Apa Itu Market Cap? Berikut Pengertian dan Jenisnya

Share this Post

market cap
Table of Contents

Market cap atau market capitalization merupakan kapitalisasi pasar yang digunakan untuk mengetahui berapa nilai perusahaan publik berdasarkan total nilai sahamnya.

Dikutip dari laman Indeed, market cap dapat dihitung dengan cara mengalikan saham perusahaan yang beredar dengan harga satu saham saat ini.

Nilai ini menentukan tingkat kapitalisasi pasar, dari nano-cap hingga mega-cap, yang biasanya berkorelasi dengan risiko investasi terkait perusahaan.

Jadi, perhitungan yang dilakukan bisa membantu para investor dalam membuat keputusan investasi. Dengan begitu, mereka bisa memeroleh pengembalian investasi dalam jumlah besar.

Lebih lanjut, berikut penjelasan seputar market cap yang perlu kamu ketahui. Barang kali bisa membantu proses investasi agar keuntunganmnya lebih optimal.

Baca Juga: Apa Itu IPO? Ini Penjelasan Lengkap dan Tips Investasinya!

Pengertian Market Cap

pengertian market cap
(Foto grafik pasar modal. Sumber: Unsplash.com)

Market cap atau kapitalisasi pasar adalah ukuran nilai entitas bisnis. Jadi, nilai suatu perusahaan publik dilihat dari total nilai sahamnya.

Melansir Investopedia, untuk menghitung kapitalisasi pasar sebuah perusahaan, kamu bisa coba kalikan jumlah saham beredar dengan nilai pasar saat ini dari satu saham.

Misalnya, sebuah perusahaan dengan 20 juta saham yang dijual seharga Rp50 ribu per saham akan memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp1 miliar.

Saham yang beredar ini mewakili berapa banyak saham yang dimiliki perusahaan di pasar publik pada waktu tertentu.

Sebuah perusahaan mengeluarkan saham di pasar keuangan selama penawaran umum perdana (IPO) atau penawaran sekunder, transaksi yang digunakan perusahaan untuk mengumpulkan uang di pasar modal.

Jika ada permintaan tinggi untuk saham sebuah perusahaan karena faktor yang menguntungkan, harganya akan naik. Sebaliknya, apabila potensi pertumbuhan perusahaan di masa depan tidak terlihat bagus, penjual saham dapat menurunkan harganya. Kapitalisasi pasar kemudian menjadi estimasi real-time dari nilai perusahaan.

Dengan mengetahui seberapa besar ukuran perusahaan, kamu bisa mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan tersebut kepada perusahaan lain dengan berbagai ukuran.

Dalam berinvestasi, perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang lebih besar seringkali merupakan investasi yang lebih aman karena mewakili perusahaan yang lebih mapan dengan sejarah bisnis yang umumnya lebih panjang.

Sementara itu, perusahaan yang lebih kecil atau seringkali perusahaan yang lebih muda, mungkin menawarkan lebih banyak penghargaan saat mereka tumbuh tetapi biasanya membawa risiko yang lebih berat.

Baca Juga: Angel Investor pada Bisnis Startup, Apa Itu?

Jenis Market Cap

tingkat atau jenis market cap
(Foto bangunan perusahaan. Sumber: Unsplash.com)

Secara tradisional, ada tiga tingkat kapitalisasi pasar yaitu kapitalisasi besar (large-cap), kapitalisasi menengah (middle-cap), dan kapitalisasi kecil (small-cap).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, mega-cap dan micro-cap telah ditambahkan ke atas dan bawah level ini untuk mencerminkan rentang ukuran perusahaan. Ada juga nano-cap yang mengacu pada “saham sen” dengan risiko tertinggi.

Level-level ini ditetapkan berdasarkan nilai kapitalisasi pasar. Setiap level memiliki rentang, meskipun rentangnya tidak distandarisasi dan dapat bervariasi dari satu sumber ke sumber lainnya.

Berikut tingkat market cap beserta penjelasannya yeng perlu kamu pahami:

1. Mega-cap

Mega capitalization merupakan level yang menggambarkan perusahaan terbesar. Perusahaan besar sering memiliki reputasi untuk memproduksi barang dan jasa berkualitas, sejarah pembayaran dividen yang konsisten, dengan tingkat pertumbuhan yang stabil.

Menurut Indeed, ini merupakan sebutan bagi perusahaan yang umumnya memiliki nilai pasar lebih dari $200 miliar dan seringkali merupakan pilihan paling konservatif bagi investor.

