Fenomena Mandela Effect dalam Iklan Produk

Share this Post

mandela effect
Table of Contents

Mandela Effect adalah fenomena lupa ingatan berjamaah yang dianggap sebagai sesuatu yang benar. Apa saja contoh kasusnya?

Banyak orang meyakini bahwa Nelson Mandela meninggal di penjara pada tahun 1980-an, padahal Ia meninggal di rumahnya pada tahun 2013. Kekeliruan massal ini menjadi awal mula muncul istilah Efek Mandela.

Adanya ingatan yang salah dan terkolektif dari banyak orang dalam waktu yang lama membuatnya seolah-olah “terlihat benar”. Sebab, ada banyak orang yang mempercayai dan mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak benar atau tidak pernah terjadi.

Mungkin saja, hal tersebut benar-benar terjadi di universe yang lain? Itu berarti ada orang yang melalui perjalanan antar dimensi kemudian menyebarkannya di dimensi yang berbeda!

Tenang, tak perlu mengaitkannya dengan multiverse ala Doctor Strange! Sebab fenomena Mandela Effect ini bisa dijelaskan secara logis dan merupakan sesuatu yang wajar terjadi.

Ingin tahu lebih lanjut tentang fenomena ini? Simak sampai akhir, ya!

Baca Juga: Security Awareness Rendah, Data Pelanggan Rawan Diretas!

Apa Itu Mandela Effect?

mandela effect
(Foto woman meditating. Sumber: Freepik.com)

Definisi Efek Mandela sebenarnya sudah sedikit disinggung sebelumnya. Ada sebuah ilustrasi yang bisa membantumu dalam memahami fenomena ini.

Misalnya dalam satu kelas, kebanyakan murid tidak ingat bahwa hari itu akan diadakan ujian, semuanya akan mempercayai bahwa memang tidak ada ujian.

Namun, memori yang salah tersebut dapat dipatahkan ketika realitas yang ada membuktikan bahwa hari itu terdapat jadwal ujian.

Istilah Efek Mandela sering diartikan sebagai kekeliruan massal, lupa ingatan berjamaah, memori palsu, salah ingatan, dan sebagainya.

Menurut Medical News Today, Efek Mandela adalah jenis memori palsu yang terjadi ketika banyak orang yang berbeda salah mengingat hal yang sama. 

Hal ini mengacu pada ingatan palsu yang tersebar luas bahwa Nelson Mandela, Presiden dan aktivis hak asasi manusia Afrika Selatan, meninggal di penjara pada 1980-an.

Padahal, Nelson Mandela tidak meninggal di penjara pada 1980-an. Setelah menjalani 27 tahun penjara, Mandela menjadi presiden Afrika Selatan dari 1994-1999. Dia meninggal pada tahun 2013 di rumahnya.

Kenangan  tidak selalu sama dengan rekaman peristiwa aslinya. Sebuah kenangan dapat berubah seiring waktu, dan orang-orang mungkin memiliki ingatan yang berbeda dalam konteks yang berbeda. 

Memori juga sangat sugestif, yang berarti bahwa pendapat dan ingatan orang lain dapat memengaruhi apa yang diingat seseorang.

Dengan demikian, istilah Mandela Effect didefinisikan sebagai ingatan yang salah, tetapi dipegang secara luas.

Baca Juga: Reverse Psychology Marketing, Begini 5 Cara Penerapannya

Mengapa Mandela Effect Bisa Terjadi?

Fenomena Mandela Effect dalam Iklan Produk
(Foto Mandela Effect. Sumber: Freepik.com)

Mandela Effect atau ingatan palsu adalah ingatan yang tidak benar atau terdistorsi dari suatu peristiwa. Beberapa ingatan palsu mengandung unsur-unsur fakta, sangat mirip dengan peristiwa aktual yang dimaksud. Namun, tidak sepenuhnya benar.

Memori bersifat sugestif. Artinya informasi dari orang lain, keinginan seseorang untuk mempercayai sesuatu yang berbeda, atau informasi palsu secara online dapat memengaruhi ingatan.

