Saham BYAN Sentuh All Time High, Tertinggi Sepanjang Masa

Share this Post

byan
Table of Contents

Pertumbuhan saham BYAN semakin tak terbendung. Market caps-nya sukses menyalip BBRI dan menyaingi BBCA!

Pundi-pundi kekayaan Low Tuck Kwong terus bertambah. Hal ini seiring dengan terus melesatnya nilai saham perusahaan miliknya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Menurut data Forbes Real Time Billionaires, kekayaan Low Tuck Kwong pada hari senin (26/12) naik dalam sehari menjadi USD 27,8 miliar atau setara dengan Rp 427,67 triliun (kurs Rp15.620 per dollar AS).

Selain menjadikan dirinya sebagai orang terkaya di Indonesia dengan mengalahkan duet Hartono, Ia juga masuk dalam daftar 50 orang terkaya di dunia.

Kekayaannya meningkat tak terlepas dari melesatnya harga saham BYAN yang menyentuh “all time high”.

Pada perdagangan hari Selasa (27/12), harga saham BYAN melonjak 13,73% ke posisi Rp 23.400 per lembar saham, tertinggi sepanjang masa.

Sejak awal tahun, harga saham BYAN sudah mengalami kenaikan hingga 766,67%.

Dengan laju sahamnya yang luar biasa, market caps-nya kini menyentuh angka Rp 780 miliar dan menduduki posisi kedua sebagai emiten dengan market caps terbesar.

Bahkan, BYAN berhasil menggeser saham BBRI yang kini ada di posisi ketiga dengan market caps Rp 731 triliun.

Baca Juga: Pengertian Komoditas dan Daftarnya yang Jadi Primadona Eskpor RI

Siapa Low Tuck Kwong?

low tuck kwong
(Foto Low Tuck Kwong. Sumber: Forbes Asia)

Low Tuck Kwong lahir pada 17 April 1948. Ia merupakan pebisnis asal Singapura yang telah menjadi Warga Negara Indonesia. Ia dijuluki sebagai raja batu bara karena memiliki perusahaan tambang Bayan Resources.

Sejak usia 20 tahun, Ia sudah bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya. Ia pindah ke Indonesia tahun 1972 dan mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia pada tahun 1973.

Pada tahun 1988, Ia melebarkan sayap bisnisnya ke sektor pertambangan batu bara dan menjadi kontraktor tambang.

Pada tahun 1997, Ia membeli tambang batu bara melalui PT Gunungbayan Pratamacoal. Ia membeli tambang batu bara pertamanya setelah lima tahun menjadi WNI.

Pada tahun 2004, Low Tuck Kwong mendirikan Bayan Resources. Lalu pada 2008, Bayan Resources menjadi perusahaan batu bara terbesar ke-8 di Indonesia dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ia mengaku ‘sangat beruntung’ kala menekuni bisnis konstruksi pada 1973. Saat itu, Ia mendapatkan proyek pertamanya saat masih berusia 25 tahun.

Pekerjaan pertamanya adalah menyelesaikan pekerjaan dasar untuk sebuah pabrik es krim di Ancol, Jakarta Utara.

Pada saat itu, Ia bertemu dengan Liem Sioe Liong alias Sudono Salim, pendiri Grup Salim. Liem merupakan pemilik pabrik tepung Bogasari yang lokasinya berdekatan dengan pabrik es krim.

Saat itu, Liem mengajak Low untuk bekerja sama. Liem dan putranya Anthoni Salim banyak membantu Low dalam bisnisnya.

Menariknya lagi, Low juga dikenal sebagai pecinta binatang. Ia memiliki sebuah kebun binatang di Kalimantan dengan puluhan hewan eksotis, termasuk burung merak dan beruang madu.

Selain memiliki perusahaan tambang, Low juga menempati jabatan penting di perusahaan energi Singapura Metis Energy, serta memiliki kepentingan di The Farrer Park Company, Samindo Resources, dan Voksel Electric.

Ia juga mendukung SEAX Global dengan membangun sistem kabel bawah laut untuk konektivitas internet di Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Ia juga menjadi salah satu donatur untuk program beasiswa di Universitas Indonesia dengan donasi mencapai Rp 50 miliar.

Baca Juga: Profil Low Tuck Kwong, Orang Terkaya Nomor Satu di RI

Profil Singkat PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

BYAN
(Foto fasilitas tambang Bayan. Sumber: Bayan.com)

PT Bayan Resources Tbk atau BYAN merupakan grup perusahaan yang didirikan oleh Low Tuck Kwong.

BYAN menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat di bawah kepemimpinan Low Tuck Kwong. Bayan Group dibentuk melalui akuisisi di sektor batubara greenfield.

Dalam beberapa tahun terakhir, proyek tabang/pakar telah berkembang dan mampu menghasilkan 1,9 juta ton batu bara pada tahun 2014 menjadi 22,7 juta ton pada tahun 2018.

Hal ini menjadikan Bayan Resources berada dalam 5 besar produsen batubara Indonesia.

Dikutip dari situs resminya, Bayan Group adalah inovator dalam industri pertambangan batubara di Indonesia.

Bayan Group adalah perusahaan pertambangan batubara pertama di Indonesia yang menggunakan peledakan melalui jahitan di tambang Wahana.

Bayan Group juga menggunakan metodologi penambangan dozer-push dan saat ini menggunakan beberapa truk pengangkut batubara terbesar di Indonesia.

Bayan Group memiliki beberapa fasilitas tambang batubara terkemuka di Indonesia melalui kepemilikannya atas Terminal Batubara Balikpapan, Dermaga Perkasa dan Wahana dan dua Floating Transfer Barges (KFT’s). 

Fasilitas tersebut antara lain kemampuan bongkar tongkang, timbun batubara dan beban kapal dengan kecepatan berkisar antara 3.000 hingga 8.000 ton per jam. 

Baca Juga: 13 Perusahaan Tambang Terbesar di Indonesia, Siapa Juaranya?

Itulah informasi seputar perkembangan saham BYAN dan kekayaan Low Tuck Kwong yang terus melesat.