Sebagian besar perusahaan paling terkenal di dunia adalah perusahaan besar, dan ini biasanya adalah perusahaan yang telah memantapkan diri sebagai pemimpin dalam industri mereka.

Selain itu, perusahaan mega-cap biasanya merupakan perusahaan terkuat dan telah terbukti mampu menahan ancaman persaingan meski banyak siklus naik turun di industri.

Umumnya, perusahaan mega-cap akan memberikan pengembalian investasi yang rendah namun dilakukan secara konsisten kepada para investornya.

Akibatnya, investasi pada saham berkapitalisasi besar dapat dianggap lebih konservatif daripada investasi pada saham berkapitalisasi kecil atau menengah, yang berpotensi menimbulkan risiko yang lebih kecil dengan imbalan potensi pertumbuhan yang kurang agresif.

2. Large-cap

Large capitalization adalah perusahaan mapan yang beroperasi di industri yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pesat. Oleh karenanya, banyak terdiri dari perusahaan kelas menengah yang sedang dalam proses ekspansi.

Biasanya, perusahaan yang berada dalam tingkat large-cap memiliki kapitalisasi pasar antara $10 miliar dan $200 miliar.

Berinvestasi di perusahaan berkapitalisasi besar seperti ini seringkali merupakan pilihan yang aman karena mereka cukup bagus dalam memberikan jaminan keamanan dan konsistensi bagi investor.

Jadi walaupun memiliki risiko yang lebih tinggi daripada perusahaan mega-cap karena mereka belum benar-benar kuat di industri, tetapi perusahaan ini sangat menarik berkat potensi pertumbuhannya.

3. Mid-cap

Middle capitalization mengacu pada perusahaan dengan nilai pasar antara $2 miliar dan $10 miliar. Perusahaan dengan tingkat market cap ini memiliki posisi di tengah antara perusahaan besar dan perusahaan kecil.

Dikutip dari laman The Motley Fool, perusahaan kelas menengah sering kali telah membuat kemajuan besar dalam membangun model bisnis yang sukses.

Hal itu memberi investor mereka stabilitas dan perlindungan terhadap tantangan masa depan yang mungkin dihadapi oleh perusahaan kecil.

Biasanya, perusahaan ini dipilih oleh investor karena potensi pertumbuhannya cukup menjanjikan.  Tahap pertumbuhan ini kemungkinan akan menentukan apakah suatu perusahaan pada akhirnya akan mencapai potensi penuhnya atau justru sebaliknya.

Namun, tidak semua kapitalisasi menengah adalah saham pertumbuhan. Perusahaan mid-cap mungkin saja merupakan perusahaan yang beroperasi dengan fokus padar yang lebih kecil tanpa prospek pertumbuhan yang besar.

Bisa juga mereka mungkin mantan kapitalisasi besar yang telah menurun karena perubahan lanskap kompetitif atau adanya beberapa gangguan di industri.

Baca Juga: 5 Jenis Investasi yang Aman Saat Resesi, Bisa Dicoba Nih!

4. Small-cap

Small-cap merupakan tingkat kapitalisasi perusahaan dengan nilai kecil. Ini mengacu pada perusahaan dengan nilai pasar antara $300 juta dan $2 miliar.

Perusahaan-perusahaan ini umumnya jauh lebih muda daripada yang berada di level yang lebih tinggi, sehingga dianggap paling agresif dan berisiko.

Sumber daya perusahaan kecil yang relatif terbatas berpotensi membuat mereka lebih rentan terhadap penurunan bisnis atau ekonomi. Mereka mungkin juga rentan terhadap persaingan yang ketat dan karakteristik ketidakpastian dari pasar yang belum dicoba dan berkembang.

Berinvestasi di perusahaan kapitalisasi kecil memang berisiko, tetapi imbalannya bisa tinggi seiring pertumbuhan perusahaan dan peningkatan nilai keseluruhan.

Namun, kamu perlu melakukan penelitian yang cukup panjang sebelum benar-benar memutuskan untuk berinvestasi.

5. Micro-cap

Micro-cap umumnya memiliki nilai pasar antara $50 juta dan $300 juta dan menawarkan risiko dan keuntungan yang sama dengan perusahaan small-cap.

Seringkali, sektor keuangan tidak akan membedakan antara kapitalisasi mikro dan kapitalisasi kecil dan sebagai gantinya akan memasukkan semua perusahaan di dua level ini dalam kapitalisasi kecil.

Mereka umumnya adalah saham pertumbuhan atau pemula yang baru saja berdiri dan ingin melakukan sesuatu yang besar.

