Tren Quiet Quitting: Budaya Kerja Ala Gen Z dan Gen Y

Share this Post

quite quiting
Table of Contents
shopee pilih lokal

Baru-baru ini fenomena quiet quitting tengah tren di media sosial, khususnya bagi Gen Z dan Gen Y. Apa maksud fenomena ini dalam pekerjaan?

“Kerja cukup begini aja, seperlunya, yang penting gaji stabil dan hati tenang”, prinsip ini kerap kali dipegang oleh banyak pekerja muda. Banyak orang yang cenderung memilih mengamankan pekerjaan dan kebahagiaan mereka.

Dengan kata lain, work life balance kini telah menjadi tujuan utama banyak pekerja. Kesadaran membangun budaya kerja seperti ini tentunya sangat baik bagi produktivitas dan kebahagiaan dalam hidup.

Fenomena quiet quitting (berhenti diam-diam) ini adalah sebuah sikap dari karyawan untuk bekerja apa adanya, seperlunya, dan tidak mengejar karir. Bisa dibilang, banyak pekerja memilih membatasi diri mereka sendiri, asal gaji lancar dan hidup tenang.

Pada satu sisi, fenomena ini dapat menyeimbangkan produktivitas dan kebahagiaan hidup. Di sisi lain, fenomena ini dapat membatasi diri sendiri untuk berkembang dan mempelajari skill baru.

Untuk lebih jelasnya, berikut pembahasan tentang fenomena quiet quitting yang sedang tren di kalangan anak muda, simak, yuk!

Baca Juga: Apa Itu Hustler, Hipster, dan Hacker? Ini Fungsinya dalam Startup

Maksud Fenomena Quiet Quitting

quiet quitting
(Foto pekerja Gen Z dan Gen Y. Sumber: Freepik.com)

Gagasan untuk berhenti tiba-tiba atau menarik diri perlahan dari banyak pekerjaan mulai viral di media sosial. Quiet quitting sebenarnya sudah ada sejak lama, namun popularitasnya baru naik belakangan ini.

Di banyak perusahaan, saat pandemi lalu banyak karyawan yang mengundurkan diri. Salah satu alasannya karena merasa tidak puas dan tidak aman dengan pekerjaannya.

Misalnya saja di Inggris, jumlah pekerja yang mengundurkan diri melonjak drastis selama tahun 2021. Sebagian pekerja mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dari segi upah dan kepuasan.

Namun, tidak semua pekerja memiliki kesempatan yang bagus untuk mencari tempat kerja baru. Pasalnya, banyak pekerja yang sudah mencapai usia matang (dewasa ke atas), sehingga lebih sulit mendapat pekerjaan.

Sebagian besar perusahaan kini lebih senang merekrut pekerja milenial, sebab pekerja ini lebih mudah beradaptasi dengan budaya perusahaan.

Nah, bagi Gen Z dan Gen Y, cara terbaik untuk mengatasi ketidaknyamanan di tempat kerja adalah menerapkan quit quitting.

Cara tersebut dilakukan untuk mengurangi pekerjaan, meringankan beban kerja, dan pada akhirnya mencapai work life balance, sebab mencari pekerjaan baru sudah tidak memungkinkan.

Budaya kerja ini menjadi kontra dari hustle culture, sebab pekerja cenderung memilih bekerja apa adanya tanpa keinginan mengejar karir mereka. Lantas, apa itu hustle culture?

Baca Juga: 8 Rekomendasi Novel Tentang Bisnis Untuk Meningkatkan Motivasi

Hustle Culture, Lawan Mutlak Tren Quiet Quitting

Tren Quiet Quitting: Budaya Kerja Ala Gen Z dan Gen Y
(Foto pekerja startup. Sumber: Freepik.com)

Fenomena hustle culture sudah lebih dulu booming di kalangan pekerja modern, terutama di lingkungan startup.

“Kerja di startup itu fleksibel, saking fleksibelnya bisa kerja kapan aja dan jobdesk apa aja”. Budaya kerja ini memberikan tekanan untuk bekerja lebih banyak dan lebih sibuk dari yang dikerjakan orang lain.

Bahkan, para pekerja seringkali harus mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya di luar jobdesk mereka, namun hal ini dianggap normal-normal saja. Nah, budaya inilah yang disadari oleh banyak pekerja dan coba dilawan dengan budaya quiet quitting.

Sebenarnya, quiet quitting bukan untuk menghindari pekerjaan atau bermalas-malasan, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa ada kehidupan berharga di luar pekerjaan.

Budaya ini menjadi pegangan bagi banyak pekerja agar membatasi diri mereka dari kultur overwork di luar jobdesk yang disepakati. Namun, tetap fokus dan produktif pada pekerjaan yang menjadi tugasnya.

Penelitian yang dilakukan Deloitte menunjukkan bahwa anak muda semakin mencari fleksibilitas dan makna dari pekerjaan yang mereka jalani, serta keseimbangan dan kepuasan dalam hidup.

Hal ini mungkin sebagai respons atas kekecewaan anak muda terhadap iklim kerja saat ini. Banyak pekerja muda kini menolak “hidup untuk kerja”. Mereka tetap bekerja, tapi menjaga agar pekerjaan tidak mengontrol hidup mereka.

Baca Juga: 12 Cara Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan yang Efektif

Prinsip Quiet Quitting Baik Bagi Kesehatan Mental

Tren Quiet Quitting: Budaya Kerja Ala Gen Z dan Gen Y
(Foto work life balance. Sumber: Freepik.com)

Studi menyebutkan bahwa work life balance atau keseimbangan kerja dan hidup berkaitan dengan kesehatan mental di berbagai bidang pekerjaan.

Banyak pekerja muda yang sangat berambisi mengejar karir dan bonus. Mereka rela bekerja ekstra, lembur, hingga mengambil pekerjaan sampingan. Pada satu sisi, mereka memang mendapatkan upah yang lebih besar.

Di sisi lain, kebahagiaan dan ketenangan hidup harus ditumbalkan. Minimnya waktu istirahat dan liburan jadi pemicu generasi muda rawan mengalami stress atau burn out dalam pekerjaannya.

Alhasil, para pekerja ini akan mengalami penurunan produktivitas yang drastis, dan berpengaruh juga pada kondisi kesehatannya.

“Bekerja sesuai jobdesk, yang penting maksimal. Gaji lancar, liburan lancar, hidup juga tenang”, yup, ungkapan ini jadi begitu penting untuk dipahami para pekerja saat ini. Quiet quitting mengingatkan para pekerja untuk mengembalikan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan.

Ketika urusan pekerjaan mulai merayap masuk ke waktu personalmu, maka ada yang tidak beres. Pun sebaliknya, ketika urusan personal mulai mengganggu pekerjaan, berarti ada yang perlu diperbaiki.

Prinsip ini juga bisa menghindarkanmu dari stigma bahwa nilai seseorang ditentukan dari kariernya. Artinya, ketika kariermu hancur, maka nilai dirimu juga hancur.

Dengan menyeimbangkan hidup dan pekerjaan, kamu bisa meyakini bahwa nilai dirimu lebih tinggi dari sebuah karier.

Ingatlah untuk bekerja seefektif mungkin, seimbangkan dengan kebahagiaan dalam hidup. Jalani hobi, menghibur diri, dan menghindarkan diri dari kemungkinan burnout akibat pekerjaan.

Baca Juga: 50+ Kata-kata Motivasi Kerja yang Bisa Bangkitkan Semangat

Itulah penjelasan tentang fenomena quiet quitting yang kini sedang ramai dibicarakan. Apakah kamu sudah menerapkan prinsip kerja ini?

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X