Hal ini juga jadi penyabab beredarnya berita hoaks yang dipercaya di masyarakat. Masih ingatkah kamu dengan video yang menceritakan seorang anak nakal yang dikutuk menjadi ikan pari?

Video tersebut sudah ada sejak lama dan dipercaya turun temurun sebagai sesuatu yang benar, padahal merupakan salah besar. Ikan yang ada dalam video memang benar adanya, namun pernyataan mengenai kutukan anak adalah kekeliruan.

Penulis dan peneliti Fiona Broome menggambarkan Efek Mandela sebagai ingatan yang jelas tentang suatu peristiwa yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan ini.

Maka dari itu banyak orang yang mengaitkan Mandela Effect terjadi ketika realitas kita saat ini berinteraksi dengan realitas alternatif di universe lain. Padahal, memori yang keliru ini sangat mudah disebarkan melalui internet.

Beberapa berita hoaks mungkin dapat meyakinkan orang-orang untuk mempercayai hal-hal yang tidak pernah terjadi dan terus menerus dibagikan ulang oleh orang lain.

Baca Juga: Jenis-Jenis Visual Marketing Tepat untuk Pasarkan Bisnismu

Contoh Mandela Effect dalam Produk Sehari-hari

Fenomena Mandela Effect dalam Iklan Produk
(Foto iklan nodol. Sumber: Pxpuzzles.com)

Contoh Mandela Effect rupanya juga terjadi dalam beberapa produk kebutuhan harian manusia. Sebagai contoh, banyak orang mengenal pasta gigi dengan sebuatn “odol”.

Padahal, odol merupakan merek sebuah pasta gigi asal Jerman yang dahulu dibawa tentara Hindia Belanja ke Indonesia.

Jadi, odol bukanlah istilah lain dari pasta gigi, melainkan sebuah merek yang sudah ada sejak lama dan dijadikan panggilan baru untuk pasta gigi.

Hal serupa juga terjadi dengan makanan ringan chiki. Banyak orang yang menyebut jajanan gurih nan asin ini dengan sebutan chiki. Padahal, chiki sendiri merupakan nama merek makanan ringan, bukan istilah pengganti dari snack tersebut.

Selain itu, tak sedikit juga orang yang menyebut air minum dengan sebutan air aqua. Padahal, sebutan yang benar adalah air mineral.

Baca Juga: 6 Alasan Buzz Marketing Penting untuk Kemajuan Bisnismu

Cara Mengenali Memori Palsu dan Berita Hoaks

Fenomena Mandela Effect dalam Iklan Produk
(Foto ingatan palsu. Sumber: Freepik.com)

Salah satu tantangan dari ingatan palsu adalah ingatan ini sangat mirip dengan kenangan nyata. Orang-orang mungkin sangat mempercayai ingatan ini dan secara spontan membenarkannya. 

Tanpa bukti eksternal tentang kepalsuan ingatan, mungkin tidak ada cara lain untuk menunjukkan bahwa ingatan itu tidak benar. Kamu dapat meningkatkan peluang untuk mendeteksi ingatan palsu dengan cara:

  • Berkonsultasi dengan sumber terpercaya seperti ensiklopedia, situs berita terpercaya, atau jurnal peer-review.
  • Mempertimbangkan apakah orang lain juga memiliki ingatan yang sama atau tidak.
  • Mencari bukti independen untuk mendukung ingatan yang tampak mencurigakan atau berpotensi berbahaya.

Cara-cara tersebut juga dapat kamu terapkan untuk menyaring berita hoaks dan memutus rantai memori palsu yang bereda di masyarakat.

Jika kamu menerima pesan berantai di grup WhatsApp tentang sebuah pemberitaan, ada baiknya kamu memastikan dulu kebenaran berita tersebut sebelum meyakini dan membagikan ulang.

Sebab, kebiasaan langsung percaya tanpa memeriksa kebenaran data menjadi awal mulu munculnya Mandela Effect di tengah masyarakat. Pastikan berita hoaks tersebut berhenti di kamu, ya!