Saham berkapitalisasi kecil biasanya akan lebih fluktuatif daripada saham berkapitalisasi besar, yang berarti ada lebih banyak risiko kerugian dalam jangka pendek.

6. Nano-cap

Nano-cap merupakan tingkat market cap dengan nilai pasar kurang dari $50 juta. Umumnya, perusahaan seperti ini memiliki tingkat risiko investasi yang tinggi.

Namun, perusahaan nano-cap justru semakin populer akhir-akhir ini karena cukup banyak investor yang merasa optimis sehingga mau mengalokasikan dananya.

Baca Juga: Green Investment, Wujud Kontribusi Pemuda Untuk Lingkungan

Faktor yang Memengaruhi Market Cap

faktor yang memengaruhi market cap
(Foto grafik saham. Sumber: Unsplash.com)

Mengutip laman Smart Capital Mind, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kapitalisasi pasar (market cap).

Faktor tersebut antara lain perubahan tajam nilai saham, baik ke atas maupun ke bawah, di samping perubahan jumlah saham yang diterbitkan.

Jika ada permintaan tinggi dalam suatu saham, kapitalisasi pasar kemungkinan akan bergerak lebih tinggi, sementara permintaan yang lebih lemah akan merusak nilai perusahaan.

Selain perubahan nilai saham, adanya perubahan jumlah saham yang diterbitkan juga bisa memengaruhi market cap.

Setiap pelaksanaan waran atas saham perusahaan akan meningkatkan jumlah saham yang beredar, sehingga melemahkan nilai yang ada.

Mengingat pelaksanaan waran biasanya dilakukan di bawah harga pasar saham, hal itu berpotensi berdampak pada kapitalisasi pasar perusahaan.

Meskipun begitu, kapitalisasi pasar biasanya tidak berubah sebagai akibat dari pemecahan saham atau dividen. Setelah split, harga saham akan turun karena jumlah saham yang beredar bertambah.

Misalnya, dalam pembagian 2-untuk-1, harga saham akan dibagi dua. Meskipun jumlah saham beredar dan harga saham berubah, kapitalisasi pasar perusahaan tetap konstan.

Hal yang sama berlaku untuk dividen. Jika sebuah perusahaan mengeluarkan dividen sehingga meningkatkan jumlah saham yang dimiliki, harga saham pun biasanya ikut turun.

Baca Juga: Lebih Untung Mana, Bisnis Trading atau Investasi?

Pentingnya Market Cap

manfaat market cap
(Foto proses analisis investasi. Sumber: Unsplash.com)

Lantas, apa gunanya perhitungan dan pengetahuan market cap? Ini bisa menjadi cara analisis yang bagus untuk kamu sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Para investor bisa mengetahui tingkat risiko investasi pada sebuah perusahaan. Sebab, analisis market cap dapat memberikan gambaran nilai perusahaan yang terbagi menjadi perusahaan besar dan kecil dalam beberapa tingkatan.

Perbedaan kapitalisasi pasar juga umunnya menciptakan perbedaan risiko yang terkait dengan saham perusahaan tertentu.

Sebagian besar investor memilih untuk mendiversifikasi portofolio mereka dengan memilih saham dari perusahaan berkapitalisasi besar, menengah, dan kecil. Ini memungkinkan investor untuk mengambil beberapa risiko, tetapi menyeimbangkan risiko itu dengan saham yang stabil, jika pengembaliannya rendah.

Pasalnya, perusahaan besar cenderung memiliki bisnis yang lebih stabil dan matang, telah membuktikan diri dari waktu ke waktu dan melewati kondisi bisnis yang sulit untuk muncul lebih kuat.

Namun, prospek pertumbuhan untuk perusahaan besar dapat dibatasi karena mereka telah memanfaatkan peluang utama mereka untuk tumbuh ke ukuran mereka saat ini.

Sementara perusahaan yang lebih kecil seringkali memiliki lebih banyak ruang untuk tumbuh, tetapi mereka biasanya lebih muda, dengan model bisnis yang lebih berisiko yang belum membuktikan diri. Peluang kegagalan mereka bisa lebih tinggi daripada perusahaan besar, sehingga menghadirkan risiko tambahan bagi investor.

Selain bagi investor, market cap juga berguna bagi para profesional yang bekerja di sektor keuangan seperti analis ekuitas, analis keuangan, akuntan, analis investasi, atau analis perdagangan.

Baca Juga: Menggunakan Robot Trading Untuk Investasi, Amankah?

Itu dia penjelasan seputar market cap yang perlu kamu ketahui. Semoga informasinya bermanfaat, ya.