5 Tantangan Bisnis Tahun 2022 dan Cara Menghadapinya

Share this Post

Table of Contents

Ada banyak tantangan bisnis tahun 2022 yang begitu berkesan dan bisa menjadi pelajaran di tahun-tahun berikutnya.

Tahun 2022 sudah hampir berakhir. Artinya, banyak bisnis yang kini sudah mulai tutup buku dan mengakhiri perjalanan panjang di kuartal keempat ini. berbagai tantangan sudah dilalui dengan baik.

Sepanjang tahun 2022, dunia bisnis dan ekonomi diramaikan dengan berbagai isu global. Mulai dari kenaikan harga pangan, kelangkaan, inflasi, kenaikan harga BBM, resesi ekonomi, hingga gelombang PHK massal.

Setalah menghadapi situasi yang berat sepanjang tahun ini, ada banyak pelajaran penting yang dapat diambil untuk mengadaptasi bisnis yang lebih kuat terhadap perubahan.

Pasalnya, setiap pelaku usaha dituntut untuk selalu survive dalam setiap situasi. Berikut ini rangkuman tantangan bisnis tahun 2022 dan cara menghadapinya yang bisa menjadi pelajaran untuk tahun-tahun mendatang.

Baca Juga: Prospek Bisnis Properti Saat Resesi, Masih Menjanjikan?

Tantangan Bisnis Tahun 2022

tantangan bisnis tahun 2022
(Foto tantangan bisnis tahun 2022. Sumber: Freepik.com)

Pada awal tahun 2022, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid pernah menyampaikan empat tantangan bisnis yang akan dihadapi tahun ini.

Pertama, ancaman gelombang ketiga pandemi COVID-19 yang akan memukul perekonomian. Kedua, masalah kenaikan biaya angkutan logistik dunia. Ketiga, keadaan politik dunia dan keempat, perubahan iklim global.

Selanjutnya melalui siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada tanggal 15 Agustus 2022, dibeberkan beberapa tantangan ekonomi global yang disebut The Perfect Storm atau 5C.

Tantangan ekonomi tersebut terdiri atas COVID-19, Conflict Rusia-Ukraina, Climate Change, comodity prices, serta Cost of Living.

Merangkum dari berbagai peristiwa dan kondisi ekonomi tahun ini, berikut lima tantangan bisnis tahun 2022 yang dihadapi pelaku usaha di Indonesia.

1. Pandemi COVID-19

Tantangan bisnis tahun 2022 diawali dengan pandemi Covid-19. Sejak kemunculan kasus Covid-19 pertama, Indonesia sebenarnya sudah melalui masa-masa kritis pada puncak PPKM darurat tahun 2020 dan 2021 lalu.

Memasuki tahun 2022, COVID-19 di Indonesia sebenarnya sudah mulai mereda. Hal ini terlihat dari adanya penurunan level PPKM di beberapa Kabupaten/Kota dan tingginya capaian vaksinasi nasional.

Meski begitu, pandemi tetaplah pandemi. Ada beberapa sektor bisnis yang masih terdampak akibat virus corona tahun ini, terutama mereka yang mengandalkan toko fisik dan kunjungan pelanggan, seperti penyedia akomodasi dan tempat wisata.

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa kerugian ekonomi akibat pandemi juga sangat besar.

“Kalau kita estimasi dari hilangnya kesempatan kita untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebelum COVID-19 yang ditargetkan 5,3 persen kemudian berakhir minus 2 persen, nilai ekonomi yang hilang akibat pandemi sebesar Rp1.356 triliun,” katanya pada Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2021, dikutip dari Bisnis.com (29/4/2021).

Sebagai solusi, banyak pelaku usaha yang mulai mengambil langkah digitalisasi dengan memasarkan produknya secara online melalui berbagai marketplace dan media sosial.

Baca Juga: Bisnis Bisa Tetap Untung saat Resesi, Catat Tipsnya!

2. Konflik Rusia-Ukraina

5 Tantangan Bisnis Tahun 2022 dan Cara Menghadapinya
(Foto konflik Rusia-Ukraina. Sumber: Freepik.com)

Konflik Rusia-Ukraina secara tidak langsung memberikan tantangan bisnis tahun 2022 ini. Beberapa bahan pangan dan komoditas global mengalami kelangkaan dan kenaikan harga.

Salah satu komoditas yang mengalami kelangkaan adalah gandum. Dilansir dari The Hindu Business Line, perang Rusia-Ukraina bukan satu-satunya penyebab naiknya harga gandum global.

