengan semua pegawai. Meski berat, langkah ini mungkin lebih baik ketimbang melakukan PHK.

Dengan catatan, jika kamu memutuskan mengurangi gaji pegawai, maka kamu juga perlu menyesuaikannya dengan mengurangi jam kerja agar seimbang dengan gaji akhir yang diterima oleh pegawaimu.

Itulah beberapa strategi efisiensi UMKM saat resesi yang bisa kamu lakukan tanpa melakukan PHK.