“Terror” Hacker Bjorka di Tanah Air, Apa Motifnya?

Share this Post

hacker bjorka
Table of Contents
shopee pilih lokal

Nama Bjorka akhir-akhir ini banyak menjadi perbincangan publik.

Ia merupakan sosok hacker yang telah berulang kali melakukan peretasan data masyarakat hingga pemerintah Indonesia.

Beberapa data hasil peretasan Bjorka, yaitu data PLN, 1,3 miliar data registrasi SIM card, 105 juta data pemilih, hingga data-data pribadi para petinggi negara Indonesia, seperti Menkomarves Luhut Pandjaitan, Menkominfo Johnny G.Plate, dan Menko Polhukam Mahfud MD.

Tak hanya sampai di situ, Bjorka juga mengancam akan melakukan peretasan data-data penting lainnya. Tentu saja, hal ini menciptakan kekhawatiran masyarakat Tanah Air.

Sebab, 2 juta data sampel dari 1,3 miliar data pribadi pengguna SIM card yang berhasil ia peroleh sebelumnya sukses terjual seharga lebih dari $50.000.

Apabila tak segera ditangani, akan ada banyak data pribadi lainnya milih masyarakat yang diretas dan diperdagangkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab seperti Bjorka.

Selain berharap pada pemerintah untuk melakukan tindak tegas terhadap hacker, kamu sebagai masyarakat juga harus pintar menjaga keamanan data pribadi.

Lantas, apakah motif Bjorka melakukan peretasan data-data penting milik masyarakat dan pemerintah? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Duh! 1,3 Miliar Data SIM Card Bocor dan Dijual di Dark Web

Motif Peretasan yang Dilakukan Bjorka

motif hacker bjorka
(Foto profil media sosial Bjorka. Sumber: CNBC Indonesia)

Jika ditelisik lebih lanjut, ada beberapa motif Bjorka melakukan peretasan data masyarakat Indonesia.

Salah satu motif hacker yang diduga asal Polandia tersebut adalah ekonomi.

Sebab, data registrasi SIM card yang berhasil ia curi dijual ke laman breached.to dengan nilai mencapai Rp700 jutaan.

Transaksi sampel data pribadi masyarakat Tanah Air itu dilakukan menggunakan pembayaran mata uang kripto.

Adapun sampel data registrasi SIM card yang dijual berisi Nomor Induk Kependudukan (NIK), nomor telepon, nama penyedia layanan atau provider, dan tanggal pendaftaran.

Bjorka kemudian meneruskan aksinya dengan meretas data-data penting lainnya milik masyarakat Indonesia, bahkan membocorkan informasi pribadi milik beberapa pemangku kepentingan negara.

Mengutip CNBC Indonesia, Bjorka mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang terlalu lama dijalankan secara sewenang-wenang dan tanpa perlawanan.

Ia juga menilai ada banyak kesalahan yang dilakukan oleh pihak pemerintah.

Tidak hanya itu, Bjorka juga ingin membuktikan bahwa keamanan data di Indonesia sangatlah rendah. Ia menunjukkan bahwa peretasan data sangat mudah untuk dilakukan.

Jadi, kebijakan pemerintah Indonesia atas perlindungan data dinilai sangat buruk.

Selain itu, diduga Bjorka memiliki motif politik hingga disebut sebagai hacktivist. Hacktivist merupakan hacker atau peretas yang menyuarakan aspirasi rakyat.

Hal ini karena Bjorka beberapa kali menyinggung persoalan di Tanah Air. Misalnya ketika ia membocorkan tersangka kasus pembunuhan Munir tahun 2004.

Dari laman media sosial pribadinya di Twitter, Bjorka juga sedikit menyinggung kasus Ferdy Sambo yang tengah berjalan saat ini.

Hingga saat ini, motif hacker tersebut belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, keberadaannya perlu diwaspadai.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu CAPTCHA dan Fungsinya dalam Sebuah Situs

Sebarkan Ancaman Peretasan Data Penting Lainnya

bjorka ancam meretas data pertamina dan surat presiden
(Foto ilustrasi hacker. Sumber: Unsplash.com)

“Terror” Bjorka di Indonesia masih berlangsung sampai sekarang, hacker tersebut bahkan terus mengancam ingin melakukan peretasan data penting lainnya.

Ia mengungkapkan, ingin membocorkan data milik MyPertamina. Hal itu disampaikan Bjorka melalui akun Telegram usai media sosial Twitter miliknya di­suspend oleh pemerintah.

Tak tanggung-tanggung, Bjorka juga mengancam akan menyebarkan data milik Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Melansir Kompas, data yang diretas berisi dokumen surat-menyurat yang diduga milik Jokowi. Dengan rentang waktu 2019-2021.

Dokumen tersebut termasuk surat yang dikirim oleh Badan Intelijen Negara (BIN) berlabel “Rahasia”.

Bjorka menjelaskan bahwa pihaknya telah mengunggah total 679.180 dokumen berukuran 40 Mega Byte dalam bentuk data terkompres.