Krisis pangan global kini semakin mengkhawatirkan dan mengancam banyak negara di dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto menyebutkan bahwa pada tahun 2022 ini, ada sembilan negara yang melarang ekspor gandum.

Negara yang dimaksud adalah Serbia, Aljazair, Kazakhstan, Kosovo, India, Afghanistan, dan Ukraina.

Selain itu, harga batu bara juga mengalami kenaikan akibat konflik Rusia-Ukraina. Buntut perang tersebut adalah beberapa negara Eropa dan Jepang memberikan sanksi kepada Rusia.

Dampaknya, Rusia memutuskan untuk tidak memasok gas ke Eropa secara penuh hingga sanksi dicabut. Hal ini tentu menyulitkan negara Eropa, sebab kebanyakan negara tersebut sedang menyiapkan pasokan gas untuk musim dingin.

Alhasil, harga batu bara ikut melejit sebagai sumber energi alternatif pengganti gas alam.

3. Inflasi Tinggi Akibat Kenaikan Harga BBM

Kenaikan harga BBM belum lama ini menimbulkan efek domino bagi perekonomian. Naiknya tarif ojol, tarif sewa kendaraan, tiket bus AKAP, hingga naiknya harga-harga bahan pokok merupakan masalah lain yang akhirnya muncul.

Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia menilai bahwa kenaikan harga BBM beberapa tahun terakhir meningkatkan inflasi hingga lebih dari 8%. Pasalnya, kenaikan harga BBM mempengaruhi harga-harga lain.

Kementerian Keuangan sebelumnya menghitung kenaikan harga tiga jenis BBM bisa menyumbang 1,8 poin persentase terhadap inflasi tahun ini. Outlook inflasi pada akhir tahun ini dinaikkan menjadi 6,6%-6,8%.

Sebagai langkah konservatif, banyak bisnis yang mengurangi biaya operasional dan fokus pada kegiatan inti untuk menghemat pengeluaran ketika terjadi kenaikan harga.

Baca Juga: 7 Strategi Efisiensi UMKM Saat Resesi Tanpa PHK Karyawan

4. Kenaikan Suku Bunga

5 Tantangan Bisnis Tahun 2022 dan Cara Menghadapinya
(Foto kenaikan suku bunga. Sumber: Freepik.com)

Pada tahun 2022 ini, bank sentral AS The Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi di AS. Dengan meningkatkan suku bunga, maka tingkat pengeluaran dan investasi masyarakat akan berubah.

Ketika suku bunga lebih tinggi, jumlah uang beredar akan menyusut. Dengan begitu, diharapkan inflasi dapat ditekan. Nyatanya, kebijakan tersebut juga berpengaruh bagi ekonomi global.

Pasalnya, suku bunga yang terlalu tinggi bisa menyebabkan resesi. Akibatnya, nilai dollar bisa melemah dan membuat harga barang serta nilai ekspor Indonesia ke negara lain jadi menurun.

Naiknya suku bunga Bank Indonesia juga berpotensi terhadap naiknya biaya kredit dan bunga pinjaman yang dapat menyulitkan pelaku usaha.

5. Sulit Mendapatkan Modal dan Investasi

Gelombang PHK yang terjadi di banyak perusahaan salah satunya disebabkan oleh kondisi makro ekonomi dan sulitnya mendapatkan investasi. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan Investor Winter.

Melansir dari Times of India, fenomena Investor Winter terjadi pasca adanya penurunan tren pendapatan atau perekonomian startup pada Q3 tahun 2022.

Dampak dari penurunan nilai ini membuat sebagian startup merugi lantaran tak mampu memenuhi target. Alhasil, startup kekurangan dana untuk menutupi operasional bisnisnya.

Akhirnya, banyak investor yang menarik kembali uangnya dan membatalkan rencana investasinya. Terutama kepada startup yang dinilai kurang stabil dan rawan mengalami kebangkrutan.

Sebagai langkah konservatif, perusahaan yang kesulitan mendapatkan modal perlu melakukan efisiensi dan berfokus pada kegiatan bisnis yang paling profitable.

Baca Juga: 5 Strategi UMKM Tahan Resesi dan Bangkit Pasca Pandemi

Itulah beberapa tantangan bisnis tahun 2022 yang berhasil dilalui dan bisa menjadi pembelajaran untuk tahun-tahun mendatang.