Bisnis Lato-Lato Bisa Untung Besar, Apakah Bertahan Lama?

Share this Post

bisnis lato-lato
Table of Contents

Mainan lato-lato kini digemari banyak orang. Bisnis lato-lato juga tengah meningkat pesat, apakah bertahan lama?

“Tok..tok..tok”, hampir setiap hari suara yang satu ini terdengar di telinga kita. Mainan lato-lato memang sedang naik daun dan begitu disukai anak-anak.

Popularitasnya bahkan sukses menggeser permainan tradisional lainnya.

Bahkan, banyak orang tua yang mendukung anaknya bermain lato-lato karena mengurangi waktu penggunaan gadget.

Di berbagai daerah, ada banyak penjual lato-lato dadakan yang mencoba peruntungannya.

Dalam sebuah pernyataan, salah satu penjual lato-lato di Pasar Asemka mengakui ada banyak orang yang mencari mainan ini, terutama karena efek tahun baru.

Viralnya mainan tradisional ini membuat banyak orang berusaha memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin.

Alhasil, banyak dari penjual lato-lato yang sukses meraup keuntungan hingga jutaan rupiah per bulan.

Namun, mainan tradisional ini diperkirakan akan menjadi mainan musiman dengan tingkat permintaan yang berubah-ubah.

Lantas, apakah bisnis lato-lato masih menjanjikan untuk dijajal? Simak ulasannya sampai akhir, ya!

Baca Juga: 8 Tips Menjalankan Bisnis Sewa Mainan Anak, Coba, Yuk!

Bisnis Lato-Lato: Sejarah dan Perkembangannya

Bisnis Lato-Lato Bisa Untung Besar, Apakah Bertahan Lama?
(Foto lato-lato jadul. Sumber: Worthpoin.com)

Sebelum memulai, ada baiknya kita menelisik asal usul mainan jadul yang satu ini. pasalnya, lato-lato sudah ada sejak lama.

Ibarat bangkit dari tidur, kini lato-lato kembali naik daun dan dimainkan oleh semua orang.

Faktanya, mainan tradisional ini sudah dimainkan sejak tahun 1960-an. Lato-lato merupakan mainan tradisional yang terdiri dari sepasang bola plastik atau karet yang terikat tali atau benang.

Lato-lato dimainkan dengan membenturkan kedua bola secara seimbang sehingga menghasilkan bunyi “tok..tok..tok” seperti yang kita kenal saat ini.

Lato-lato dikenal juga dengan sebutan nok-nok dalam bahasa Sunda, atau tok-tok dalam bahasa Jawa.

Menurut berbagai sumber, lato-lato berasal dari Amerika Serikat. Di negara asalnya, mainan ini dikenal dengan sebutan clackers, click-clacks, knockers, ker-bangers, atau clankers.

Pada mulanya, mainan ini diciptakan untuk membantu anak-anak melatih koordinasi antara tangan dengan mata.

Mainan lato-lato pernah dilarang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dan beberapa komunitas lainnya karena dianggap berbahaya.

Sebelumnya, FDA menguji potensi bahaya lato-lato saat dimainkan. Hasilnya, lato-lato menyimpan potensi bahaya apabila pecah saat dimainkan dan dapat melukai anak-anak.

Di Indonesia, lato-lato mulai populer pada tahun 1990-an. Demi keamanan, bola lato-lato dibuat dari material plastik polimer yang lebih tahan pecah.

Sebelumnya, lato-lato dibuat dari kaca temper yang dianggap lebih berbahaya. Nama lato-lato sendiri berasal dari bahasa Bugis “katto-katto” yang kini sudah begitu populer.

Baca Juga: Jualan Mainan Anak, Begini 3 Tips Suksesnya

Peluang Bisnis Lato-Lato

Bisnis Lato-Lato Bisa Untung Besar, Apakah Bertahan Lama?
(Foto lato-lato jadul. Sumber: Worthpoin.com)

Bisnis lato-lato saat ini tengah menjamur di berbagai daerah. Bisnis lato-lato berpotensi menjadi bisnis musiman yang ramai pada momen-momen tertentu.

Menurut Inc, bisnis musiman mengalami pasang surut dan fluktuasi, mengikuti perubahan musim.

Istilah musim ini bisa diartikan sebagai perubahan cuaca, momentum liburan, atau acara-acara khusus seperti lebaran dan tahun baru.

Pasalnya, tren penjualan lato-lato memang meningkat saat tahun baru lalu. Menurut data Tokopedia, penjualan lato-lato bahkan meningkat 57 kali lipat saat pergantian tahun.

Sama seperti mainan tamiya, tembak-tembakan peluru plastik, gasing, atau barbie yang juga populer saat momen-momen tertentu.

Meski begitu, bisnis lato-lato tampaknya masih menjanjikan untuk beberapa waktu ke depan.

Mainan tradisional ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat.

Banyak orang tua yang mendukung anaknya bermain lato-lato karena mengurangi waktu penggunaan gadget.

Dalam sebuah pernyataan, sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Dr Drajat Tri Kartono, M.Si mengatakan bahwa lato-lato berpeluang mengembalikan permainan tradisional, seperti gobak sodor dan petak umpet.

Itulah mengapa banyak kalangan yang menjajal mainan ini, tak hanya anak-anak. Sebab, mainan lato-lato sebenarnya sudah cukup familiar di memori orang tua.

Bangkitnya kembali mainan jadul ini tentu memicu memori permainan zaman dulu sehingga lebih mudah diterima.

Baca Juga: Ide Usaha Modal 1 Juta yang Patut untuk Dicoba, Apa Saja?

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bisnis lato-lato masih menjanjikan dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk menjaga profit, kamu bisa menjual lato-lato bersamaan dengan mainan anak lainnya sebagai sumber pemasukan tambahan.