Sejumlah contoh dokumen juga dicantumkan dalam unggahan yang diberi judul, antara lain: “Permohonan Dukungan Sarana dan Prasarana”, “Surat Rahasia kepada Presiden dalam amplop tertutup” dan “Gladi Bersih dan Pelaksanaan Upacara Bendera pada Peringatan HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan RI Tahun 2019”.

Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono mengatakan bahwa, tidak ada isi surat apapun yang terkena peretasan. Meski demikian, hal tersebut telah melanggar hukum.

Sementara pihak BIN menepis kabar kebocoran surat-surat penting milik pemerintah.

Juru Bicara BIN Wawan Hari Purwanto menyatakan, dokumen BIN aman karena telah terenkripsi secara berlapis dan seluruh dokumennya memiliki nama samara.

Baca Juga: Security Awareness Rendah, Data Pelanggan Rawan Diretas!

Pemerintah Buat Tim Khusus Lawan Bjorka

"Terror" Hacker Bjorka di Tanah Air, Apa Motifnya?
(Foto tampilan situs web. Sumber: Unsplash.com)

Mengingat serangan peretasan data yang dilakukan hacker belum mereda, bahkan Bjorka menantang pemerintah untuk menemukannya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pun membentuk tim khusus sebagai bentuk perlawanan.

Dikutip dari Katadata, tim akan dibentuk dengan menggandeng sejumlah kementerian/lembaga, yaitu Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN).

Kemudian, ada Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri yang akan bergabung dalam tim untuk melakukan asesmen.

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian mengatakan, satgas baru tersebut dibentuk untuk menyakinkan sistem elektronik di masing-masing kementerian lembaga berjalan dengan baik.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate pun mengungkapkan bahwa tim itu dibentuk untuk menjaga kepercayaan publik.

Ia juga menambahkan bahwa, data yang diretas bukanlah data-data terkini. Jadi, data yang diretas merupakan data umum, bukan data spesifik.

Meski demikian, pemerintah telah berkoordinasi dengan berbagai lembaga terkait kebocoran data tersebut.

Baca Juga: Apa Itu HTTPS? Pahami Fungsinya agar Toko Online Aman dari Peretas

Cara Melindungi Data dari Hacker

cara melindungi data dari hacker
(Foto ilustrasi keamanan data cyber. Sumber: Unsplash.com)

Sebagai tindak pencegahan, kamu juga perlu memahami cara melindungi data dari serangan hacker.

Ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk meminimalisir peretasan data oleh hacker, di antaranya:

1. Ganti Kata Sandi/Password secara Berkala

Kamu bisa mencegah kebocoran data pribadi, dengan rutin mengganti kata sandi atau password setiap media sosial yang dimiliki.

Selain itu, pastikan kata sandi yang digunakan tidak mudah untuk ditebak. Jadi, hindari menggunakan nama atau tanggal lahir sebagai kata sandi.

Sebaiknya, kata sandi terdiri dari gabungan nomor, karakter, dan huruf kapital yang tidak mudah untuk ditebak.

2. Jangan Asal Klik Sembarang Link

Bentuk pencegahan kebocoran data lainnya yang dapat kamu lakukan, yaitu bersikap hati-hati saat menggunakan internet.

Usahakan untuk tidak mengeklik sembarang link, apalagi jika sudah terlihat mencurigakan.

Bisa jadi, tautan tersebut merupakan phising yang dapat mencuri informasi pribadi kamu. Jadi, bersikaplah waspada terhadap informasi apapun yang diterima.

Jangan langsung menerimanya mentah-mentah dan melakukan tindakan tanpa pikir panjang.

Lakukanlah cross check terlebih dahulu sebelum klik link di internet. Pastikan dahulu sumbernya aman atau tidak.

Baca Juga: 5 Cara Tingkatkan Keamanan Website Toko Online

3. Aktifkan Fitur Verifikasi Dua Langkah

Cara melindungi data dari hacker selanjutnya, yakni dengan mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah.

Biasanya, setiap media sosial telah dilengkapi dengan fitur keamanan tambahan seperti ini. Dengan begitu, kamu bisa terhindar dari tindak kejahatan cyber.

Setelah fitur verifikasi dua langkah diaktifkan, biasanya kamu akan diminta untuk memasukkan enam digit PIN ketika melakukan login akun di perangkat lain. Jadi, lebih aman.

4. Hindari Menyebarkan Informasi Pribadi pada Orang Lain

Selain dengan cara-cara di atas, kamu juga dapat melindungi data pribadi dengan tidak membagikan informasi penting kepada orang lain.

Jadi, jangan sembarangan dalam membagikan informasi pribadi, ya. Sebab, hal tersebut bisa menjadi celah bagi orang tak bertanggungjawab.

Bisa saja data kamu disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak kamu lakukan dan merugikan diri sendiri.

Yuk, lebih waspada dengan keamanan digital dengan menjaga data dimulai dari milik pribadi.

Belanja Harga Murah + Gratis Ongkir + Cashback

X